RIAUIN.COM - Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Riau menggelar patroli udara guna mengecek langsung sebaran titik panas (hotspot) yang terkonsentrasi di tiga kabupaten, Rabu (12/8/2026). Langkah mitigasi ini diambil setelah data mencatat 101 dari total 123 hotspot di Riau berpusat di Indragiri Hulu, Siak, dan Indragiri Hilir.
Patroli udara tersebut diikuti oleh Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan, Plt Gubernur Riau SF Hariyanto, Kajati Riau I Dewa Gede Wirajana, Kepala BPBD Riau M. Edy Afrizal, serta Kapoksahli Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Brigjen TNI Muhammad Yahya.
Berdasarkan pemetaan sementara Posko Karhutla Polda Riau, Kabupaten Indragiri Hulu menjadi penyumbang terbanyak dengan 42 titik, disusul Kabupaten Siak 34 titik, dan Kabupaten Indragiri Hilir 25 titik. Gabungan ketiga wilayah ini menyumbang sekitar 82 persen dari seluruh hotspot yang terdeteksi di Riau pada petang hari. Sebagian hotspot lainnya tersebar di Pelalawan, Kampar, Kuantan Singingi, Kepulauan Meranti, Bengkalis, dan Dumai.
Secara keseluruhan, dari 123 titik panas yang terdeteksi satelit petang ini, sebanyak 119 titik masuk kategori kerawanan sedang, tiga titik kategori rendah, dan satu titik berada di kategori tinggi. Angka ini melonjak dibanding kondisi pagi hari yang hanya tercatat 23 titik.
Guna memastikan kondisi riil di lapangan, Kapolda Riau menginstruksikan seluruh personel jajaran untuk langsung bergerak melakukan pengecekan darat (ground check) ke lokasi koordinat.
"Lonjakan hotspot harus segera direspons. Kita tidak boleh menunggu api membesar. Setiap titik harus diverifikasi dan jika ditemukan api aktif, segera lakukan pemadaman," ujar Irjen Herry Heryawan.
Verifikasi darat ini dinilai krusial untuk membedakan apakah koordinat tersebut merupakan kebakaran api aktif atau sekadar anomali suhu yang ditangkap satelit.
Di sisi lain, Kepala BPBD Riau M. Edy Afrizal menegaskan bahwa pantauan udara sangat penting untuk menentukan skala prioritas pemadaman dan pengerahan armada.
"Patroli udara ini memastikan kita tidak hanya bergantung pada data satelit, tetapi bisa melihat langsung kondisi medan. Dari situ kita tentukan titik mana yang jadi prioritas utama penanganan serta mengukur kesiapan personel dan peralatan di lapangan," tutur M. Edy Afrizal.
Kecepatan respon deteksi dini dan verifikasi lapangan diharapkan dapat mencegah titik-titik panas tersebut meluas menjadi kebakaran hutan dan lahan yang sulit dikendalikan. (*)