Empat Ribu Warga Riau Bertahan Hidup dengan Terapi ARV di Tengah Lonjakan HIV


Selasa, 14 Juli 2026 - 17:33:18 WIB
Empat Ribu Warga Riau Bertahan Hidup dengan Terapi ARV di Tengah Lonjakan HIV

RIAUIN.COM - Upaya menekan laju penularan virus penyebab hilangnya kekebalan tubuh atau HIV di Provinsi Riau terus dipacu melalui pemanfaatan terapi obat-obatan. Di tengah grafik penularan yang konsisten merangkak naik selama empat tahun terakhir, otoritas kesehatan setempat kini memprioritaskan pemeliharaan kualitas hidup para penyintas agar mata rantai infeksi dapat diputus sejak dari hulu.

Berdasarkan catatan kumulatif Dinas Kesehatan Provinsi Riau dari tahun 1997 hingga Triwulan I-2026, total warga yang terinfeksi HIV di wilayah ini mencapai 11.523 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 7.137 orang dilaporkan masih bertahan hidup. Namun, tantangan besar membayang karena 4.524 pasien di antaranya sudah berada pada fase stadium AIDS.

Pengelola Program HIV Dinas Kesehatan Riau Egawati menyampaikan bahwa tingkat kesintasan (survival rate) pasien yang cukup tinggi ini tidak lepas dari intervensi medis yang berjalan konstan. Saat ini, ribuan penyintas bergantung penuh pada konsumsi obat secara disiplin guna menekan aktivitas virus di dalam tubuh.

"Ada 4.222 orang dengan HIV di Riau yang sekarang aktif menjalani Terapi Antiretroviral atau ARV. Kami memastikan bahwa ketersediaan logistik obat yang disuplai oleh Kementerian Kesehatan saat ini posisinya aman dan mencukupi untuk kebutuhan pasien," kata Egawati saat dihubungi di Pekanbaru, Selasa (14/7/2026).

Langkah mempertahankan kadar virus agar tetap tersupresi melalui ARV menjadi benteng terakhir penanggulangan. Jika jumlah virus di dalam darah berhasil ditekan hingga tingkat terendah, potensi penularan secara horizontal kepada orang lain dapat diminimalkan secara drastis.

Kendati pengobatan terus berjalan, grafik penemuan kasus baru di Riau menunjukkan alarm kewaspadaan. Dari 570 kasus pada tahun 2021, angka penularan melonjak menjadi 835 kasus pada 2022, lalu menembus 1.001 kasus pada 2023. Tren ini belum melandai setelah mencatatkan 1.006 kasus pada 2024, disusul 1.051 kasus pada 2025, dan bertambah 187 kasus baru pada tiga bulan pertama tahun ini.

Dinas Kesehatan Provinsi Riau terus memperluas jangkauan deteksi dini untuk menjaring kasus-kasus yang belum memanifestasikan gejala klinis. Sepanjang tahun lalu, pengujian sampel darah secara massal telah menyasar 195.298 orang di berbagai kabupaten dan kota di Riau.

Strategi penumpasan infeksi ini bertumpu pada skema "STOP", yang mengolaborasikan aspek penyuluhan, pencarian kasus aktif, pengobatan cepat, hingga pendampingan klinis jangka panjang. Edukasi masif juga digulirkan ke sektor hulu dengan menggandeng 1.152 aparatur Kementerian Agama, termasuk penghulu dan penyuluh keagamaan, guna memberikan pemahaman mengenai hubungan seksual yang aman dan risiko penularan lewat plasenta ibu ke bayi.

Egawati menegaskan bahwa beban penanganan fenomena gunung es ini tidak dapat dipikul secara tunggal oleh sektor kesehatan semata. Keterlibatan lintas sektor dan pengikisan stigma negatif di masyarakat menjadi kunci agar para penderita bersedia membuka diri untuk diobati.

"Penanggulangan HIV di Riau membutuhkan sinergitas kuat serta dukungan dari seluruh lapisan sektor masyarakat agar mereka yang berisiko tidak takut untuk memeriksakan diri," ujar Egawati menambahkan. (Bil)