Payung Sekaki dan Rumbai Jadi Titik Terparah Karhutla Pekanbaru


Sabtu, 11 Juli 2026 - 11:58:27 WIB
Payung Sekaki dan Rumbai Jadi Titik Terparah Karhutla Pekanbaru

RIAUIN.COM - Seluas lebih dari 38 hektare lahan di Kota Pekanbaru, Riau, hangus terbakar akibat lonjakan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dipicu oleh musim kemarau ekstrem. Dari seluruh wilayah yang terdampak, Kecamatan Payung Sekaki dan Kecamatan Rumbai tercatat menjadi kawasan dengan tingkat kerusakan paling parah.

Berdasarkan data terkini hingga Jumat (10/7/2026), otoritas penanggulangan bencana setempat telah mendeteksi 64 kasus kebakaran yang tersebar secara sporadis di hampir seluruh kecamatan. Tingginya potensi perluasan karhutla ini memaksa pemerintah daerah mengambil langkah cepat guna mencegah kabut asap pekat kembali mengepung Riau.

Pelaksana Tugas Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Pekanbaru Martin Manouluk mengungkapkan bahwa fluktuasi titik api di dua kecamatan terparah menyumbang lebih dari separuh total luasan lahan yang terbakar di ibu kota Provinsi Riau tersebut.

"Di Kecamatan Payung Sekaki tercatat terjadi 16 kasus kebakaran dengan total luas lahan yang terbakar mencapai 13 hektare. Sementara itu, di Kecamatan Rumbai, luas lahan yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 12 hektare," ujar Martin saat dikonfirmasi pada Jumat siang.

Guna mempercepat pergerakan personel di lapangan, Pemerintah Kota Pekanbaru kini resmi memberlakukan Status Siaga Darurat Bencana Karhutla. Status kesiapsiagaan penuh ini dijadwalkan akan terus berlaku hingga 30 November 2026, menyusul prediksi panjangnya masa kekeringan tahun ini.

Martin menegaskan bahwa status darurat ini sengaja diambil lebih awal untuk mengoptimalkan koordinasi pemadaman dan memangkas waktu respons tim di lapangan sebelum api menjalar ke area gambut yang lebih dalam.

"Lokasinya hampir menyebar di seluruh kecamatan. Kami mengimbau warga agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar," kata Martin menambahkan.

Lonjakan kasus karhutla di Riau kali ini dipicu oleh fenomena iklim El Nino dengan intensitas moderat hingga kuat. Berdasarkan analisis dari BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, puncak musim kemarau ekstrem ini diperkirakan akan mencengkeram wilayah Riau dalam rentang waktu Juni hingga November 2026.

Kondisi tanah yang mengering dibarengi cuaca terik membuat semak belukar menjadi sangat mudah tersulut api, bahkan oleh kelalaian kecil sekalipun. Oleh karena itu, masyarakat diminta proaktif memantau lingkungan sekitar dan segera memberikan informasi jika melihat indikasi munculnya asap.

"Kami mengimbau warga melaporkan kepada Tim Reaksi Cepat Pekanbaru Aman 112 ketika ada kebakaran lahan," pungkas Martin. (Bil)