RIAUIN.COM - Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) memperbarui hitungan sementara kerugian finansial akibat bencana longsor dan banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025. Data per awal Januari 2026 menunjukkan bahwa total kerugian ditaksir telah mencapai Rp 18,48 triliun, dengan potensi angka tersebut masih akan bertambah seiring penyelesaian proses pendataan.
Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo Sumut Porman Mahulae menegaskan bahwa jumlah tersebut merupakan estimasi awal yang bersifat dinamis. "Angka estimasinya masih terus berfluktuasi," kata Porman saat dimintai konfirmasi pada Jumat (2/1/2026).
Data infografis resmi dari Pemprov Sumut mengungkapkan bahwa sektor infrastruktur menanggung dampak yang masif. Kerusakan pada jaringan jalan dan jembatan milik provinsi diperkirakan mencapai Rp 880,65 miliar, sementara kerugian untuk jalan dan jembatan nasional berada di kisaran Rp 814,26 miliar. Jalan dan jembatan milik kabupaten/kota juga mengalami kerugian besar, mencapai Rp 940,55 miliar. Selain itu, kerusakan pada infrastruktur pengairan, termasuk bendung dan sungai, tercatat sebesar Rp 912,46 miliar.
Sektor ekonomi masyarakat juga terpukul. Kerugian di sektor pertanian mencapai Rp 1,48 triliun, diikuti sektor perkebunan sebesar Rp 535,01 miliar. Sektor peternakan menelan kerugian Rp 152,87 miliar, dan sektor perikanan sekitar Rp 305,6 miliar.
Kerusakan rumah warga menjadi salah satu pos kerugian terbesar, dengan total nilai mencapai Rp 2,78 triliun. Sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) juga mengalami dampak signifikan, mencapai Rp 4,48 triliun.
Dampak lain tercatat pada bangunan fasilitas publik. Kerusakan fasilitas pendidikan dari jenjang sekolah dasar hingga menengah atas ditaksir sebesar Rp 550,6 miliar. Fasilitas kesehatan mengalami kerugian Rp 361,83 miliar, dan rumah ibadah diperkirakan rugi Rp 219,50 miliar.
Kerugian pada sektor pasar, perbankan, kantor pemerintah, serta kantor institusi TNI dan Polri turut menyumbang beban daerah dengan total kerugian sekitar Rp 3,1 triliun. Secara keseluruhan, total kerugian sementara dari berbagai sektor ini mencapai Rp 18,48 triliun sebagai konsekuensi bencana alam yang menimpa wilayah Sumatera Utara.
Sumber: Detiksumut