Hadapi Variasi Ukuran Produk Tekstil, Mahasiswa UPER Rancang Alat Bantu Quality Control


Kamis, 27 Agustus 2026 - 20:04:15 WIB
Hadapi Variasi Ukuran Produk Tekstil, Mahasiswa UPER Rancang Alat Bantu Quality Control

Dokumentasi mahasiswa Program Studi Teknik Logistik Universitas Pertamina (UPER) bersama tim dalam pelaksanaan program PF SESAMA (Seragam Sekolah Pertamina untuk Semua). | Foto : dok 

RIAUIN.COM– Menghadapi ribuan seragam dengan ukuran dan spesifikasi yang beragam, mahasiswa Program Studi Teknik Logistik Universitas Pertamina (UPER) merancang alat bantu pengukuran untuk mempercepat proses quality control sekaligus memastikan kesesuaian produk dengan standar. Alat tersebut memungkinkan pemeriksaan ukuran dilakukan lebih praktis dengan hanya membentangkan seragam pada alat ukur yang telah dirancang.

Inovasi itu dikembangkan Muhammad Fajar Ikhlas dan Daven Trihasanaki Dersa saat terlibat dalam program PF SESAMA yang menangani proses quality control, pengemasan, hingga pengiriman 6.888 paket bantuan seragam dan perlengkapan sekolah bagi siswa jenjang SD dan SMP atau sederajat ke berbagai daerah di Indonesia.

“Ide ini muncul ketika kami terlibat dalam program PF SESAMA. Jumlah seragam yang harus diperiksa cukup banyak dengan ukuran dan spesifikasi yang beragam, sehingga proses pengukuran harus dilakukan berulang. Dari situ, kami mencoba membuat alat sederhana yang dapat membantu pengecekan menjadi lebih cepat dan tetap sesuai standar,” ujar Fajar.

Dalam program tersebut, proses distribusi turut menjangkau wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Kondisi tersebut membuat ketepatan pengelolaan logistik menjadi penting karena proses pengiriman harus mempertimbangkan jarak dan aksesibilitas wilayah tujuan.

Alat bantu yang dikembangkan Fajar dan Daven kemudian digunakan dalam proses quality control di UPER. Alat serupa juga diberikan kepada vendor untuk membantu mengidentifikasi ketidaksesuaian ukuran sebelum produk dikirim ke UPER.

Penggunaan alat dengan acuan pengukuran yang sama membuat proses pengecekan di tingkat vendor maupun tim quality control UPER menjadi lebih konsisten. Potensi kesalahan ukuran dapat diketahui lebih awal sehingga produk yang tidak sesuai standar dapat ditangani sebelum masuk ke tahap pengiriman.

“Kami mencoba membuat tools yang tidak hanya mempercepat pengukuran, tetapi juga memberikan acuan yang sama bagi setiap orang yang melakukan pengecekan. Dengan begitu, penentuan kesesuaian ukuran tidak hanya bergantung pada cara masing-masing pemeriksa,” kata Daven.

Dosen Teknik Logistik UPER sekaligus pembimbing pengembangan alat, Adji Candra Kurniawan, Iwan Sukarno dan Yelita Anggiane Iskandar, bersama laboran Nanda Ruswandi, menilai alat tersebut membantu menyederhanakan proses pemeriksaan ribuan seragam dengan spesifikasi yang beragam.

“Alat ini membantu mempercepat proses pengukuran. Seragam cukup dibentangkan untuk mengetahui kesesuaian ukuran dan melihat sejauh mana deviasinya dari standar. Kami juga memberikannya kepada vendor agar potensi kesalahan dapat diminimalkan sejak awal,” ujar Yelita.

Kebutuhan terhadap proses quality control yang efisien sejalan dengan pertumbuhan industri tekstil dan pakaian jadi Indonesia yang tercatat tumbuh 5,39 persen pada periode 2024–2025. Pada 2024, investasi industri tekstil, pakaian jadi dan alas kaki juga meningkat 31,1 persen menjadi Rp39,21 triliun.

United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) mencatat penggunaan instrumen pengujian yang tepat dapat mendukung peningkatan kualitas dan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi.

Rektor Universitas Pertamina Prof Dr Ir Ichsan Setya Putra mengatakan pengalaman menyelesaikan persoalan nyata menjadi bagian penting dalam pembelajaran mahasiswa Teknik Logistik UPER.

“Logistik saat ini tidak hanya berbicara tentang bagaimana barang berpindah dari satu titik ke titik lain, tetapi bagaimana rantai pasok dikelola secara efisien, adaptif dan berkelanjutan. Karena itu, mahasiswa Teknik Logistik UPER kami bekali dengan pembelajaran yang dekat dengan persoalan nyata, mulai dari rantai pasok global, logistik energi berkelanjutan, hingga logistik maritim,” ujar Prof. Ichsan.

Menurutnya, pengalaman tersebut penting agar mahasiswa mampu menerapkan keilmuan yang dimiliki untuk menghasilkan solusi yang relevan bagi kebutuhan industri dan masyarakat. -rls