Surat Terbuka Hj. Arnida


Sabtu, 25 Juli 2026 - 17:31:55 WIB
Surat Terbuka Hj. Arnida

Hj. Arnida

 

Oleh: Hendrianto.

PAGI belum benar-benar terang. Kopi di cangkir saya bahkan masih mengepulkan asap tipis. Tiba-tiba ponsel di meja bergetar.

Satu pesan WhatsApp masuk. Panjang sekali.

Dari Kepri. Penulisnya Hj. Arnida Warnis. Beliau ini owner Batik Mustika Baserah. Asli anak Kuansing. Meski kini hidup di perantauan, hatinya tetap tertinggal di kampung halaman.

Saya baca perlahan. Ada rasa sesak yang langsung menjalar.

Pesan itu berisi jeritan batin seorang perantau yang gelisah melihat arah perjalanan daerahnya.

Arnida tidak sedang marah. Beliau sedang meratap. Meratap dengan cara yang paling sopan, tapi justru bikin dada makin nyeri.

Bayangkan. Dari jauh, lewat layar ponsel, beliau cuma bisa menonton kabar kampung sendiri. Dan kabarnya selalu membuat kita mengelus dada.

Hitung jari. Satu. Dua. Tiga. Empat.

Empat orang pemimpin daerah terperosok ke lubang yang sama: korupsi. Nauzubillah.

Bagi perantau seperti Arnida, itu bukan sekadar berita hukum di media sosial. Itu tamparan keras. Malu dan sedih bercampur aduk.

Kekuasaan itu memang licin. Saking licinnya, integritas sering terpeleset tanpa sadar. Orang yang tadinya kelihatan alim, begitu memegang pulpen anggaran, tangannya bisa mendadak gemetar lalu khilaf.

Arnida tidak mengajak kita mengutuk mereka. Beliau justru mengajak mendoakan agar yang terperosok mendapat petunjuk dan taubatnya diterima. Sungguh sebuah sikap yang bijak dan dewasa.

Beliau kemudian menawarkan satu resep. Resep sederhana yang lahir dari perenungan mendalam.
Resep itu: Sholawat.

Beliau ingin Kuansing menjadi "Negeri Bersholawat".

Ini bukan sekadar gagasan klise. Logika di baliknya sangat masuk akal.

Gerakan ini nol rupiah. Tanpa APBD, tanpa tender, dan tanpa komisi.

Bentuknya berupa pembiasaan rutin.
Di kantor dinas, setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya saat apel pagi, langsung dilanjutkan dengan bersholawat.

Di sekolah dan TPQ, sebelum membuka pelajaran, murid-murid diajak bersholawat. Di setiap acara resmi instansi maupun organisasi, sholawat menjadi bagian tak terpisahkan.

Tujuannya sangat jelas. Jika setiap pagi telinga dan hati disiram lantunan sholawat, akan tumbuh rasa takut yang alami di dalam dada. Orang jadi teringat pada Tuhan sebelum sempat berpikir untuk 'menyilap' anggaran proyek.

Yang membuat saya tertegun, ide ini ternyata bukan baru kemarin sore.

Empat tahun lalu, Arnida sudah menyampaikan gagasan ini ke salah satu Kepala OPD di Kuansing. Tembusannya bahkan sudah dikirimkan langsung ke Bupati yang menjabat saat itu.

Namun sayang, usulan tersebut menguap begitu saja. Masuk laci dan terlupakan. Kalah pamor dibanding pembicaraan proyek fisik berbiaya miliaran.

Padahal, deretan musibah yang datang bertubi-tubi itu menandakan kita perlu mengetuk pintu langit secara serentak.

Hari ini, tulisan Arnida sampai ke tangan saya. Tanggalnya tertulis jelas: Kepri, 23 Juli 2026.

Ada rasa lega yang beliau rasakan setelah akhirnya berhasil meluahkan isi hati yang terendam bertahun-tahun.

Kini saatnya para pemangku kebijakan di Kuansing mengambil langkah nyata. Menerbitkan Peraturan Daerah soal wajib bersholawat ini adalah bentuk ikhtiar terbaik agar daerah tercinta terhindar dari musibah yang berulang. (***)