Kabar Duka Konservasi Riau, Gajah Jovi Mati Setelah 34 Hari Perawatan Medis


Selasa, 04 Agustus 2026 - 12:00:43 WIB
Kabar Duka Konservasi Riau, Gajah Jovi Mati Setelah 34 Hari Perawatan Medis

RIAUIN.COM - Upaya penanganan konflik antara manusia dan satwa liar di Provinsi Riau kehilangan salah satu benteng utamanya. Gajah jantan binaan bernama Jovi (46) dinyatakan mati di Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak, Senin (3/8/2026) pukul 20.47 WIB, usai bertarung melawan sakit selama 34 hari.

Matinya gajah yang dievakuasi dari Kabupaten Indragiri Hulu sejak 1998 tersebut menjadi duka mendalam bagi dunia konservasi. Selama lebih dari dua dekade, Jovi menjadi garda terdepan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau dalam meredam gesekan habitat gajah sumatera dengan pemukiman warga di berbagai wilayah Riau.

Kepala BBKSDA Riau Ujang Holisudin mengonfirmasi bahwa satwa mahkota tersebut mengembuskan napas terakhir setelah tim medis melakukan perawatan intensif sejak awal Juli.

"Gejala sakit mulai terdeteksi sejak 1 Juli 2026. Gajah Jovi mengalami penurunan kondisi fisik secara umum, hilang nafsu makan, kejang, hingga mengalami kelumpuhan pada belalai, kaki, dan ekor," ujar Ujang dalam keterangan resminya di Pekanbaru, Selasa (4/8/2026).

Penyebab kematian diduga akibat komplikasi infeksi saluran pencernaan serta pernapasan atas yang memicu miopati berat atau kerusakan jaringan otot. Kondisi tersebut membuat gajah seberat beberapa ton itu tidak mampu menopang tubuhnya sendiri.

Koordinator Tim Medis BBKSDA Riau drh Rini Deswita menjelaskan, penanganan medis sebenarnya sempat memberikan respons positif pada pekan pertama perawatan.

"Pada hari keenam, kekakuan otot sempat berkurang dan gajah berupaya berdiri serta berjalan beberapa langkah. Hasil uji laboratorium berkala juga menunjukkan grafik penurunan infeksi," tutur drh Rini Deswita.

Namun, memasuki awal Agustus, kondisi fisik Jovi kembali merosot tajam. Pada Minggu (2/8/2026), gajah tersebut menolak pakan dan asupan air. Suhu tubuhnya melonjak hingga 40 derajat celsius pada Senin sore, hingga akhirnya mengalami tremor hebat sebelum detak jantungnya terhenti.

Guna memastikan penyebab pasti kematian secara ilmiah, tim dokter hewan langsung melakukan tindakan nekropsi serta mengambil sampel jaringan organ untuk diuji di laboratorium. Usai pembedahan bangkai selesai, jasad Gajah Jovi langsung dimakamkan di area PLG Minas sesuai standar operasional prosedur penanganan satwa lindung. (Bil)