Gambar ilustrasi dari AI
DI dunia yang semakin tidak menentu, konflik dan krisis datang silih berganti tanpa peringatan. Mulai dari pandemi global, kini konflik perang internasional dan krisis minyak yang menekan ekonomi dunia tentu memberikan dampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat.
Bekerja dari Rumah (BDR) dan Pengajaran dan Pembelajaran di Rumah (PdPr) bukan lagi istilah asing bagi masyarakat Malaysia. Keduanya pernah menjadi "penyelamat" ketika dunia dilanda pandemi lima tahun lalu. Namun, dalam konteks krisis saat ini seperti kenaikan harga minyak akibat konflik geopolitik dan peperangan, kedua pendekatan ini muncul kembali sebagai solusi yang dinilai sangat praktis dan signifikan.
Dengan biaya bahan bakar yang semakin melonjak, pergerakan fisik ke tempat kerja dan sekolah menjadi beban bagi banyak pihak. Maka, apakah BDR dan PdPr mampu menjadi jawaban jangka panjang sebagai mekanisme adaptasi modern?
Dalam konteks global, krisis minyak yang disebabkan oleh konflik peperangan telah meningkatkan biaya logistik dan transportasi. Melalui pelaksanaan BDR dan PdPr, secara tidak langsung hal ini membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Dengan berkurangnya pergerakan fisik, maka penggunaan minyak dapat dikurangi, sekaligus berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan. Dari sudut ekonomi, BDR memberikan kelegaan yang nyata bagi pekerja.
Berkurangnya kebutuhan perjalanan harian tidak hanya menghemat biaya minyak, tetapi juga mengurangi tekanan hidup akibat kenaikan harga barang yang semakin tidak menentu. Bayangkan seorang pekerja kantoran di kota besar yang harus mengeluarkan biaya tinggi untuk bensin setiap minggunya, tentu akan merasa tertekan dengan keadaan saat ini. Dengan BDR, beban ini dapat dikurangi secara signifikan dan pada saat yang sama, pemberi kerja juga dapat menghemat biaya operasional seperti utilitas, perawatan kantor, dan biaya-biaya lain yang terkait.
Namun demikian, apakah semua sektor cocok untuk BDR? Pemerintah terutama perlu mempertajam kembali metode ini sebagai upaya memperkuat dan merapikan pelaksanaan pengaturan kerja fleksibel saat krisis global. Mungkin ada sebagian orang menganggap metode ini tidak lagi efektif karena tidak terkait dengan pandemi Covid-19. Namun, hal ini menunjukkan kepedulian pemerintah dalam membantu rakyat meringankan beban dan biaya hidup ketika menghadapi krisis energi global ini. Sektor manufaktur dan produksi, misalnya, layanan fisik dan pekerjaan berbasis operasi lapangan masih memerlukan kehadiran fisik dan tidak dapat dilaksanakan di rumah.
Dalam sektor pendidikan Malaysia, PdPr memainkan peran penting dalam memastikan keberlangsungan pembelajaran. Ketika konflik peperangan mengganggu stabilitas suatu negara atau kawasan, sistem pendidikan sering menjadi sasaran. Sekolah ditutup, siswa terpaksa mengungsi, dan akses terhadap pendidikan terganggu. PdPr memungkinkan pembelajaran tetap berjalan meskipun dalam keadaan tidak menentu. Namun, tantangan PdPr tidak bisa dipandang remeh. Adanya kesenjangan digital, terutama di kawasan pedesaan atau di kalangan keluarga berpendapatan rendah, menyulitkan proses PdPr berlangsung.
Pertanyaannya, bagaimana kita bisa memastikan tidak ada siswa yang tertinggal dalam sistem ini? Investasi dalam infrastruktur digital perlu ditingkatkan, termasuk penyediaan internet yang terjangkau dan perangkat bagi siswa yang membutuhkan. Selain itu, pelatihan kepada guru juga perlu diperkuat agar mereka mampu mengelola PdPr dengan lebih efektif dan interaktif dalam segala situasi krisis yang terjadi.
Kita tidak boleh terlalu bergantung pada pendekatan ini tanpa memperbaiki kelemahan yang ada. Isu kesehatan mental, misalnya, sering menjadi kekhawatiran di kalangan pekerja dan siswa yang terlalu lama berada di rumah. Kurangnya interaksi sosial dapat menyebabkan stres, kesepian, dan penurunan motivasi. Hal ini karena tekanan kerja dan beban tugas serta ketidakseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan sering kali memberikan dampak negatif terhadap kesejahteraan mental pekerja.
Jadi, apa yang perlu kita pahami dari mereka (para pekerja) yang bekerja dari rumah adalah bahwa mereka menghadapi berbagai tantangan, misalnya melakukan rapat daring, namun akses internet tidak stabil dan ada gangguan suara. Ini karena rumah bukanlah suasana yang kondusif untuk bekerja meskipun dalam keadaan terpaksa. Oleh karena itu, mental dan fisik mereka harus siap menerima segala hambatan dan tantangan dalam melaksanakan BDR ini.
Karena itu, krisis seperti peperangan dan kenaikan harga minyak mungkin berada di luar kendali kita. Namun, cara kita merespons krisis tersebut berada di tangan kita sendiri. BDR dan PdPr bukan sekadar alternatif sementara, tetapi berpotensi menjadi strategi penting dalam memastikan kelangsungan hidup dan kesejahteraan masyarakat. Di dunia yang penuh ketidakpastian ini, kelenturan dan kemampuan beradaptasi adalah kuncinya.
Maka, pertanyaannya bukan lagi apakah kita perlu berubah, tetapi sejauh mana kita bersedia berubah demi masa depan yang lebih stabil dan berkelanjutan. Gunakanlah teknologi dengan bijak karena teknologi diciptakan untuk membantu dan memudahkan urusan sehari-hari kita. ***
Prof. Madya Ts. Dr. Muhamad Saufi Che Rusuli adalah Dosen di Pusat Pengajian Manajemen Bisnis, Universitas Utara Malaysia (UUM). Artikel ini merupakan pemahaman dan ideologi penulis dalam bidang manajemen teknologi.