Kapan Warga Kuansing Tak Lagi Mengungsi ke Kota Orang?


Kamis, 22 Januari 2026 - 02:39:29 WIB
Kapan Warga Kuansing Tak Lagi Mengungsi ke Kota Orang?

Teluk Kuantan foto udara. 

Oleh: Hendrianto

SIAPA yang tidak kenal Teluk Kuantan? Kota ini adalah jantungnya para petarung jalur, tempat di mana harga diri dan kerja keras dipertaruhkan di sungai.

Tapi ada satu hal yang mengganjal di hati kita semua: mengapa untuk sekadar mengajak anak menonton film terbaru atau membeli sepatu bermerek, kita harus "mengungsi" ke Pekanbaru atau Padang?

Secara jujur kita harus akui, Teluk Kuantan saat ini baru berfungsi sebagai tempat mencari uang, tapi belum menjadi tempat untuk menikmati hidup.

Coba kita hitung secara manusiawi. Berapa banyak waktu yang habis di jalan? Empat jam pergi, empat jam pulang. Delapan jam waktu berharga bersama keluarga habis hanya untuk mencari hiburan yang seharusnya bisa ada di depan mata.

Masyarakat Kuansing itu pekerja keras—petani sawit yang gigih, ASN yang tekun, pedagang yang ulet. Mereka punya uang, mereka punya daya beli. Tapi sayangnya, uang itu tidak berputar di Tepian Narosa, melainkan lari ke kas daerah lain.

Banyak yang sinis dan bilang, "Untuk apa mall? Pasar tradisional saja sudah cukup." Ini pemikiran yang keliru. Mall bukan musuh pasar tradisional. Mall adalah tempat di mana anak muda kita bisa bekerja tanpa harus merantau jauh.

Mall adalah tempat di mana ibu-ibu bisa membawa bayinya berjalan-jalan dengan nyaman di ruangan ber-AC saat cuaca di luar sedang terik.

Kita butuh ruang publik yang modern. Kita butuh tempat di mana UMKM kita bisa memajang kerajinan lokal dengan lampu yang terang dan etalase yang cantik, agar nilai jualnya naik. Kita butuh mall sebagai simbol bahwa Teluk Kuantan bukan lagi "kota kecamatan besar", melainkan sebuah Ibu Kota Kabupaten yang bermartabat.

Membangun mall adalah cara pemerintah dan investor menghargai warga Kuansing. Agar warga kita tidak merasa menjadi "warga kelas dua" yang selalu harus menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan standar hiburan yang layak.

Kita punya potensi, kita punya lahannya, dan kita jelas punya pasarnya. Yang kita butuhkan sekarang adalah keberanian politik dan niat baik untuk memajukan kota ini.

Jangan biarkan Teluk Kuantan hanya ramai dan gemerlap saat musim Pacu Jalur saja. Kita berhak mendapatkan kenyamanan dan kemajuan itu setiap hari, di rumah kita sendiri.

Sudah saatnya, Teluk Kuantan punya mall sendiri. Bukan untuk gaya-gayaan, tapi untuk kualitas hidup yang lebih baik bagi seluruh masyarakatnya. (***)