Sebut Bakar Rakit Hanya Sandiwara, Warga Kuansing Tantang Polisi Tangkap Pengepul Emas


Senin, 08 Juni 2026 - 22:46:46 WIB
Sebut Bakar Rakit Hanya Sandiwara, Warga Kuansing Tantang Polisi Tangkap Pengepul Emas

Pemurnian emas

 

Laporan: Hendrianto.

RIAUIN.COM – Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) kian menjamur.

Kondisi ini membuat masyarakat jenuh. Mereka menilai Polres Kuansing gagal menyentuh akar masalah.

Selama ini, penertiban dinilai monoton. Polisi turun ke lapangan lalu membakar rakit.

Petugas memotret kegiatan itu, kemudian pulang. Keesokan harinya, rakit baru kembali beroperasi. Air sungai pun kembali keruh.

"Membakar rakit itu cuma memotong daun. Akarnya tetap kokoh," ujar seorang warga Kuansing yang minta namanya dirahasiakan, Senin (8/6).

Menurut warga, pekerja rakit hanyalah orang kecil. Mereka hanya bermodal otot demi urusan dapur. Pekerja tidak akan berani bergerak jika tidak ada penampung.

Hulu masalahnya ada pada pengepul emas ilegal. Mereka adalah pemilik modal atau cukong. Mereka yang membeli mesin, menyiapkan solar, hingga menjamin logistik lapangan.

Hebatnya, bisnis ini berjalan terang-benderang. Pengepul nyata dan tersebar di pelosok desa.

"Paling tidak, ada lima titik pengepul di setiap kecamatan. Semua orang tahu. Tetangga tahu. Intel polisi pasti lebih tahu," lanjut sumber tersebut.

Ketidakberdayaan pola penindakan ini terpampang nyata di Kecamatan Cerenti. Wilayah ini menjadi contoh telanjang kegagalan operasi pembakaran rakit.

Baru-baru ini, operasi besar digelar di sana. Ratusan rakit PETI dihancurkan dan dibakar polisi. Di atas kertas, operasi itu terlihat sukses besar.

Namun, fakta lapangan berbicara lain. Hanya berselang dua hari setelah pembakaran, riak mesin kembali bergemuruh.

Bukannya berkurang, jumlah rakit baru justru meledak lebih banyak. Jumlahnya melampaui rakit yang dibakar sebelumnya.

Kemunculan kilat ratusan rakit baru ini di luar nalar sehat. Padahal, satu unit rakit baru butuh modal besar.

Paling tidak, diperlukan biaya sekitar seratusan juta rupiah untuk membangun rakit lengkap dengan peralatan penambangan.

Jika dikalikan ratusan rakit, ada miliaran rupiah modal segar yang mengalir instan.

Fenomena Cerenti menjadi bukti kekuatan finansial para cukong. Uang ratusan juta seolah urusan kecil bagi para pengepul emas ilegal.

Kini warga mempertanyakan nyali polisi. Mengapa petugas selalu mengejar rakit kayu di sungai? Mengapa bukan rumah mentereng tempat transaksi emas yang digerebek?

Masyarakat menduga ada dua alasan utama di balik pembiaran ini: Perputaran uang di meja pengepul sangat besar. Diduga ada aliran dana lancar agar aparat menutup mata.

Di atas pengepul desa, ada bos besar dan jaringan toko emas lintas provinsi. Diduga ada pula oknum aparat yang menjadi pelindung.

Menangkap pengepul kecil dikhawatirkan membuka kotak pandora. Hal itu bisa menyeret nama-nama besar.

Warga pun menuding aksi bakar rakit selama ini hanya panggung sandiwara demi laporan ke atasan.

Masyarakat kini menantang ketegasan polisi. Strategi penindakan harus dibalik dari hulu ke hilir.

Polisi didesak menggunakan prinsip follow the money. Aliran uang ratusan juta untuk rakit baru harus dikejar. Agen besar pemasok merkuri dan minyak dolar juga harus ditangkap.

Selama tempat transaksi di tiap kecamatan masih aman, rakit PETI akan terus merusak alam Kuansing. Polisi pun hanya akan sibuk membakar kapal kosong, tahun demi tahun. (***)