Kesehatan Mental dan Neurodivergen: Tantangan Sebenarnya Bukan Sekadar Stigma


Kamis, 30 Juli 2026 - 08:42:58 WIB
Kesehatan Mental dan Neurodivergen: Tantangan Sebenarnya Bukan Sekadar Stigma

Gambar ilustrasi – AI

PERBINCANGAN mengenai kesehatan mental semakin mendapat perhatian di seluruh dunia dalam berbagai sektor. Banyak organisasi saat ini telah memperkenalkan kampanye kesadaran, program kesejahteraan pekerja, dan berbagai inisiatif untuk mendorong individu mendapatkan bantuan ketika diperlukan. Namun demikian, di balik peningkatan kesadaran ini, masih banyak yang memilih untuk menyembunyikan atau tidak mengungkapkan kondisi kesehatan mental atau status neurodivergen mereka kepada majikan dan rekan kerja. Mengapa hal ini masih terjadi?

Sebagian besar perbincangan umum sering menganggap stigma sebagai faktor utama yang berkontribusi terhadap hal ini. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa stigma memainkan peran yang penting. Hal ini karena individu yang mengalami depresi, kecemasan berlebihan, Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD), Gangguan Spektrum Autisme (ASD), atau kondisi neurodivergen lainnya sering khawatir mereka akan dilabel sebagai kurang kompeten, kurang produktif, atau sulit bekerja sama. Kekhawatiran ini menyebabkan banyak orang memilih untuk diam meskipun mereka membutuhkan dukungan. Namun, kenyataannya, isu ini jauh lebih kompleks daripada sekadar stigma.

Banyak individu sebenarnya tidak hanya takut terhadap pandangan orang lain, tetapi juga khawatir terhadap kemungkinan implikasi negatif yang akan terjadi pada mereka, seperti kehilangan kepercayaan dari majikan yang berpotensi berujung pada kehilangan karier. Selain itu, individu ini juga khawatir apabila kejujuran mereka akan berdampak terhadap peluang kenaikan pangkat, penilaian kinerja, dan keamanan psikologis. Dalam beberapa keadaan dan pandangan, pengungkapan mengenai kondisi kesehatan mental atau neurodivergen dianggap sebagai risiko yang mungkin membawa implikasi jangka panjang terhadap masa depan profesional mereka. Maka, di sini muncul satu pertanyaan yang lebih besar: apakah organisasi benar-benar menyediakan lingkungan yang aman bagi individu untuk tampil berbagi mengenai kondisi mereka?

Keamanan psikologis merujuk pada keyakinan seseorang bahwa mereka dapat bersuara, berbagi pandangan, atau mengungkapkan kondisi diri tanpa takut dihukum, dipinggirkan, atau menerima dampak negatif. Dalam konteks kesehatan mental dan neurodivergen, keamanan psikologis menjadi fondasi penting yang menentukan apakah seseorang merasa nyaman untuk mendapatkan bantuan atau terus menyembunyikan tantangan yang dihadapi. Meskipun banyak organisasi memiliki kebijakan terkait keselamatan dan kesejahteraan pekerja, keberadaan kebijakan semata-mata tidak cukup. Yang lebih penting adalah sejauh mana pekerja percaya bahwa kebijakan tersebut benar-benar akan dilaksanakan dan ditegakkan secara adil, atau sejauh mana komitmen majikan terhadap kebijakan organisasi mereka. Jika pekerja merasa bahwa perlindungan yang dijanjikan hanya ada di atas kertas, maka keyakinan mereka untuk tampil berbagi menjadi rendah.

Oleh karena itu, kepercayaan terhadap institusi juga memainkan peran yang besar. Ketika pekerja tidak yakin bahwa organisasi akan melindungi kerahasiaan mereka atau menangani informasi sensitif secara profesional, mereka lebih cenderung memilih jalan yang dianggap paling aman, yaitu tidak mengungkapkan apa pun. Keadaan ini akhirnya menciptakan anggapan bahwa "diam lebih baik daripada berbicara" yang menyulitkan organisasi mengidentifikasi kebutuhan nyata para pekerja mereka. Sementara itu, bagi individu neurodivergen, tantangan ini bisa menjadi lebih terasa. Banyak dari mereka memerlukan bantuan atau penyesuaian tertentu di tempat kerja untuk membantu mereka berfungsi dengan lebih efektif. Namun, untuk mendapatkan dukungan tersebut, mereka sering perlu mengungkapkan kondisi diri terlebih dahulu. Jika proses pengungkapan dianggap berisiko, mereka mungkin memilih untuk tidak meminta bantuan meskipun bantuan tersebut dapat meningkatkan kinerja kerja sekaligus kesejahteraan kesehatan mereka.

Oleh sebab itu, upaya membangun tempat kerja yang inklusif tidak boleh terbatas pada kampanye kesadaran semata. Organisasi perlu memperhatikan aspek kepercayaan (walk the talk), perlindungan, dan akuntabilitas. Perasaan yakin dan percaya di kalangan pekerja bahwa mereka tidak akan menerima perlakuan tidak adil atau dipandang sinis jika memilih untuk berbagi mengenai kondisi kesehatan mental atau neurodivergen mereka perlu tumbuh secara alami. Kepercayaan alami ini hanya akan dapat dirasakan apabila majikan senantiasa menunjukkan sikap dan kualitas yang berpegang pada janji. Sehubungan dengan itu, kesejahteraan pekerja tidak lagi dapat dilihat sebagai tanggung jawab individu semata, melainkan merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan komitmen organisasi untuk membangun budaya yang aman, adil, dan mendukung semua pekerja tanpa memandang latar belakang atau keunikan mereka.

Oleh karena itu, keberhasilan suatu organisasi tidak hanya diukur melalui kinerja atau keuntungan, tetapi juga melalui sejauh mana ia mampu menciptakan lingkungan yang memungkinkan setiap individu hadir sebagai diri mereka yang sebenarnya tanpa rasa takut dan cemas. Ketika pekerja merasa aman untuk bersuara dan mendapatkan dukungan, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh individu tersebut, tetapi juga turut berkontribusi pada organisasi yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan untuk jangka panjang. **

Dr Sharfika Raime merupakan dosen senior dari Asia Metropolitan University, Malaysia, dan Dr Aervina Misron dosen senior QUEST International University, Malaysia. Artikel ini merupakan pemahaman dan ideologi kedua penulis.