RIAUIN.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru mendeteksi kemunculan lima titik panas (hotspot) di wilayah Provinsi Riau, Senin (6/7/2026). Masyarakat diimbau keras untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar demi mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Forecaster on Duty BMKG Pekanbaru, Ranti Kurniati, mengungkapkan bahwa berdasarkan pantauan terbaru, sebaran titik panas tersebut terdeteksi di tiga kabupaten/kota di Riau, dengan konsentrasi tertinggi berada di wilayah Pelalawan.
"Di Riau hari ini terpantau lima titik panas. Rinciannya, Kabupaten Pelalawan sebanyak tiga titik, Kota Dumai satu titik, dan Kabupaten Rokan Hilir satu titik," ujar Ranti di Pekanbaru, Senin.
Sumatra Tembus 147 Titik Panas
Secara kumulatif di Pulau Sumatra, BMKG mencatat total ada 147 titik panas yang tersebar di berbagai provinsi. Sumatra Selatan menjadi wilayah terpanas dengan sumbangan titik terbanyak.
Berikut sebaran hotspot signifikan di Pulau Sumatra:
Sumatra Selatan: 69 titik
Jambi: 18 titik
Lampung: 16 titik
Riau: 5 titik
Potensi Hujan Masih Ada
Meskipun titik panas mulai bermunculan, Ranti menjelaskan bahwa potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpeluang mengguyur sebagian wilayah Riau sejak pagi hingga dini hari.
Siang hingga Sore Hari: Potensi hujan diprakirakan terjadi di Kabupaten Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, Pelalawan, Bengkalis, Siak, dan Kota Pekanbaru.
Malam hingga Dini Hari: Hujan berpotensi bergeser ke wilayah Kabupaten Kampar dan Kuantan Singingi.
"Kondisi cuaca cukup dinamis. Namun, kami tetap mengimbau masyarakat secara tegas untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta selalu waspada terhadap potensi karhutla," katanya.
Gelombang Laut Relatif Aman
Sementara itu, untuk prakiraan wilayah perairan Riau, BMKG melaporkan kondisi gelombang laut masih berada dalam kategori rendah, yakni berkisar antara 0,5 meter hingga 1,25 meter.
"Tinggi gelombang laut berada pada kategori rendah, sehingga relatif aman bagi aktivitas pelayaran. Meski demikian, para nelayan dan masyarakat yang beraktivitas di laut tetap diminta memantau perkembangan cuaca secara berkala sebelum berlayar," tutur Ranti. (Bil)