Sapa Warga Iwakusi di Kepri, Bupati Suhardiman Amby Serahkan Bantuan Pangan dan Kursi Roda


Rabu, 08 April 2026 - 23:58:00 WIB
Sapa Warga Iwakusi di Kepri, Bupati Suhardiman Amby Serahkan Bantuan Pangan dan Kursi Roda

Acara Silaturahmi Bupati Kuansing dengan IIwakusi di Tanjung Pinang, Kepri. 

Laporan: Hendrianto.

RIAUIN. COM- Jarak bukan penghalang bagi Dr. Suhardiman Amby. Bupati Kuantan Singingi (Kuansing) itu memilih terbang ke Kepri. Tujuannya satu: menemui warganya di perantauan.

Acara dikemas santai. Halal bihalal. Lokasinya bukan di gedung mewah. Bukan pula di hotel berbintang. Padahal, bupati sempat menawarkan itu.

Warga menolak halus. Lewat pengurus Iwakusi, mereka punya permintaan khusus: "Kami ingin bupati datang ke tempat kami tinggal."

Maka, jadilah. 

Pertemuan digelar di Kampung Taluk, Kelurahan Kampung Bugis, Senggarang. Nama kampungnya saja sudah "Kuansing banget".

Ketua IWAKUSI Tanjungpinang-Bintan, H. Dadang, sampai terharu. Dia tak menyangka "Orang Nomor Satu" Kuansing itu masih ingat warganya yang jauh di seberang.

"Sangat berarti. Kami tidak dilupakan," ujar Dadang, singkat.

Suhardiman tidak datang dengan tangan hampa. Ada lima unit kursi roda yang dia serahkan. Langsung untuk warga yang membutuhkan. Masih ditambah lagi: bantuan pangan setengah ton beras untuk 350 KK dan bantuan untuk mushola.

Kabag Umum Setda Kuansing, Deswan Antoni melalui pesan singkat menjelaskan, Bupati berpesan kepada warga Kuansing di rantau harus jaga martabat.

Caranya? Kompak. Ikut satu komando pemerintah setempat. Dukung penuh program pembangunan di Tanjungpinang.

Bupati Suhardiman bahkan menitipkan langsung warganya kepada Lis Darmansyah.

" Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung," begitu intisari pesan yang disampaikan kata Kabag Umum Setda Kuansing, Deswan Antoni.

Di sana, Suhardiman tidak sendiri. Ada Sekda Zulkarnaen dan sejumlah pejabat Kuansing yang mendampingi. 

Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, juga hadir di lokasi. Lis kagum. Menurutnya, di zaman WhatsApp sekarang, orang bisa saja cukup kirim ucapan. Kata-kata indah. Stiker maaf-maafan. Selesai.

"Tapi itu tidak sama nilainya dengan tatap muka. Ada rindu yang hanya bisa tuntas dengan bertemu langsung," ujar Lis.

Malam itu, rindu warga terobati. Di sebuah kampung di tepi Tanjung Pinang, mereka merasa tidak sedang merantau. Mereka merasa pulang ke rumah. (***)