Kebakaran Lahan di Bengkalis Capai 8.237 Hektare, Terluas di Riau


Rabu, 17 Juni 2026 - 17:59:53 WIB
Kebakaran Lahan di Bengkalis Capai 8.237 Hektare, Terluas di Riau

RIAUIN.COM - Wilayah Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Pelalawan kini menjadi titik paling rawan dalam krisis kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau. Berdasarkan pemantauan terbaru hingga Mei 2026, akumulasi luas kerusakan lingkungan akibat paparan api di kedua wilayah tersebut mendominasi total bencana serupa di tingkat provinsi yang kini areanya sudah menembus angka belasan ribu hektare.

Kondisi terparah melanda Bengkalis dengan luas area yang hangus mencapai 8.237 hektare, disusul Pelalawan yang mencatatkan kerusakan seluas 4.538,8 hektare. Di sisi lain, lonjakan kasus juga merembet ke wilayah pesisir dan daratan lain seperti Indragiri Hilir dengan luasan 947,2 hektare serta Kota Dumai setinggi 600,9 hektare.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto menjelaskan bahwa potret kerugian ekologis ini didapatkan melalui verifikasi akurat menggunakan pemantauan ruang angkasa. Estimasi luasan diperoleh dari hasil pembacaan citra satelit yang diolah secara terpadu oleh Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Karakteristik Lahan Gambut Sulit Padam
Bencana kali ini menjadi tantangan berat lantaran karakteristik wilayah yang terbakar mayoritas merupakan ekosistem gambut. Karakter tanah ini dikenal menyimpan bara di bawah permukaan sehingga api sangat sulit dieliminasi secara total jika sudah telanjur meluas.

Dari total area yang terdampak di Riau, sektor lahan gambut yang tereduksi mencapai 14.162,6 hektare, sedangkan wilayah tanah mineral yang terbakar berada di angka 1.155,4 hektare. Khusus di Bengkalis, dari seluruh area yang terbakar, vegetasi di atas tanah gambut menyumbang angka kerusakan sebesar 8.017,6 hektare dan sisanya berupa lahan mineral 219,4 hektare.

Pola serupa terlihat di Pelalawan di mana areal gambut yang hangus menyentuh 4.328,4 hektare, berbanding tipis dengan area mineral yang hanya 210,3 hektare. Anomali sedikit bergeser di Indragiri Hilir karena rasio kebakaran antara lahan mineral dan gambut cenderung berimbang, masing-masing setinggi 423,5 hektare dan 523,7 hektare.

Tren Kerusakan Tertinggi dalam Tujuh Tahun
Secara akumulatif, total area yang terbakar di Riau dari awal tahun hingga Mei 2026 kini menyentuh angka 15.318 hektare. Jika ditarik garis linier ke belakang, angka ini menjadi lompatan kasus yang sangat masif dan mengkhawatirkan bagi kelestarian udara Sumatra.

Sebagai perbandingan, pada rentang bulan yang sama di tahun 2025, satgas di lapangan hanya mencatat area terbakar seluas 751,1 hektare. Kondisi tahun ini juga tercatat sebagai situasi terburuk dalam kurun waktu tujuh tahun ke belakang, di mana angka kerusakan hanya bisa dilampaui oleh rekam jejak kelam bencana tahun 2019 yang kala itu memusnahkan hingga 27.724 hektare lahan.

Sebagai catatan sejarah, grafik kebakaran di Riau sebenarnya sempat menunjukkan tren mitigasi yang cukup fluktuatif namun cenderung terkendali pada tahun-tahun sebelumnya:

Tahun 2021: Luas kebakaran 6.471,5 hektare

Tahun 2022: Luas kebakaran 2.325,9 hektare

Tahun 2023: Luas kebakaran 1.860,5 hektare

Tahun 2024: Luas kebakaran 3.942,7 hektare

Pengetatan Patroli dan Lokalisasi Api
Merespons situasi kritis ini, personel Manggala Agni bersama jajaran Satuan Tugas Kehutanan memperketat sistem pengawasan di titik-titik rawan. Fokus utama petugas saat ini adalah melakukan deteksi dini terhadap munculnya titik panas baru agar tidak berkembang menjadi kebakaran besar yang tidak terkendali.

Langkah taktis di lapangan dilakukan lewat pembuatan sekat bakar untuk memutus jalur rambatan api, disusul dengan operasi pemadaman langsung merespons pantauan visual. Pemantauan pergerakan asap dan api juga dimaksimalkan melalui integrasi pemantauan udara guna mendukung pergerakan tim darat.

Ferdian Krisnanto kembali menegaskan pentingnya komitmen masyarakat dan korporasi untuk menghentikan total praktik pembukaan area perkebunan dengan metode pembakaran. Langkah preventif terus digencarkan secara persuasif ke desa-desa yang masuk dalam zona merah rawan kebakaran hutan. (*)