Presiden Repunlik Indonesia, Prabowo Soebianto
Oleh: Hendrianto.
ADA yang sewot. Katanya: Presiden Prabowo hobi jalan-jalan. Ke luar negeri terus. Boros anggaran. Begitu narasi yang dilempar oleh mereka yang hatinya lagi kurang enak atau matanya kurang jernih melihat peta dunia.
Mari kita buka data. Jangan pakai perasaan. Prabowo bukan sedang turis. Beliau tidak sedang cari swafoto. Beliau sedang melakukan tugas yang sudah lama kita rindukan: menjemput bola. Menaruh Indonesia kembali di peta persaingan global sebagai pemain utama, bukan penonton.
Lihat hasilnya. Nyata dan terukur.
Dalam rangkaian kunjungan perdananya, angka yang dibawa pulang bukan sekadar janji di atas kertas. Total komitmen investasi mencapai lebih dari USD 18,5 Miliar atau sekitar Rp294 Triliun.
Mari kita bedah secara akurat per negara:.Pertama, Tiongkok (Beijing). Prabowo tidak hanya bersalaman dengan Xi Jinping. Beliau menyaksikan penandatanganan kesepakatan senilai USD 10,07 Miliar. Uangnya masuk ke sektor manufaktur canggih, energi terbarukan, dan ketahanan pangan. Ada 20 perusahaan besar yang langsung mengikat komitmen.
Kedua, Amerika Serikat (Washington D.C.). Di sini bukan soal angka semata, tapi trus. Prabowo mengunci dukungan dari raksasa teknologi dan energi. Hilirisasi mineral kritis untuk baterai kendaraan listrik (EV) menjadi agenda utama. AS mengakui peran strategis Indonesia.
Ketiga, Inggris (London). Hasilnya "mewah". Prabowo membawa pulang komitmen investasi sebesar USD 8,5 Miliar. Rinciannya? USD 7 Miliar dari British Petroleum (BP) untuk proyek gas alam dan energi rendah karbon. Sisanya, USD 1,5 Miliar untuk sektor keberlanjutan dan teknologi semikonduktor lewat Arm Limited.
Keempat, Jepang & Korea Selatan. Hasilnya spektakuler. Di Tokyo, komitmen investasi mencapai USD 23,6 Miliar (sekitar Rp401 Triliun) untuk transisi energi dan industri otomotif.
Sementara di Seoul, beliau mengamankan USD 10,2 Miliar (sekitar Rp173 Triliun) untuk pengembangan teknologi AI, baja, dan ekosistem baterai listrik.
Jika ditotal, angka komitmen investasi ini menembus Rp860 Triliun. Sebuah angka yang cukup untuk mendiamkan suara nyinyir.
Dalam bisnis global, kepercayaan (trust) adalah mata uang utama. Dan trust tidak bisa dibangun lewat Zoom call. Harus tatap mata. Harus jabat tangan. Para pemimpin dunia melihat Indonesia punya pemimpin yang berwibawa dan punya posisi tawar.
Jadi, kalau masih ada yang sewot, mungkin mereka perlu kacamata baru. Kacamata yang lensanya data, bukan sentimen.
Mengkritik itu hak. Tapi menutup mata pada fakta itu rugi. Indonesia sedang lari kencang. Presidennya jadi lokomotif di depan. Hasilnya bukan sekadar angka, tapi lapangan kerja dan kemandirian ekonomi.
Satu hal yang pasti: dompet negara tidak akan tebal kalau pemimpinnya hanya jago kandang. Diplomasi itu investasi. Dan investasi Prabowo kali ini? Jelas kelas berat. (***)
(Penulis merupakan Jurnalis di riauin.com)