Riau Terima 20.000 Dosis Vaksin untuk Percepat Penanganan PMK


Jumat, 06 Februari 2026 - 12:03:11 WIB
Riau Terima 20.000 Dosis Vaksin untuk Percepat Penanganan PMK

RIAUIN.COM - Pemerintah Provinsi Riau menerima alokasi bantuan 20.000 dosis vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dari pemerintah pusat. Langkah ini merupakan bagian dari program nasional Akselerasi Vaksinasi PMK 2026 guna menekan angka penularan pada hewan ternak di wilayah tersebut.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Riau Mimi Yuliani Nazir menyatakan bahwa dari total bantuan tersebut, sebanyak 12.250 dosis telah didistribusikan ke berbagai kabupaten dan kota. Pelaksanaan vaksinasi dilakukan secara terpadu dengan melibatkan pemerintah daerah di tingkat kabupaten/kota.

"Target vaksinasi di Riau untuk bulan Februari ditetapkan sebanyak 10.000 dosis dan dilanjutkan 10.000 dosis lagi pada Maret. Ini adalah bagian dari percepatan tahap pertama periode Januari–Maret 2026," ujar Mimi Yuliani Nazir di Pekanbaru, Jumat (6/2/2026).

Setelah fase pertama usai, program vaksinasi akan berlanjut ke tahap kedua yang dijadwalkan pada Juli hingga September 2026. Dalam pelaksanaannya, UPT Pengembangan Ternak dan Pakan (PTP) DPKH Riau bekerja sama dengan dinas terkait di Kabupaten Kampar dan Kota Pekanbaru dengan target harian mencapai 200 dosis.

Mimi berharap akselerasi ini mampu melindungi kesehatan ternak secara berkelanjutan, menjaga produktivitas para peternak, serta memperkuat ketahanan pangan daerah.

Evaluasi Kasus 2025 Berdasarkan data DPKH Riau, sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 304 kasus PMK yang tersebar di delapan kabupaten dan kota. Dari total kasus tersebut, satu ekor ternak di Kota Dumai dilaporkan mati akibat virus tersebut.

Kabupaten Indragiri Hulu tercatat sebagai wilayah dengan sebaran kasus tertinggi, yakni 143 kasus. Menyusul kemudian Kabupaten Siak dengan 65 kasus, serta Kota Dumai dan Kabupaten Rokan Hulu yang masing-masing mencatatkan 25 kasus.

Adapun sebaran kasus lainnya meliputi Kabupaten Indragiri Hilir (19 kasus), Kabupaten Kampar (9 kasus), Pelalawan (6 kasus), serta Kuantan Singingi dan Bengkalis masing-masing 5 kasus. Sementara itu, Kabupaten Rokan Hilir mencatatkan angka terendah dengan 1 kasus. (Bil)