Bengkalis dan Pelalawan Picu Lonjakan Kebakaran Lahan di Riau


Jumat, 17 Juli 2026 - 09:34:22 WIB
Bengkalis dan Pelalawan Picu Lonjakan Kebakaran Lahan di Riau

RIAUIN.COM - Lonjakan drastis kebakaran hutan dan lahan terjadi di Provinsi Riau sepanjang semester pertama tahun 2026. Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Pelalawan menjadi dua wilayah yang paling parah dilanda kebakaran, sekaligus menjadi pemicu utama meluasnya area terbakar di provinsi tersebut hingga mencapai belasan ribu hektare.

Berdasarkan analisis citra satelit yang dilakukan Kementerian Kehutanan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Kementerian Lingkungan Hidup, total area yang hangus terbakar di Riau dari 1 Januari hingga 30 Juni 2026 menembus 15.477,9 hektare. Kebakaran ini didominasi oleh lahan gambut yang mencapai 14.277,3 hektare, sedangkan sisanya seluas 1.250,7 hektare terjadi di lahan mineral.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto menjelaskan, data luasan tersebut disajikan secara berpasangan dengan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Langkah ini diambil demi menyusun bahan evaluasi yang komprehensif bagi seluruh pemangku kepentingan dalam memetakan kerawanan wilayah.

"Kembali lagi, ini bukan hanya masalah angka, tetapi harus menjadi perhatian dan pembelajaran penting agar semua pihak terus bahu-membahu mencegah karhutla terjadi dan menanggapi sedini mungkin terjadi di wilayahnya," kata Ferdian Krisnanto di Pekanbaru, Jumat (17/7/2026).

Situasi di Kabupaten Bengkalis menjadi yang paling mendapat sorotan. Wilayah ini mencatat rekor kebakaran terluas dengan menyumbang 8.239,5 hektare area terbakar. Angka ini melonjak sangat tajam jika dibandingkan dengan semester pertama tahun 2025 yang hanya membakar 48,3 hektare, ataupun tahun 2024 yang tercatat setinggi 214,7 hektare. Tren kenaikan di Bengkalis bahkan melampaui data tahun 2023 yang seluas 723,2 hektare, tahun 2022 dengan 256,8 hektare, dan tahun 2021 yang mencapai 2.235,8 hektare. Meski demikian, angka tahun ini masih berada di bawah catatan kelam semester pertama tahun 2019 yang menyentuh 10.410,9 hektare.

Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Pelalawan yang berada di posisi kedua terparah dengan luas kebakaran 4.582 hektare. Jumlah ini naik berlipat-lipat dari tahun 2025 yang hanya sebesar 647,8 hektare dan tahun 2024 yang mencapai 1.120,5 hektare. Peningkatan ini sangat kontras jika melihat data Pelalawan tahun 2023 yang berhasil ditekan hingga 10,3 hektare.

Penyebaran kebakaran juga terdeteksi di sejumlah kabupaten dan kota lain di Riau dengan skala yang bervariasi. Kabupaten Indragiri Hilir mencatat area terbakar seluas 956,6 hektare, disusul Kota Dumai dengan 607,1 hektare. Selanjutnya, kebakaran melanda Kabupaten Rokan Hilir setinggi 289,6 hektare, Kabupaten Siak seluas 281,1 hektare, serta Kabupaten Kepulauan Meranti sebesar 199,3 hektare. Sementara itu, wilayah Kabupaten Kuantan Singingi mencatat 103,1 hektare, disusul Kabupaten Kampar dengan 90,1 hektare, Kabupaten Indragiri Hulu setinggi 80,7 hektare, Kabupaten Rokan Hulu seluas 40,5 hektare, dan Kota Pekanbaru menjadi yang terkecil dengan luasan 8,4 hektare.

Secara kumulatif, total karhutla di Riau pada paruh pertama tahun 2026 ini mengalami lompatan yang sangat mencolok dibanding tahun 2025 yang kala itu hanya sebesar 907,8 hektare. Peningkatan ini juga melampaui akumulasi semester pertama dari tahun 2024 yang seluas 4.257,6 hektare, tahun 2023 sebesar 2.141,2 hektare, hingga tahun 2020 yang mencapai 14.643,9 hektare. Namun, tingkat keparahan ini secara total masih berada di bawah periode yang sama pada tahun 2019 yang menghanguskan hingga 28.214,6 hektare.

Menyikapi lonjakan angka ini, pihak otoritas mengingatkan agar seluruh tim satgas dan elemen masyarakat tidak mengendurkan kesiapsiagaan. Terlebih lagi, sebagian besar wilayah di Riau saat ini mulai bergerak memasuki puncak musim kemarau yang rawan memicu titik api baru.

"Yang terpenting bukan sekadar membandingkan besar kecilnya luasan kebakaran setiap tahun, tetapi bagaimana seluruh elemen dapat memperkuat patroli, deteksi dini, edukasi kepada masyarakat, serta merespons secepat mungkin apabila ditemukan titik api. Pencegahan tetap menjadi langkah yang paling efektif agar karhutla tidak berkembang menjadi lebih luas," tutur Ferdian. (Bil)