RIAUIN.COM - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau mengintensifkan patroli serta pemantauan di Desa Mengkapan, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau. Langkah ini diambil guna mencegah terjadinya konflik berkepanjangan antara masyarakat setempat dengan satwa dilindungi Harimau Sumatera.
Pengetatan pengawasan tersebut dipicu oleh rentetan laporan warga yang kerap berpapasan langsung dengan mamalia pemangsa ini di sekitar areal perkebunan maupun akses jalan perlintasan.
Kepala Balai Besar KSDA Riau Supartono menjelaskan, jajarannya telah merespons cepat aduan warga terkait kemunculan satwa bergaris jingga-hitam tersebut untuk memastikan kondisi di lapangan tetap terkendali.
"Tim kami sudah bergerak ke lokasi untuk memverifikasi kronologi sekaligus berkoordinasi dengan perangkat desa setempat agar keselamatan warga terjaga," kata Supartono, Selasa (21/7/2026).
Potensi ancaman keselamatan warga terungkap dari peristiwa yang dialami seorang buruh kebun bernama Agus saat melintas di jalur perkebunan milik Ahmad Rokani. Ketika sedang mengangkut hasil panen sawit dengan sepeda motor, seekor Harimau Sumatera mendadak menerjang keranjang muatan di bagian belakang kendaraannya. Pengendara motor tersebut beruntung dapat langsung tancap gas dan meloloskan diri dari terkaman.
Selang beberapa hari kemudian, penampakan satwa berbobot besar ini kembali disaksikan oleh dua warga lokal, Amir dan Dodi, di area lintasan pipa minyak Kilometer 4 Desa Mengkapan. Harimau tersebut sempat melompat keluar dari parit mendekati badan jalan sebelum akhirnya kembali menghilang ke balik semak belakangan.
Meskipun satwa liar itu tidak menunjukkan perilaku agresif saat berpapasan dengan kendaraan Amir, intensitas kemunculannya di ruang aktivitas manusia terus membayangi kekhawatiran masyarakat.
Warga setempat, Gianto, mengungkapkan bahwa keberadaan si raja hutan di kawasan Mengkapan sebenarnya bukan barang baru. Namun, perubahan dinamika di lapangan menuntut kewaspadaan lebih dari biasanya.
Menanggapi situasi yang berkembang, BBKSDA Riau meminta seluruh elemen masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas seorang diri di area rawan, terutama menjelang petang hingga malam hari. Selain itu, warga diimbau untuk menggiatkan kembali siskamling serta segera melapor jika mendapati pergerakan satwa liar di sekitar permukiman.
"Kami mengimbau masyarakat agar tetap waspada, menghindari aktivitas seorang diri di kawasan yang diduga menjadi lintasan satwa liar, terutama pada sore hingga malam hari," ujar Supartono. (Bil)