Ilustrasi
RIAUIN.COM - Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Pekanbaru mencatat lonjakan signifikan permintaan bantuan darurat dari warga sepanjang pertengahan tahun ini. Bantuan tersebut didominasi oleh operasi penyelamatan non-kebakaran yang mengancam keselamatan maupun mengganggu aktivitas masyarakat.
Satu di antaranya yakni ancaman teror satwa liar di kawasan pemukiman penduduk di Ibu Kota Provinsi Riau ini.
Kepala DPKP Kota Pekanbaru Zarman Candra mengungkapkan, tim reskue telah melakukan puluhan kali operasi pengamanan reptil berbahaya yang menyusup ke kawasan hunian. Jenis satwa yang diamankan bervariasi, mulai dari piton hingga ular kobra yang memiliki bisa mematikan.
"Masyarakat kita imbau tidak memindahkan atau menagkap ular sendiri ketika masuk ke rumah. Penanganannya sangat berisiko. Segera kontak petugas kami supaya bisa ditangani dengan aman dan sesuai prosedur," kata Zarman Candra, Kamis (6/8/2026).
Selain teror ular, ancaman satwa lain yang acap kali meresahkan warga Pekanbaru adalah kemunculan biawak di area dapur hingga pekarangan. Hingga saat ini, petugas mencatat sedikitnya 23 kali penanganan evakuasi biawak di lokasi terpisah.
Zarman menjelaskan, fungsi penyelamatan yang diemban DPKP tidak semata-mata berfokus pada pemadaman api, melainkan mencakup beragam kondisi darurat lingkungan masyarakat. Petugas rutin merespons aduan serangan koloni tawon, lebah, musang, hingga evakuasi peliharaan seperti anjing dan kucing yang terjebak.
Bahkan, tim reskue sering diterjunkan untuk mengatasi masalah unik warga perkotaan yang memerlukan peralatan khusus.
"Tim kami tidak jarang membantu penanganan darurat non-kebakaran yang cukup beragam. Mulai dari melepaskan cincin yang tersangkut, membukakan kunci gembok atau pintu rumah yang terkunci, mengambil ponsel warga yang tercebur ke parit, sampai mengevakuasi sepatu yang menyangkut di atas balkon," ujar Zarman.
Tak berhenti di situ, sarana pendaratan dan evakuasi kendaraan juga siap diturunkan jika ada mobil warga yang terperosok ke selokan atau terjebak di medan sulit.
Berdasarkan pemetaan DPKP, maraknya interaksi negatif antara satwa liar dan manusia di Pekanbaru dipicu oleh banyaknya area hunian yang berbatasan langsung dengan lahan kosong, semak belukar, serta bekas rawa yang menjadi habitat alami reptil. Momen perubahan cuaca di pertengahan tahun memicu satwa melata keluar dari sarang untuk mencari tempat yang lebih hangat dan sumber makanan.
DPKP Pekanbaru meminta warga tetap tenang dan tidak bertindak ceroboh saat mendapati satwa berbahaya di dalam rumah. Layanan darurat reskue dipastikan beroperasi untuk merespons aduan masyarakat selama 24 jam. (Bil)