RIAUIN.COM - Pemerintah Provinsi Riau bersiap memboyong hasil kajian proyek Jembatan Selat Malaka ke Kementerian Perhubungan RI di Jakarta. Langkah koordinasi tingkat pusat ini diambil setelah Kerajaan Negeri Melaka, Malaysia, merampungkan studi pra-kelayakan jalur penghubung lintas negara sepanjang Selat Malaka tersebut.
Rencana tindak lanjut ini mengemuka setelah perwakilan Pemerintah Riau menerima kunjungan delegasi Malaysia di Kantor Gubernur Riau, Pekanbaru, Jumat (17/7/2026). Dalam pertemuan itu, utusan Negeri Jiran memaparkan dokumen kajian teknis yang mengubungkan wilayah Telok Gong di Melaka dengan Kota Dumai di Riau.
Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Provinsi Riau Job Kurniawan menjelaskan, pemerintah daerah menyambut positif dokumen studi yang diserahkan oleh utusan Malaysia. Namun, pembangunan infrastruktur fisik skala internasional ini sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah pusat.
"Gagasan besar ini sangat mungkin diwujudkan, tetapi prosesnya membutuhkan waktu. Ke depan, Pemerintah Provinsi Riau akan memantau perkembangan pelabuhan RoRo di Melaka dan segera berkumpul kembali bersama Menteri Perhubungan RI," kata Job Kurniawan selepas pertemuan.
Pihak Melaka melaporkan bahwa studi pra-kelayakan jembatan raksasa ini memakan waktu selama 18 bulan, yang dimulai sejak 4 Desember 2024 dan resmi tuntas pada 3 Juni 2026. Selain jembatan, fokus jangka pendek kedua wilayah bertetangga ini adalah mengoptimalkan konektivitas kapal penyeberangan Roll-on/Roll-off (RoRo) Dumai-Melaka untuk memangkas biaya logistik.
Rencana konektivitas laut dan darat ini sebenarnya sudah dibahas kedua belah pihak selama 15 tahun terakhir. Bagi Riau, realisasi jalur penyeberangan RoRo Dumai-Melaka menjadi prioritas terdekat untuk mendongkraf sektor perdagangan komoditas lokal dan meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Sumatra melalui pintu gerbang pesisir Riau. (Bil)