ASN Kuansing Nyambi Bertani, Cuan Rp 31 Juta Modal Dua Jam Sehari


Rabu, 20 Mei 2026 - 16:32:32 WIB
ASN Kuansing Nyambi Bertani, Cuan Rp 31 Juta Modal Dua Jam Sehari

Beni Aprianto saat panen cabe

 

Laporan: Hendrianto

RIAUIN.COM- Kabupaten Kuantan Singingi baru saja mekar. Masih seumur jagung. Saat itu tahun 2001.

Seorang pemuda bernama Beni Aprianto mulai masuk kantor. Ia resmi jadi abdi negara. Penempatan di kantor kelurahan.

Beni bersyukur. Tapi ia cepat bosan.
Ia emoh hanya duduk diam di belakang meja. Menunggu jam pulang. Menatap tumpukan kertas. Jiwanya berontak.

Tahun 2003, Beni nekat. Ia ingin nyambi. Pilihan jatuh pada bertani.

Lahan di Kuansing saat itu didominasi sawit. Beni memanfaatkan sela-sela pohon sawit itu. Istilah kerennya tumpang sari.

Modalnya? Nol pengalaman. Beni belajar otodidak.

Awalnya? Babak belur. Hasil panen jauh dari ekspektasi. Gagal total.
Beni tidak kapok. Ia tanam lagi. Hasilnya mulai ada, tapi tipis sekali. Istilahnya, cuma balik modal untuk beli pupuk.

Tapi Beni punya satu kelebihan: konsisten yang keras kepala. Sepulang kantor, baju dinas dilepas. Ia langsung menuju ladang. Di sela-sela kesibukannya, ia rajin sowan ke petani senior. Bertanya ke sana kemari.

Beni bukan mencari resep sukses. Ia justru mempelajari mengapa dirinya gagal. Setelah bertahun-tahun jatuh bangun, rumus itu akhirnya ketemu. Beni kembali menanam cabe merah.

Kali ini, alam tersenyum. Panennya meledak. Memuaskan. "Alhamdulillah, dulu bisa bangun rumah dari hasil panen. Ya, cukuplah," ujar Beni. Kalimatnya pelan, merendah. Khas orang yang sudah kenyang makan asam garam.

Beni bukan petani yang asal tanam. Ia ahli dalam kalkulasi. Ia paham angka-angka di atas kertas, melebihi sekadar urusan administrasi kelurahan.

Bagi Beni, efisiensi adalah segalanya.
Bayangkan. Untuk 2.000 batang cabe itu, Beni bisa menekan biaya serendah mungkin. Ia tidak mau tergantung pada bibit toko yang mahal.

Beni memilih menyemai bibitnya sendiri. Ia rawat sejak masih berupa benih kecil di polibag.

Kunci hemat lainnya ada pada isi tanah. Beni tidak melulu mengandalkan pupuk kimia yang harganya sering melejit. Ia justru memaksimalkan pupuk kompos. Lebih alami, lebih murah, dan membuat tanah tetap gembur dalam jangka panjang.

Ketekunan dan trik organik ini berbuah penghematan besar. "Kalau dihitung-hitung, biaya keseluruhannya sampai panen itu cuma Rp 12 ribu per batang," ungkapnya.

Mari kita bedah isi dompet Beni. Pakai matematika warung kopi saja.
Modal awal untuk 2.000 batang itu sekitar Rp 24 juta. Beres. Lalu, berapa cuannya?

Dari dua gelombang panen di Desa Seberang Taluk, Beni berhasil mengumpulkan total 1,1 ton cabe merah. Setara 1.100 kilogram.

Dengan harga jual rata-rata Rp 50 ribu per kilo ke warga sekitar, omzet kotor yang masuk ke kantong Beni tembus Rp 55 juta.

Sekarang kurangi dengan modal awal tadi. Hasilnya? Beni mengantongi keuntungan bersih sekitar Rp 31 juta!

Sebuah angka yang sangat fantastis untuk pekerjaan sampingan yang digarap hanya dua jam sehari. Angka itu jauh melampaui gaji pokoknya sebagai ASN kelurahan.

Menjadi petani cabe bikin mental Beni stabil sebagai ASN.

Anda tahu sendiri. Kadang di birokrasi, Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) telat cair. Itu hal biasa. Banyak ASN yang pusing tujuh keliling kalau TPP macet.

Beni tidak. Ia bisa tersenyum lega. Dapurnya tetap mengepul. Kehidupan sehari-hari sudah ditopang penuh oleh pohon-pohon cabenya.

Bagaimana seorang pegawai kelurahan bisa membagi waktu? Beni tersenyum. Kuncinya bukan ilmu gaib. Kuncinya adalah disiplin.

Beni menerapkan rumus sakral: satu jam pagi, satu jam sore. Sebelum berangkat kerja ke kantor kelurahan, Beni wajib ke ladang selama satu jam.

Mengontrol tanaman. Begitu juga sore hari, sepulang kantor. Satu jam lagi. Total dua jam sehari. Konsisten. Tanpa tapi, tanpa nanti.

"Banyak petani gagal karena tidak disiplin merawat," katanya.

Musuh paling menakutkan bagi petani cabe adalah hama. Terutama lalat buah. Sekali serang, panen bisa gagal total.

Beni punya trik unik. Selain modal pupuk kompos untuk nutrisi tanah, ia juga punya resep murah untuk menangkal hama. Ia memakai kotak telur bekas yang terbuat dari karton tebal. Kotak itu dibakar di sela-sela pohon cabe. Asapnya mengepul lembut.

"Saya pakai logika saja. Dulu orang tua kita kalau mengusir lalat di dapur pakai kotak telur. Saya praktekkan di ladang," kenang Beni.

Logika kampung itu manjur. Lalat buah kabur. Tentu saja, Beni tetap mengombinasikannya dengan obat tanaman yang terukur.

Kini, ladang Beni di Desa Seberang Taluk makin subur. Ada sekitar 2.000 batang cabe merah yang berbaris rapi.

Ia mulai menanam akhir tahun 2025 lalu. Hanya butuh waktu sekitar 60 hari, cabe-cabe itu sudah memerah. Siap petik.

Beni tidak pusing soal pasar. Ia tidak perlu mengemis pada tengkulak.
Warga sekitar Desa Seberang Taluk langsung datang membeli. Segar dari pohon.

"Yang penting itu kemauan dan disiplin. Itu saja kuncinya," tegas Beni.

Saat berbincang dengan riauin.com, Rabu (20/5/2026), Beni tiba-tiba terdiam. Ia teringat petuah kuno orang tua zaman dulu di kampungnya. Sebuah filosofi mendalam.

“Kalau hidup mau jujur, harus berani jadi petani.”

Di ladang, tidak ada yang bisa dimanipulasi. Tanah tidak pernah bohong. Kalau dirawat dengan jujur dan disiplin, hasilnya akan manis. Begitu juga sebaliknya.

Kini, nama Beni makin harum. Permintaan cabe merahnya terus melonjak. Bahkan, beberapa pengelola dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kuansing sudah mengikat janji dengannya.

Mereka sepakat mengambil pasokan rutin dari Beni. Jumlahnya 20 sampai 25 kilogram per minggu.

Beni Aprianto telah membuktikan. Menjadi ASN tidak harus mematikan kreativitas. Menjadi petani tidak harus meninggalkan seragam korpri.

Semua hanya soal satu jam pagi, satu jam sore. Dan tentu saja, sepotong keberanian untuk jujur pada tanah. (***)