Foto: Saat Tim Polda Riau mengamankan pelangsir minyak beberapa waktu lalu di Kuansing
Laporan: Hendrianto.
RIAUIN.COM– Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Kuantan Singingi kembali menggeliat. Sempat lumpuh total selama beberapa pekan, kini mesin-mesin dompeng mulai kembali menderu di sepanjang aliran sungai.
Pulihnya aktivitas ilegal ini dipicu oleh kembali lancarnya pasokan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di pasar gelap. Sebelumnya, para penambang mengaku kesulitan mendapatkan stok solar subsidi akibat pengawasan ketat.
"Kemarin itu memang susah sekali cari minyak. Sekarang sudah gampang kembali," ujar salah seorang pemilik rakit PETI di Kuansing, Senin (11/5).
Meski pasokan kembali normal, para penambang harus merogoh kocek lebih dalam. Harga solar di tingkat eceran melonjak drastis. Saat ini, satu jerigen solar dibanderol seharga Rp400 ribu.
Harga ini naik signifikan dibanding sebelumnya yang hanya berada di angka Rp280 ribu per jerigen. Selisih Rp120 ribu tersebut tetap ditebus penambang demi menjaga operasional rakit tetap berjalan.
Kondisi "mati suri" sebelumnya terjadi setelah tim dari Polda Riau melakukan operasi besar-besaran. Petugas mengobrak-abrik gudang penimbunan dan memperketat pengawasan di setiap SPBU.
Langkah tersebut sempat dinilai ampuh. Para pelangsir minyak tidak berani beraktivitas. Tanpa pasokan solar, mata rantai aktivitas PETI di Kuansing praktis terputus total.
Namun, pengawasan ketat itu tampaknya mulai menemui celah. Kembalinya ketersediaan solar di lapangan menjadi bukti bahwa jalur distribusi ilegal kembali terbuka.
Kini, para penambang kembali beroperasi penuh. Bagi mereka, harga solar yang selangit bukan masalah utama. Selama barang tersedia di pasar eceran, roda ekskavasi dan mesin dompeng akan terus berputar membongkar daratan dan aliran sungai di Kuansing. (***)