THR: Tabungan Hari Raya atau Tiba-tiba Hilang Rencananya?


Senin, 16 Maret 2026 - 14:09:07 WIB
THR: Tabungan Hari Raya atau Tiba-tiba Hilang Rencananya?

Oleh: Hendrianto.

MEMASUKI pertengahan Ramadan, ada sebuah fenomena alam yang lebih dinanti daripada takjil gratis: munculnya Hilal Rekening. Di saat para astronom sibuk melihat bulan, para karyawan lebih sibuk melakukan "astronomi m-banking".

Mata mulai nanar menatap layar ponsel, berharap muncul notifikasi ajaib yang menandakan dana THR sudah mendarat dengan selamat. Maklum, saat ini kondisi keuangan sebagian besar dari kita sedang berada di fase "Kritis-tianity"—sebuah kondisi medis di mana dompet sudah stadium empat, tipisnya melebihi selembar tisu wajah.

THR adalah satu-satunya napas buatan yang diharapkan bisa menyelamatkan kita dari kepunahan sebelum Lebaran tiba. Bagi kamus besar bahasa kantong, THR bukan lagi sekadar Tunjangan Hari Raya.

Berdasarkan riset mendalam di warung terdekat, THR kini punya kepanjangan yang lebih akurat, Tagihan Harus Rampung (THR), sebuah momen di mana uang masuk lewat pintu depan (rekening), tapi langsung kabur lewat pintu belakang (bayar cicilan, pinjol, dan utang ke teman).

Teman Hadir Reuni (THR), fenomena di mana tiba-tiba grup WhatsApp SD yang sudah mati suri mendadak "ping!" karena ada yang mengajak bukber di sebuah restoran.

Turunnya Hanya Relepan (THR), alias cuma numpang lewat. Pagi masuk, sore sudah "Innalillahi".

Menerima THR itu seperti naik roller coaster emosional. Ada fase Euforia-isme, di mana kita merasa sekaya Sultan Andara selama 15 menit pertama. Di fase ini, kita merasa mampu membeli seluruh isi mal, termasuk satpamnya jika perlu.

Namun, fase ini segera berganti menjadi Zakat-ul Fitnah. Di sini, kita mulai menyadari bahwa jumlah keponakan ternyata tumbuh lebih cepat daripada bunga bank. Membagikan amplop kepada mereka adalah bentuk "pajak silaturahmi" yang tidak bisa dihindari.

Anak kecil zaman sekarang sudah punya detektor 'uang palsu' kasih mereka uang warna hijau, mereka bakal cemberut seolah kita baru saja merampas mainan mereka. Maunya yang "Merah Membara" (100 ribu) atau minimal yang "Biru Langit" (50 ribu).

Konflik makin memuncak saat urusan mudik dimulai. Harga tiket transportasi mendadak naik melampaui logika manusia normal. Ini bukan lagi "Harga Teman", tapi "Harga Musuh" yang dibalut senyuman.

Belum lagi fenomena Open House di kampung halaman. Bagi sebagian orang, Open House sebenarnya adalah kode rahasia untuk Open Wallet. 

Di saat itulah saldo THR kita yang tadinya setinggi gunung, perlahan-lahan terkikis menjadi selembar uang kucel di pojok dompet yang hanya cukup untuk beli mi instan setelah pulang mudik nanti.

Kita harus sadar bahwa ada kehidupan setelah opor habis dan toples rengginang kosong. Kita akan memasuki bulan "Mei-nghemat" di mana air putih akan terasa seperti es teh manis karena keterbatasan dana.

Kesimpulannya, THR itu ibarat mantan yang datang di saat kita sedang sayang-sayangnya, dia datang membawa harapan besar, tapi perginya meninggalkan kenangan pahit dan saldo nol.

Tapi ya sudahlah, yang penting stok opor masih ada di kulkas dan status WhatsApp kita terlihat sedang bahagia. Selamat menikmati "numpang lewat"-nya THR!. (***)