Otopsi Jenazah Pelajar di Pekanbaru, Polisi Usut Dugaan Penganiayaan Sesama Siswa


Kamis, 06 Agustus 2026 - 14:54:12 WIB
Otopsi Jenazah Pelajar di Pekanbaru, Polisi Usut Dugaan Penganiayaan Sesama Siswa

RIAUIN.COM - Aparat Kepolisian Daerah Riau membongkar makam Muhammad Fahri (14), seorang pelajar menengah di Kota Pekanbaru, Kamis (6/8/2026). Langkah hukum ini ditempuh untuk memverifikasi secara medis dugaan kekerasan fisik yang memicu kematian korban usai terlibat duel dengan rekannya sesama pelajar.

Proses ekshumasi yang berlangsung di pemakaman umum setempat melibatkan tim dokter forensik Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Riau. Pembongkaran makam ini dipicu oleh kecurigaan pihak keluarga atas kondisi fisik korban sebelum mengembuskan napas terakhir.

Kepala Subdirektorat IV Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Riau AKBP Abdullah Hariri menyatakan bahwa tindakan otopsi ini menjadi langkah krusial untuk mengumpulkan bukti ilmiah terkait trauma fisik pada tubuh korban.

"Kegiatan ekshumasi dan otopsi ini kami lakukan untuk memastikan penyebab pasti kematian almarhum Fahri berdasarkan hasil pemeriksaan medis forensik," ujar AKBP Abdullah Hariri di Pekanbaru, Kamis.

Insiden perkelahian itu diperkirakan terjadi pada Minggu (12/7/2026). Setelah peristiwa tersebut, kesehatan korban terus merosot hingga harus mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Aulia Pekanbaru. Korban akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Selasa (14/7/2026).

Sebelum wafat, korban sempat mengeluhkan rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya kepada pihak keluarga. Gejala klinis memburuk saat keluarga mendapati perubahan warna urine korban menjadi hitam, yang menandakan indikasi trauma organ dalam atau cedera berat.

Hasil pemindaian CT scan di rumah sakit sebelum korban meninggal memperlihatkan adanya indikasi kuat berupa memar serius pada area kepala serta kerusakan struktur di bagian leher.

"Dari hasil pemeriksaan medis awal di rumah sakit, memang terkonfirmasi ada trauma berupa cedera pada bagian kepala dan leher korban," kata AKBP Abdullah Hariri.

Hingga saat ini, penyidik belum menetapkan satu pun tersangka dalam perkara ini. Kepolisian masih mengumpulkan keterangan dari sejumlah pihak dan menantikan dokumen resmi hasil otopsi dari tim dokter forensik.

Dua orang saksi dari pelapor, yakni kakak kandung dan abang ipar korban, telah dimintai keterangan resmi. Selain itu, polisi sudah mengantongi identitas terduga pelaku berinisial B yang diketahui masih berstatus anak di bawah umur, serta seorang saksi kunci yang berada di lokasi saat peristiwa terjadi.

"Kami masih menjalankan serangkaian penyelidikan dan belum menetapkan tersangka. Identitas terduga pelaku serta saksi kunci sudah kami kantongi dan akan dimintai keterangan pekan depan," tutur AKBP Abdullah Hariri.

Berdasarkan keterangan awal yang dihimpun dari pengakuan korban sebelum meninggal, polisi menduga peristiwa tersebut murni perkelahian satu lawan satu, bukan aksi pengeroyokan secara bersama-sama. Namun, motif di balik pertikaian antar-pelajar tersebut masih didalami oleh tim penyidik. (*)