PLT Bupati Kuansing H Mukhlisin
Ditulis Oleh: Hendrianto.
Minggu: (12/7/2027).
POLITIK Kuansing itu dinamis. Kadang hangat, sering kali riuh. Begitu ada figur yang membawa keteduhan, publik langsung menoleh.
Termasuk para senior. Mereka yang sudah kenyang makan asam garam birokrasi. Yang rambutnya mungkin sudah memutih memikirkan urusan daerah.
Salah satunya Chaidir Arifin. Mantan birokrat senior Kuansing. Orang lama yang tahu betul bagaimana ritme pemerintahan bekerja. Tahu mana pejabat yang tulus dan mana yang sekadar numpang lewat.
Chaidir punya penilaian tersendiri terhadap sosok Plt Bupati Kuansing, Mukhlisin.
Pendek saja kalimatnya. Tapi maknanya dalam. Bergetar.
"Dari pandangan saya, Insya Allah Beliau memiliki profil atau karakter yang sejuk dan menyejukkan," kata Chaidir.
Kata "sejuk" itu mahal hari ini. Di era di mana semua orang ingin terlihat garang, hobi pamer otot politik, dan bising di media sosial, pemimpin yang menyejukkan itu ibarat seteguk air es di tengah hari bolong di Kuantan Singingi. Bikin adem.
Karakter bawaan yang membuat lingkungan sekitarnya ikut tenang. Bukan tipe pemadam kebakaran yang baru sibuk siram sana-sini setelah api membesar.
Tapi, Chaidir tidak sekadar memuji. Beliau bukan tipe penyorak yang asal bapak senang. Sebagai senior, dia menitipkan sebuah rambu-rambu yang sangat jeli. Rambu yang sering membuat pemimpin baru tergelincir lalu ambyar.
"Semoga saja Beliau tidak tergoda karena sanjungan, dan tidak berisik karena dikritik," tambahnya.
Mak jleb. Ini esensinya.
Kursi kekuasaan itu magnet. Di sekelilingnya pasti berkerumun para penyumbang sanjungan. Asal bapak senang. Sanjungan itu seperti sirup: manis, tapi kalau kebanyakan bisa bikin diabetes politik. Menidurkan. Membius. Tahu-tahu sudah terperosok.
Sebaliknya, kritik sering kali datang bagai petir di siang bolong. Mengagetkan. Bikin kuping merah dan jantung berdegup kencang. Di sinilah mental diuji.
Pemimpin yang sejuk tidak boleh reaktif. Tidak perlu "berisik" membalas kritik. Tidak usah sewa buzzer untuk menyerang balik. Hadapi dengan kepala dingin. Anggap saja kritik itu jamu—pahit di lidah, tapi bikin badan sehat.
Menariknya, Chaidir melihat karakter kepemimpinan Mukhlisin ini mencerminkan filosofi klasik yang sangat dalam. Filosofi Jawa Kuno yang dibawa dan digaungkan di tanah Melayu Kuansing. Kebinekaan yang indah.
Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.
Lengkap. Borongan.
Ketika di depan, Mukhlisin diharapkan bisa menjadi teladan. Mencontohkan langsung. Bukan sekadar main telunjuk, memerintah ke sana dan ke sini.
Ketika berada di tengah-tengah masyarakat dan jajaran ASN, dia mampu membangun semangat. Membaur tanpa sekat. Mau duduk bareng dan mendengar keluh kesah tanpa harus merasa paling pintar.
Dan ketika di belakang, dia memberikan dorongan. Memberi ruang bagi bawahannya untuk berinovasi tanpa rasa takut salah. Menjadi pelindung bagi anak buah yang bekerja benar.
Ujian sesungguhnya dari seorang pemimpin tentu saja adalah waktu. Kursi empuk itu sering kali mengubah watak asli seseorang. Publik sudah melihat banyak contoh nyata tentang hal itu. Maka, konsistensi menjaga ritme agar tetap sejuk sampai akhir masa jabatan adalah tantangan terbesarnya.
Chaidir menutup pandangannya dengan satu kata pasrah yang sangat manusiawi, penuh adab: Wallahu’alam. Hanya Allah yang maha tahu akhir ceritanya.
Tinggal bagaimana Plt Bupati merawat kesejukan itu di tengah badai politik yang terus berubah. Semoga saja beliau tetap eling, tetap adem.
Mari kita seruput kopi dulu, sambil melihat kelanjutannya. (***)
(Penulis merupakan jurnalis riauin.com)