Dua Kursi Satu To Lam


Senin, 13 April 2026 - 19:33:32 WIB
Dua Kursi Satu To Lam

Presiden Vietnam, To Lam

Oleh: Hendrianto

SELASA pekan lalu (7/4), Majelis Nasional Vietnam mengetok palu. Bulat. Tanpa sisa. To Lam resmi jadi Presiden Vietnam untuk lima tahun ke depan.

Tapi, ini bukan pelantikan biasa. Ini sejarah baru.

To Lam kini resmi memegang dua tongkat komando paling sakti di Hanoi: Presiden sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam.

Di sana, itu jabatan tertinggi. Puncak dari segala puncak.

Model ini baru bagi Vietnam. Dulu, mereka punya prinsip "Empat Pilar". Kekuasaan dibagi-bagi supaya tidak ada yang jadi "raja kecil". Sekarang? Polanya mulai mirip tetangganya : Tiongkok.

To Lam adalah Xi Jinping-nya Vietnam.

Para analis politik mulai kasak-kusuk. Ada yang khawatir. Katanya: "Hati-hati, kekuasaan yang terlalu kumpul di satu tangan bisa bikin negara makin otoriter."

Tapi, ada juga yang senang. Terutama mereka yang suka gerak cepat. Bayangkan, kalau satu orang pegang semua kendali, birokrasi tidak akan bertele-tele. Sat-set.

Lalu, bagaimana rakyat Vietnam menanggapi ini? Di warung-warung kopi di pinggir jalan Hanoi atau Saigon, suasananya campur aduk. Khas masyarakat yang sudah kenyang dengan dinamika partai tunggal.

Sebagian besar rakyatnya terutama kelas pekerja sebenarnya tidak terlalu ambil pusing soal siapa yang duduk di kursi presiden. Bagi mereka, yang penting satu: perut kenyang dan harga-harga stabil.

Mereka melihat To Lam sebagai sosok "tangan besi" yang bisa memberantas korupsi lewat kampanye "Tungku Membara".

Rakyat sudah lelah melihat pejabat yang memperkaya diri sendiri. Mereka berharap, dengan kekuasaan mutlak di tangan To Lam, pembersihan birokrasi bisa tuntas sampai ke akar-akarnya.

Ada rasa optimisme bahwa stabilitas politik akan membuat hidup mereka lebih tenang.

Tapi, di kalangan aktivis dan kaum intelektual muda, ada napas yang tertahan. Mereka khawatir ruang gerak berekspresi akan semakin sempit.

Jika dulu masih ada "gesekan" antar-faksi yang memberi sedikit celah kebebasan, sekarang semua pintu terasa tertutup rapat. Satu komando, satu suara.

Bagi mereka, stabilitas adalah berkah, tapi keseragaman adalah penjara.

DI tahun 2026 ini, persaingan dengan kita pun makin sengit. Ibarat balapan di sirkuit ASEAN, Indonesia dan Vietnam ini sedang saling intip spion.

Data terbaru kuartal I-2026 keluar. Vietnam bikin mata melotot: PDB mereka melesat 7,83 persen! Tertinggi dalam 16 tahun terakhir. Gila.

Mesin industri dan konstruksi mereka lagi panas-panasnya. To Lam memang tidak main-main soal urusan "perut" negaranya.

Indonesia sebenarnya tidak jelek. Ekonomi kita diprediksi tumbuh stabil di angka 5,1 sampai 5,3 persen tahun ini. Tapi kalau dibanding lari sprint-nya Vietnam, kita memang terasa lebih seperti pelari maraton: stabil, nafas panjang, tapi belum bisa secepat kilat.

Vietnam itu lincah. Mereka punya 15 perjanjian dagang bebas (FTA). Urusan bikin izin usaha? Cuma butuh 15 hari. Bandingkan dengan kita yang rata-rata masih sebulan lebih. Biaya buruh mereka juga masih lebih "seksi" di mata pabrikan global.

Tapi, Indonesia punya senjata rahasia: Pasar raksasa. 280 juta mulut yang siap belanja. Kita punya nikel, punya ambisi swasembada, dan punya daya tahan domestik yang kuat.

Masalahnya, Vietnam kini mulai bosan cuma jadi "tukang jahit" dunia. To Lam ingin mereka masuk ke high-tech semikonduktor, dan energi hijau. Menyaingi posisi kita.

Ada awan mendung memang. Namanya kekuasaan mutlak, pasti ada risikonya. Investor takut pada favoritisme. Rakyat takut pada pengawasan yang terlalu ketat.

Dan ekonomi yang dipacu terlalu kencang seringkali meninggalkan lubang gelembung aset di belakang.

Apakah model "Dua Kursi Satu To Lam" ini akan membawa Vietnam terbang melampaui tetangganya? Ataukah justru akan terjebak dalam pusaran kekuasaan yang terlalu dingin?

Yang jelas, To Lam sudah memegang kuncinya. Kita tinggal menonton bagaimana dia menyetir mobil besar itu. 

Sambil menyeruput Ca Phe Sua Da—kopi susu khas sana. Pahit-pahit manis. (***)

(Penulis merupakan Jurnalis riauin.com