Pemulihan TNTN Terkendala Lahan Relokasi 9.966 Hektar


Rabu, 04 Maret 2026 - 09:18:46 WIB
Pemulihan TNTN Terkendala Lahan Relokasi 9.966 Hektar

RIAUIN.COM - Pemerintah Provinsi Riau menyatakan masih membutuhkan lahan alternatif seluas 9.966 hektar untuk mempercepat pemulihan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo atau TNTN. Ketersediaan lahan cadangan tersebut menjadi kunci untuk merelokasi warga yang saat ini masih bermukim di dalam kawasan konservasi.

Hal itu disampaikan Pelaksana Tugas Gubernur Riau SF Hariyanto saat memaparkan progres pemulihan TNTN di Desa Segati, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Selasa (3/3/2026). Berdasarkan pendataan terbaru, terdapat sekitar 10.600 hektar lahan di dalam kawasan yang masih dikuasai oleh 3.916 kepala keluarga (KK).

"Hingga saat ini, proses relokasi baru menyentuh 633 hektar dengan total 227 KK yang sudah dipindahkan. Jadi, masih ada kekurangan sekitar 9.966 hektar lahan alternatif yang perlu disiapkan," ujar SF Hariyanto.

Sebagai Ketua Tim Percepatan Pemulihan TNTN (TP2TNTN), ia menyebutkan bahwa pemetaan lahan alternatif sudah dilakukan. Namun, eksekusi pemindahan tersebut kini menunggu keputusan serta payung hukum dari pemerintah pusat.

SF Hariyanto menekankan bahwa pemulihan kawasan hutan yang rusak tidak boleh memicu konflik sosial baru. Oleh karena itu, pemerintah mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menata ulang kawasan yang telah berubah menjadi permukiman atau perkebunan tersebut.

"Penyelesaian ini harus terukur agar stabilitas sosial tetap terjaga. Kami di daerah siap mengawal implementasinya begitu ada keputusan di tingkat nasional," katanya.

Strategi pemulihan ke depan akan difokuskan pada tiga pilar utama, yakni penertiban kawasan, penyediaan lahan relokasi yang sah, serta reforestasi berbasis zonasi. Langkah ini dibarengi dengan pengawasan ketat agar perambahan tidak kembali berulang.

Pemerintah menargetkan pemulihan ekosistem TNTN rampung pada 2028 dengan total sasaran seluas 66.704 hektar. Untuk mencapai target itu, dukungan pembiayaan dan regulasi dari pusat dinilai sangat krusial.

"Harapan kami, Tesso Nilo bisa kembali ke fungsi asalnya sebagai kawasan konservasi yang utuh dan berkelanjutan," tutur SF Hariyanto. (Bil)