Assoc Prof Eka Putra ST MSc PhD
KITA sering membayangkan perang sebagai ledakan, asap, dan pasukan yang bergerak di medan tempur. Tapi coba lihat layar ponsel Anda. Di sanalah pertempuran sesungguhnya kini terjadi. Sementara rudal dan drone saling diluncurkan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, ada front lain yang jauh lebih ramai tapi tak kalah sengit: ruang digital. Telegram, X, TikTok, YouTube, Instagram—semuanya berubah jadi arena propaganda tanpa batas.
Iran bikin video dramatis ala film action. AS sok rasional dengan bahasa teknis militer yang bikin pusing. Israel main aman dengan rekrut influencer dan konten AI murahan. Di tengah hiruk-pikuk klaim dan bantahan yang saling tabrak, publik global jadi korban utama. Kita terperangkap dalam ruang gema, dibakar algoritma yang doyan amarah, dan perlahan kehilangan pijakan pada fakta. Dari kaca mata komunikasi, perang ini bukan cuma konflik fisik. Ini laboratorium propaganda digital terbesar dekade ini. Dan kita semua, tanpa sadar, adalah sasarannya.
Iran: Antara Blokir Medsos dan Jagoan Telegram
Iran itu unik. Di satu sisi, mereka pusing sama penetrasi budaya Barat, makanya platform kayak X, Facebook, Instagram diblokir. Tapi justru karena diblokir, mereka jadi kreatif dengan cara yang mungkin nggak terduga: fokus ke Telegram. Kenapa Telegram? Karena platform ini susah disadap intelijen Barat, dan fitur saluran publiknya bisa menjangkau siapa saja tanpa batas.
Iran juga jago bikin akun-akun boneka. Biasanya ngaku-ngaku sebagai "aktivis independen" atau "jurnalis warga". Mereka rajin nyebarin konten berbahasa Arab buat Hizbullah dan Houthi, sekaligus konten Inggris buat pendukung kiri di Barat. Narasi andalannya sederhana: "Kami yang tertindas, berani melawan superioritas Barat-Zionis".
Pintar, kan? Meskipun secara militer dan ekonomi lebih lemah, mereka berhasil membalik posisi jadi pejuang kebenaran yang melawan raksasa imperialis.
Setiap serangan balasan Iran berupa rudal, drone Shahed, atau serangan siber, langsung diklaim sebagai "kemenangan strategis". Tidak peduli dampak nyatanya. Misalnya rudal nyasar ke area kosong dekat pangkalan AS, mereka nggak bilang "gagal". Sebaliknya: "Ini bukti kita bisa tembus Iron Dome dan Patriot." Propaganda macam ini tidak butuh bukti objektif. Cukup persepsi. Orang percaya, itu sudah cukup.
Yang paling bikin geleng-geleng kepala adalah video pendek editan dramatis mereka. Durasi 15–30 detik, berisi ledakan malam hari dengan musik epik kayak soundtrack film perang, ditambah anak panah merah atau lingkaran kuning yang nunjukin "pangkalan AS hancur total". Padahal citra satelit independen beberapa kali menunjukkan kerusakan minim, bahkan nyaris nihil. Tapi ya itu tadi, tujuannya bukan akurasi. Tujuannya emosi. Video-video ini dirancang buat menggalang simpati negara-negara Global South, terutama yang Muslim atau anti-imperialis, sekaligus memompa semangat pendukung Hizbullah dan Houthi.
Satu video viral, dan Iran sudah menang di ruang digital tanpa harus menang di medan perang. Propaganda digital versi Iran: murah, cepat, dan sangat efektif buat audiens yang haus simbol perlawanan.
Amerika Serikat: Sok Rasional di Tengah Kekacauan
Sekarang giliran AS. Dengan kekuatan media global yang nggak diragukan lagi—AP, Reuters, CNN, jaringan satelit, sampai kemitraan dengan platform digital—mereka mengusung satu narasi utama: "Amerika tak mau perang, tapi kami akan lindungi sekutu dan kepentingan kami."
Setiap serangan balasan AS, sekecil apapun, dibungkus pakai bahasa teknis militer yang steril. Kata-kata seperti "serangan presisi terhadap fasilitas penyimpanan rudal", "respons proporsional", "tindakan de-eskalasi", hingga "menghilangkan ancaman iminen" (ancaman yang akan segera terjadi dan tidak bisa ditunda lagi).
Kata-kata ini diulang-ulang di setiap konferensi pers Donald Trump dan Pentagon. Bahasa yang sengaja dibuat tanpa emosi, tanpa nuansa politis, seolah-olah yang terjadi hanyalah hitung-hitungan rasional antara target dan risiko. Ini cara mereka membangun ilusi ketenangan dan kontrol di tengah kekacauan perang.
Tapi masalahnya, media sosial tidak bisa dikendalikan sepenuhnya. Framing "presisi" dan "proporsional" langsung ambruk begitu akun-akun pro-Palestina dan pro-Iran mulai menyebarkan foto-foto korban sipil. Anak-anak berlumuran darah. Rumah sakit hancur. Iring-iringan jenazah panjang. Klaim AS bahwa serangan cuma menyasar fasilitas militer jadi kontras banget dengan realitas visual yang berserakan di linimasa X, Telegram, TikTok.
Maka muncullah yang saya sebut perang klip. Cuma 30 detik video amatir dari warga sipil di lokasi serangan mampu membatalkan 30 menit konferensi pers pejabat Pentagon yang didukung grafik dan data intelijen. Sungguh ironis. Kredibilitas institusional yang dibangun bertahun-tahun bisa lenyap dalam hitungan jam oleh satu klip yang bahkan belum tentu terverifikasi.
Ironisnya lagi, AS sebenarnya punya tim komunikasi krisis yang canggih. Ada tim verifikasi fakta, ada respons cepat. Tapi birokrasinya gila. Klarifikasi harus lewat juru bicara, disetujui lintas lembaga (Pentagon, Gedung Putih, Departemen Luar Negeri), plus verifikasi intelijen. Di saat kecepatan adalah segalanya, mereka malah lambat. Sementara akun-akun proksi pro-Iran tidak punya beban verifikasi. Mereka bisa unggah klaim apapun dalam hitungan detik.
Akibatnya, AS selalu bermain di posisi bereaksi. Bukan menciptakan narasi pertama, tapi membantah narasi yang sudah viral.
Di era algoritma yang mengutamakan konten pertama dan paling emosional, strategi AS yang hati-hati itu malah terlihat lamban dan tidak otentik. Inilah hiper-realitas ala Amerika: bangunan rasionalitas yang megah, tapi retak oleh kecepatan liar media sosial.
Israel: Hasbara 2.0, dari Konferensi Pers ke TikTok
Israel dulu terkenal dengan hasbara, yakni diplomasi publik gaya lama: konferensi pers, opini di koran bergengsi, lobi di parlemen asing. Tapi sekarang mereka sudah tinggalkan semua itu. Selamat datang di era Hasbara 2.0. Sebuah operasi komunikasi digital massal yang rekrut ribuan relawan yang kebanyakan anak muda fasih Inggris, Arab hingga Indonesia plus influencer pro-Israel dengan jutaan pengikut di TikTok, Instagram, dan X.
Mereka dilatih secara informal lewat saluran Telegram tertutup. Diberi "paket konten": video, infografis, narasi siap pakai. Narasi utamanya sederhana tapi kuat: "Kami berjuang melawan poros teror—Iran, Hizbullah, Houthi—yang ingin menghancurkan satu-satunya demokrasi di Timur Tengah." Setiap serangan Iran, sekecil apapun, langsung dibingkai sebagai "ancaman eksistensial" yang disamakan dengan Holocaust. Sementara itu, respons militer Israel sendiri—pemboman di Suriah atau Irak, misalnya—jarang ditampilkan secara grafis. Yang muncul justru peta ancaman, animasi rudal datang dari Teheran, dan testimoni warga Israel yang ketakutan.
Yang membuat Israel berbeda dari Iran atau AS adalah keberanian mereka pakai teknologi manipulasi digital generasi baru. Bukan deepfake sempurna yang mudah dideteksi, tapi deepfake ringan. Potongan audio pendek yang diedit seolah-olah pemimpin Iran (misalnya Hossein Salami atau Ali Khamenei) lagi merencanakan pembantaian terhadap warga Yahudi. Atau tangkapan layar WhatsApp palsu yang menunjukkan koordinasi serangan dari Tehran.
Mereka juga gencar produksi konten AI. Simulasi video realistis tentang apa yang bakal terjadi kalau rudal Iran menghantam pusat kota Tel Aviv—lengkap dengan suara ledakan dan teriakan. Meski sering terbukti manipulatif setelah diperiksa jurnalis independen, konten semacam itu punya masa hidup singkat tapi padat. Cukup viral 24–48 jam untuk membentuk opini publik global sebelum klaimnya dibantah. Di era algoritma, kecepatan lebih penting daripada kebenaran jangka panjang.
Tapi strategi ini bukan bebas risiko. Semakin sering Israel pakai konten manipulatif, semakin tergerus kredibilitasnya di mata publik yang melek media. Akun-akun pemeriksa fakta seperti Snopes, Bellingcat, bahkan komunitas terbuka di X, mulai rutin membongkar klaim-klaim palsu Israel. Suatu hari nanti, kalau Israel benar-benar punya bukti otentik ancaman nyata dari Iran, publik bakal cenderung skeptis. Fenomena ini dalam komunikasi disebut cry wolf effect atau efek serigala datang.
Belum lagi soal influencer bayaran. Beberapa influencer besar pernah kehilangan pengikut setelah ketahuan menerima bayaran untuk nyebarin narasi perang tanpa transparansi. Jadi Hasbara 2.0 ala Israel itu pisau bermata dua: efektif buat kemenangan jangka pendek di ruang digital, tapi berbahaya buat reputasi jangka panjang sebagai "satu-satunya demokrasi yang jujur" di kawasan itu.
Media Sosial: Sumber Informasi Utama yang Mengkhianati Kita
Coba lihat kebiasaan kita sehari-hari. Buat masyarakat biasa di Indonesia, Eropa, atau Amerika Latin, media sosial udah lama bukan cuma tempat bersosialisasi. Ia jadi sumber informasi utama tentang peristiwa global. Saat konflik Iran vs AS-Israel meletus, kebanyakan orang nggak nunggu koran atau TV. Mereka buka X, scroll TikTok, klik Youtube atau cek Telegram.
Masalahnya, informasi yang sampai bukanlah hasil jurnalisme yang diverifikasi. Itu cuma potongan-potongan narasi yang sudah dibumbui kepentingan pihak-pihak yang bertikai. Setiap dari kita jadi editor bagi diri sendiri. Kita milih konten yang paling mudah dicerna dan paling membenarkan prasangka kita sendiri. Dalam kondisi begini, fakta objektif seperti jumlah korban sipil yang sebenarnya, lokasi persis serangan, kebenaran klaim rudal hipersonik, menjadi barang langka. Bahkan tak dicari lagi.
Fenomena ruang gema (echo chamber) bekerja dengan kejam. Pendukung Iran—yang mungkin simpatik pada perlawanan Palestina atau sekadar anti-imperialis—cuma akan lihat konten tentang "agresivitas AS-Israel". Video warga Gaza menangis. Analisis konspirasi tentang kekejaman Zionis. Klaim kemenangan pasukan proksi Iran. Sebaliknya, pendukung Barat atau pro-Israel cuma disuguhi konten tentang "kebiadaban rezim Iran": eksekusi pengunjuk rasa, ancaman nuklir, serangan ke kapal tanker.
Kedua kelompok ini hampir tidak pernah bertemu di ruang digital yang sama. Algoritma platform dengan rajin memastikan setiap pengguna tetap nyaman dalam gelembungnya sendiri. Yang terjadi bukan dialog, tapi polaritas yang mengeras. Setiap pihak merasa punya kebenaran mutlak. Pihak lain dianggap korup atau bodoh.
Dan yang lebih parah lagi adalah algoritma platform seperti X, TikTok, dan Facebook secara sistematis menguntungkan konten yang paling emosional, ekstrem, dan provokatif. Bukan kebetulan video tentara Israel yang tertawa di samping reruntuhan rumah warga Iran, atau sebaliknya, video warga Iran yang merayakan serangan ke pangkalan AS bisa viral luar biasa.
Kemarahan adalah bahan bakar paling efisien untuk engagement. Setiap like, share, dan komentar penuh amarah ngasih sinyal ke algoritma: "Konten ini layak disebar lebih luas." Akibatnya, narasi yang sejuk, faktual, dan bernuansa—misalnya analisis kompleksitas geopolitik atau seruan menahan diri—tenggelam dalam banjir konten hitam-putih. Platform media sosial nggak dirancang untuk mendinginkan konflik. Ia dirancang untuk membakar emosi.
Dalam pusaran propaganda yang saling bertubrukan, banyak dari kita justru bingung kronis. Sebuah klaim muncul pagi hari, viral siang hari, dibantah sore hari. Tapi bantahannya cuma dilihat segelintir orang, sementara klaim awal udah ditonton puluhan juta kali. Masyarakat kehilangan pijakan. Siapa yang nembak lebih dulu? Rudal Iran beneran tembus Iron Dome? AS beneran ngebom rumah sakit?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini jadi tak penting. Yang penting adalah narasi mana yang lebih dulu membekas di memori kolektif. Krisis kepercayaan ini meluas nggak cuma ke pihak yang bertikai, tapi juga ke media arus utama, jurnalis independen, bahkan PBB. Dalam situasi "perang semua melawan semua", publik cenderung mundur ke tribalisme informasi: cuma percaya sumber yang sealiran, dan menolak semua yang lain sebagai propaganda musuh.
Kalau konflik ini berlangsung lama, dampaknya bakal permanen. Generasi muda yang tumbuh dengan perang narasi digital akan menginternalisasi cara pikir tegas: kawan atau lawan, baik atau jahat, tak ada yang abu-abu. Solidaritas transnasional, misalnya gerakan perdamaian yang dulu bisa menyatukan rakyat AS dan Vietnam, atau Israel dan Palestina, menjadi hampir mustahil. Setiap upaya dialog langsung dicurigai sebagai pengkhianatan.
Di negara-negara seperti Indonesia, polaritas ini juga bisa merusak kohesi sosial. Warga yang beda pandangan soal konflik Iran-Israel bisa saling hujat dan putus hubungan pertemanan. Lebih jauh lagi, kemampuan publik buat menilai krisis global di masa depan—perang baru, pandemi, atau bencana iklim—bakal terhambat oleh kelelahan informasi dan sinisme yang merajalela. Perang narasi ini nggak cuma memanaskan konflik hari ini, tapi juga meracuni akal sehat publik buat tahun-tahun mendatang.
Kita Bukan Sekadar Penonton
Dari sudut pandang komunikasi, perang Iran vs AS-Israel saat ini bukan cuma konflik militer. Ini laboratorium propaganda digital terbesar dekade ini. Tiga pihak—masing-masing dengan kelebihan dan kelemahannya—telah mengubah media sosial jadi medan pertempuran narasi. Iran pintar memakai Telegram dan video dramatis buat membangun citra perlawanan. AS mengandalkan framing teknis-militer yang ternyata rapuh di hadapan kecepatan medsos. Israel rekrut influencer dan deepfake ringan buat kemenangan jangka pendek. Dan publik global jadi korban sekaligus aktor dalam ruang gema yang memecah belah.
Sebagai pembaca, sebagai warganet, kita dituntut melek media. Tidak cukup hanya marah-marah atau share tanpa cek. Kemudian repost, isi kolom komentar dengan bahasa emosional, atau posting status guna meluahkan kegeraman. Setiap klaim viral perlu diverifikasi. Setiap video dramatis patut dicurigai konteks aslinya. Setiap kemarahan yang membuncah sebaiknya ditahan sejenak buat bertanya: "Siapa yang diuntungkan kalau saya percaya ini?"
Karena di era ini, senjata paling mematikan bukanlah rudal hipersonik. Melainkan algoritma yang dengan senang hati membakar amarah kita. Kita mungkin tak bisa menghentikan perang fisik di Timur Tengah. Tapi setidaknya, kita bisa menolak jadi korban perang narasi di genggaman tangan kita sendiri. ***
Assoc Prof Eka Putra ST MSc PhD. Penulis adalah dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhamadiyah Riau dan juga Pemimpin Redaksi Riauin.com.