Pemprov Riau Matangkan Konsep Pawai Sungai untuk MTQ di Kuansing


Selasa, 12 Mei 2026 - 18:41:11 WIB
Pemprov Riau Matangkan Konsep Pawai Sungai untuk MTQ di Kuansing

RIAUIN.COM - Penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-44 tingkat Provinsi Riau di Kabupaten Kuantan Singingi pada 26 Juni 2026 akan menampilkan wajah baru yang kental dengan unsur kearifan lokal. Pemerintah daerah sepakat mengganti tradisi pawai mobil hias dengan parade sampan hias yang akan melintasi aliran Sungai Kuantan.

Langkah ini diambil untuk mengintegrasikan nilai-nilai religius dengan identitas budaya "Kota Jalur". Sekretaris Daerah Provinsi Riau Syahrial Abdi menjelaskan bahwa inovasi dalam pawai taaruf tersebut bertujuan memberikan pengalaman visual yang berbeda bagi para kafilah dan wisatawan dibandingkan pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya.

Pemanfaatan jalur sungai sebagai panggung utama pawai dinilai sangat relevan dengan tradisi pacu jalur yang menjadi ikon Kabupaten Kuantan Singingi. Syahrial Abdi menyebutkan bahwa melalui konsep ini, kekayaan alur Sungai Kuantan dapat dioptimalkan sebagai daya tarik wisata religi yang diharapkan mampu mendongkrak ekonomi masyarakat setempat.

Selain aspek seremonial, momentum MTQ kali ini dirancang untuk memacu sektor pariwisata dan pemberdayaan pelaku UMKM di Riau. Pemerintah memproyeksikan lonjakan kunjungan yang akan berdampak langsung pada sektor penginapan dan perdagangan lokal selama kegiatan berlangsung.

Bupati Kuantan Singingi Suhardiman Amby menekankan bahwa keseimbangan antara tradisi dan nilai spiritual menjadi ruh utama dalam perhelatan tahun ini. Prinsip tersebut dituangkan dalam slogan khusus yang menggambarkan pola hidup masyarakat setempat.

Menurut Suhardiman Amby, slogan "Siang Bakayuah Malam Mangaji" diangkat untuk menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat Kuansing tetap menjunjung tinggi tradisi mendayung di sungai pada siang hari, namun tetap teguh dalam aktivitas mengaji dan memperdalam agama saat malam tiba. Strategi ini diharapkan membuat MTQ ke-44 tidak hanya sukses secara administratif, tetapi juga membekas sebagai ajang pelestarian budaya daerah. (Bil)