RIAUIN.COM - Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Provinsi Riau menginstruksikan pemerintah kabupaten dan kota untuk segera mengambil langkah mitigasi menghadapi musim kemarau. Instruksi ini dikeluarkan menyusul penurunan curah hujan dan meningkatnya titik panas di sejumlah wilayah.
Kepala BPBD Damkar Riau M Edy Afrizal melalui Kepala Bidang Kedaruratan Jim Gafur menjelaskan, berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan di Riau mulai berkurang signifikan, terutama di wilayah pesisir.
"Kami telah berkoordinasi dengan seluruh kepala BPBD di tingkat kabupaten dan kota. Kami meminta mereka melakukan langkah antisipatif guna menghadapi transisi cuaca menuju musim panas," ujar Jim Gafur di Pekanbaru.
Hingga awal tahun ini, BPBD mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah melanda 10 kabupaten dan kota di Riau dengan total luas lahan terbakar mencapai 182,76 hektar. Jim menambahkan bahwa jumlah titik panas (hotspot) terus merangkak naik, bahkan beberapa di antaranya telah terkonfirmasi sebagai titik api (firespot).
Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Riau mendorong daerah-daerah yang telah memenuhi kriteria untuk segera menetapkan status darurat karhutla. Hal ini diperlukan guna mempercepat koordinasi dan pengerahan sumber daya pemadaman.
"Titik panas terus meningkat. Kami mengimbau pemerintah daerah yang sudah memenuhi syarat agar segera menetapkan status siaga darurat," lanjutnya.
Berdasarkan data terbaru, berikut adalah rincian luasan karhutla di 10 wilayah terdampak, Bengkalis 65,51 hektar, Indragiri Hilir 36,50 hektar, Pelalawan: 21 hektar, Dumai 19,52 hektar, Pekanbaru 11,58 hektar, Siak 9,55 hektar, Kampar 8,50 hektar, Kepulauan Meranti 7,90 hektar, Kuantan Singingi 1,50 hektar, Indragiri Hulu 1,20 hektar.
Secara akumulatif, terpantau sebanyak 848 titik panas dengan 79 titik api di seluruh wilayah Riau. Pemerintah daerah juga diminta menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, mengingat kondisi cuaca yang kering sangat rentan memicu kebakaran skala besar. (Bil)