Beda Gaya di Acara Pacu Jalur: Plt Bupati Mukhlisin Pilih Tampil Tradisional Tanpa Kacamata Hitam


Jumat, 10 Juli 2026 - 17:44:59 WIB
Beda Gaya di Acara Pacu Jalur: Plt Bupati Mukhlisin Pilih Tampil Tradisional Tanpa Kacamata Hitam

Momen Plt Bupati Kuansing Mukhlisin saat acara pembukaan pacu jalur di Benai

 

Laporan: Hendrianto

RIAUIN.COM — Pembukaan festival Pacu Jalur di Kecamatan Benai hari ini, Jumat (10/7/2026), menyuguhkan pemandangan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Kehadiran Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kuantan Singingi (Kuansing), Mukhlisin, yang tampil bersahaja tanpa kawalan ketat barisan pejabat teras, menjadi sorotan utama masyarakat yang memadati tepian sungai.

Momen ini sekaligus menjadi penampilan perdana Mukhlisin di hadapan publik dalam agenda besar pembukaan Pacu Jalur tingkat rayon, semenjak dirinya didaulat memimpin Kuansing.

Seperti diketahui, Mukhlisin resmi menjabat sebagai Plt Bupati menyusul dinamika politik yang mengguncang wilayah tersebut baru-baru ini, setelah Bupati nonaktif Suhardiman Amby terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Berbeda dengan gaya kepemimpinan pendahulunya, Suhardiman Amby, yang kerap tampil formal dan ikonik dengan kacamata hitam di atas perahu cepat, Mukhlisin memilih pendekatan yang lebih tradisional. Berdiri di atas kapal motor tanpa penutup mata, ia menyapa warga dengan pakaian adat yang sederhana.

Langkah ini seolah menjadi pesan simbolis dari Mukhlisin untuk membawa babak baru pemerintahan yang lebih membumi dan transparan pasca-kemelut hukum yang menimpa pucuk pimpinan sebelumnya.

Perbedaan mencolok juga terlihat dari komposisi pendamping di atas kapal utama. 

Jika sebelumnya perahu bupati selalu dipenuhi oleh jajaran pejabat birokrasi dan protokoler yang masif, kali ini Mukhlisin justru lebih banyak didampingi oleh para pemangku adat, tokoh masyarakat, serta pemuka agama setempat.

Bahkan, dalam prosesi pembukaan tersebut, tidak nampak kehadiran Ketua DPRD Kuansing di barisan rombongan utama.

Sejumlah warga yang menyaksikan pembukaan menilai perubahan atmosfer ini memberikan kesan yang lebih dekat dengan akar budaya masyarakat, sekaligus memberikan ketenangan di tengah situasi transisi pemerintahan.

Kehadiran para tokoh adat di sisi pimpinan daerah dianggap mengembalikan *muruah* Pacu Jalur sebagai pesta rakyat yang sarat akan nilai-nilai luhur dan spiritualitas tradisi, bukan sekadar panggung seremonial politik.

"Melihat Pak Plt Bupati tadi di sungai rasanya adem, seperti melihat orang tua kita sendiri yang datang ke pesta adat," ujar Arman (42), warga asal Benai yang hadir langsung di lokasi.

"Tidak ada jarak karena beliau tidak dikelilingi pagar betis pejabat, justru dikawal langsung oleh tetua-tetua adat kita. Nuansa Pacu Jalur yang asli dan penuh kekeluargaan jadi terasa kembali," tambahnya.

Kendati diselimuti atmosfer kesederhanaan ritual dan situasi politik yang baru pulih, hal tersebut sama sekali tidak mengurangi antusiasme ribuan penonton. Masyarakat dari berbagai pelosok desa tetap datang berbondong-bondong meramaikan tradisi kebanggaan kebudayaan Kuansing ini. (***)