Sentuhan Kak Ida, Radar Suhardiman, dan Mimpi Batik Kuansing Menyapa Dunia


Kamis, 11 Juni 2026 - 14:17:15 WIB
Sentuhan Kak Ida, Radar Suhardiman, dan Mimpi Batik Kuansing Menyapa Dunia

Peragaan Batik Kuansing di Kepri

 

Oleh: Hendrianto

PAGI ini, sebuah pesan masuk di ponsel saya. Isinya sebuah foto. Pengirimnya adalah seorang warga Kuantan Singingi (Kuansing) yang kini menetap di Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri).

Rupanya, mereka membaca tulisan saya sebelumnya. Tulisan tentang Batik Kuansing Batik Nagori.

Saya terkejut. Sekaligus bangga. Ternyata, nun jauh di seberang lautan sana, di tanah Kepri, batik Kuansing juga diproduksi. Dari bumi Gurindam, Batik Kuansing kini bersiap menyapa dunia.

Bagi saya pribadi, Tanjungpinang punya cerita tersendiri. Kota ini sudah seperti kampung halaman kedua. Saya tumbuh besar di sana. Cukup lama saya menetap dan menjalani hari-hari di sana.

Jadi, ketika mendengar ada napas kebudayaan Kuansing berembus di Tanjungpinang, ada rasa hangat yang menjalar di dada.

"Apakah ada Batik Kuantan Singingi diproduksi di Tanjungpinang?"

Pertanyaan itu meluncur dari mulut Bupati Kuansing, Suhardiman Ambi. Nadanya datar, setengah tersenyum, tapi sorot matanya serius. Kejadiannya September 2022 lalu. Tempatnya di Hotel CK Tanjungpinang.

Saat itu, Pak Bupati sedang menghadiri pengukuhan pengurus Ikatan Warga Kuantan Singingi (IWAKUSI) Tanjungpinang-Bintan. Di sela acara, ada kejutan: Parade Batik Mustika Baserah.

Bagi orang awam, pertanyaan bupati mungkin terdengar sepele. Biasa saja. Tapi bagi saya, seorang jurnalis, itu sinyal besar. Itu tanda seorang kepala daerah punya radar yang peka terhadap aset budayanya. Beliau kaget sekaligus bangga, karya seni dari kampung halaman justru tumbuh subur di rantau orang.

Dan Suhardiman tidak sekadar bertanya. Beliau mengeksekusinya menjadi kebijakan di kampung halaman.

Tengok saja di Kuansing sekarang. Seluruh instansi pemerintah wajib memakai baju batik daerah. Aparatur Sipil Negara (ASN) menjadikannya seragam resmi. Batik bukan lagi sekadar kain corak, tapi sudah menjelma menjadi identitas nagori yang dibawa terbang hingga ke luar provinsi.

Perhatian Suhardiman pada batik sebenarnya bukan barang baru. Ingatan saya melayang ke bulan November 2021. Di halaman Kantor Camat Kuantan Hilir. Saat itu ada acara Silaturrahim Alumni SMPN Baserah yang bersempena dengan HUT PGRI.

Seorang perempuan bernama Arnida Warnis menghadap bupati. Akrab disapa Kak Ida. Beliau membawa dokumen rancangan batik yang ingin dibikinnya.

Respons bupati? Kilat. Beliau langsung menyodorkan berkas itu kepada Plt. Sekda Agusmandar yang ikut mendampingi. "Tolong langsung diperiksa dan dieksekusi," perintah bupati saat itu.

Suhardiman bangga luar biasa. Ada anak jati Kuansing yang berani membuka usaha batik daerah di perantauan. Langkah Kak Ida ini adalah fondasi awal bagaimana kebudayaan Kuansing bisa melebarkan sayapnya, menembus batas geografis.

Maka, ketika September 2022 beliau menginjakkan kaki di Tanjungpinang, senyumnya buncah. Anak-anak muda asal Kuansing mendadak jadi model catwalk. Mereka melenggang luwes memamerkan kain Batik Mustika Baserah.

Musiknya? Calempong yang dimainkan rancak oleh 'mondek-mondek' perantauan. "Itu batik terbuat dari bahan apa?" tanya bupati lagi, antusias. Matanya tak lepas memandang motif-motif yang diperagakan.

Ada rasa tidak percaya, sekaligus haru. Anak Baserah, Kuantan Hilir, sukses membangkitkan selera pencinta batik di tanah rantau.

Bagi Kak Ida, nama Mustika Baserah bukan sekadar merek dagang. Itu doa. Itu harapan. Itu cerminan harga diri. Sebuah pesan seni yang dikirim dari sebuah kampung kecil bernama Basogha (Baserah) untuk diperkenalkan ke panggung dunia.

Batik ini lahir dari rasa rindu. Rindu yang mendalam pada kampung halaman. Rekaman masa kecil Kak Ida yang begitu membekas di sanubari, dituangkan semuanya ke atas kain.

Di salah satu foto yang dikirim ke ponsel saya, terlihat Kak Ida memakai caping. Mengenakan masker bermotif batik. Beliau berdiri di tengah ladang berair, menggenggam seikat bunga seroja (teratai) berwarna merah muda segar.

Itulah rahasianya. Motif Batik Mustika Baserah tidak lahir dari lamunan di meja kerja. Kak Ida benar-benar turun ke ladang. Masuk ke rawa. Berburu bungo demi mendapatkan bentuk yang paling autentik. Nilai keaslian inilah yang membuat batik ini punya daya tawar tinggi untuk bersaing di kancah internasional.

Maka jangan heran jika motifnya sangat kaya. Dan alhamdulillah, per 11 Januari 2022, karya ini sudah resmi mengantongi HAKI dari Kemenkumham dengan nomor EC00202202428.

Di tangan Kak Ida, alam dan tradisi Kuansing pindah ke kain. Ada motif perahu pacu, calempong, sasampek, tikuluk mondek, dan tugu baserah. Ada juga bungo bujang gadih, bungo seroja, buah rumbia, hingga serkap/sarokok. Bahkan daun semanggi, bungo keduduk, rambutan kalintunjuk, pesona rimba, dan daun benalu sisik naga pun ikut menari di sana.

Batik memang bukan sekadar kain. Di dalam setiap goresannya ada cerita, ada proses panjang masuk ladang, dan ada rasa yang ikut ditenun. Batik adalah bahasa visual yang universal.

Suhardiman Ambi punya mimpi besar: menjadikan Kuansing sebagai sentra batik di Riau. Selera estetikanya tinggi, dan beliau paham filosofi di balik selembar kain.

Gerakan dari Kepri ini bisa menjadi batu loncatan strategis. Tanjungpinang dan Batam adalah pintu gerbang internasional. Dari sanalah Batik Kuansing bisa dengan mudah melenggang ke Singapura, Malaysia, dan belahan dunia lainnya.

Namun, jalan ke sana masih panjang. Pelaku ekonomi kreatif batik di Kuansing belum banyak. Skala produksinya harus digenjot. Sistem promosi dan pemasarannya ke depan juga wajib dipikirkan matang-matang agar gaung "menyapa dunia" ini bukan sekadar slogan, melainkan realitas.

Sinergi pemimpin yang responsif dan pengrajin yang militan seperti Kak Ida adalah modal utama.

Sebagai penutup, mari kita titipkan doa lewat sebait pantun untuk tanah kelahiran:

Batik bernama Mustika Baserah,
Terkenal di seluruh Rantau Kuantan.
Budaya dijunjung adat disembah,
Pakaian batik jadi idaman.

Batik terbuat melalui proses,
Batik disimpan di depan cermin.
Bapak Suhardiman Ambi selalu sukses,
Untuk masa depan Kuansing yang lebih terjamin. (***)
 

(Penulis merupakan jurnalis di Riauin.com)