Bukan Lagi Bahan Baku Industri, Impor Riau Kini Bertumpu pada Barang Modal


Rabu, 15 Juli 2026 - 17:46:52 WIB
Bukan Lagi Bahan Baku Industri, Impor Riau Kini Bertumpu pada Barang Modal

RIAUIN.COM - Struktur impor Provinsi Riau mengalami pergeseran signifikan pada awal tahun ini. Masuknya investasi barang modal bernilai tinggi dari Prancis berupa pesawat terbang beserta komponennya kini mendominasi arus perdagangan internasional di Riau, menggeser ketergantungan hilir mudik komoditas bahan baku industri yang biasanya mendominasi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, akumulasi nilai impor daerah ini sepanjang Januari hingga Mei 2026 menembus angka 1,63 miliar dollar AS. Realisasi ini mencerminkan lonjakan tajam sebesar 140,76 persen jika dibandingkan dengan catatan pada periode yang sama tahun lalu.

Kepala BPS Provinsi Riau Asep Riyadi menjelaskan bahwa struktur impor Riau saat ini ditopang kuat oleh kelompok barang modal yang nilainya melonjak lebih dari 20 kali lipat. Hingga Mei 2026, impor barang modal tercatat mencapai 862,97 juta dollar AS atau merepresentasikan 53,01 persen dari total belanja internasional Riau.

"Lonjakan impor barang modal pada umumnya menunjukkan adanya aktivitas investasi atau pengembangan kapasitas produksi di daerah. Karena itu, angka impor yang meningkat ini tidak mencerminkan kenaikan konsumsi masyarakat, melainkan menjadi indikasi kuat adanya investasi baru berskala besar," ujar Asep Riyadi di Pekanbaru, Rabu (15/7/2026).

Asep Riyadi menambahkan, kelompok komoditas kapal terbang dan bagiannya menjadi pemicu utama dengan nilai impor mencapai 780,83 juta dollar AS. Angka spesifik untuk sektor penerbangan ini melonjak drastis hingga 54.918,49 persen dibandingkan dengan capaian Januari–Mei 2025.

Dampaknya, Prancis kini melesat menjadi negara asal impor nonmigas terbesar bagi Riau. Nilai pasokan dari negara tersebut menyentuh 781,91 juta dollar AS atau menguasai 50,19 persen pangsa pasar impor nonmigas bumi lancang kuning. Nilai pengapalan dari Prancis ini tumbuh eksponensial sebesar 36.518,62 persen secara tahunan.

"Dominasi Prancis tahun ini berkaitan erat dengan masuknya barang modal bernilai besar, terutama kelompok kapal terbang dan bagiannya. Hal itu membuat peta dan struktur impor Riau berubah cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," kata Asep Riyadi.

Tren pertumbuhan ini juga mengubah peta kawasan mitra dagang. Impor Riau dari Uni Eropa kini mendominasi dengan porsi 53,91 persen atau senilai 839,84 juta dollar AS. Posisi ini jauh melampaui mitra dagang tradisional di Asia, seperti Tiongkok yang mencatat nilai impor 170,99 juta dollar AS dan Vietnam sebesar 102,94 juta dollar AS, serta total impor dari kawasan ASEAN yang tertahan di angka 257,59 juta dollar AS.

Di sisi lain, pergerakan impor komoditas pendukung industri manufaktur lokal justru bergerak variatif. Impor pupuk tercatat masih tumbuh sebesar 18,31 persen menjadi 159,39 juta dollar AS. Kenaikan juga diikuti oleh komoditas kayu dan barang dari kayu yang naik 75,82 persen menjadi 139,38 juta dollar AS, mesin-mesin mekanik sebesar 74,97 juta dollar AS, serta bahan kimia organik senilai 63,49 juta dollar AS.

Sebaliknya, penurunan terdalam justru dialami oleh sektor bahan baku bubur kayu atau pulp. Impor bahan baku kertas ini merosot 27,95 persen sehingga nilainya menyusut menjadi 57,29 juta dollar AS jika dibandingkan dengan periode lima bulan pertama pada tahun lalu.

"Sebagian besar kelompok barang utama memang mengalami peningkatan performa. Hanya impor bahan bubur kayu atau pulp yang tercatat masih mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu," tutur Asep Riyadi.

Secara bulanan, dinamika perdagangan luar negeri Riau khusus pada Mei 2026 menyentuh 550,41 juta dollar AS, atau melesat 298,69 persen dari Mei tahun lalu. Kondisi ini dipicu oleh aktivitas impor nonmigas yang melonjak menjadi 544,32 juta dollar AS, sementara pada saat bersamaan impor sektor migas justru menyusut 60,95 persen menjadi tersisa 6,09 juta dollar AS. (Bil)