RIAUIN.COM - Upaya darurat mengatasi dampak banjir dan longsor di Sumatera Barat terus dikebut. Fokus utama pemerintah saat ini adalah memulihkan kembali akses jalan dan jembatan yang putus sehingga distribusi bantuan bisa menjangkau warga terdampak di berbagai daerah.
Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari PhD menyampaikan bahwa pembukaan akses yang terputus menjadi langkah paling mendesak. Berdasarkan pendataan terbaru, terdapat 555 titik kerusakan pada jaringan jalan, terdiri dari 321 titik pada ruas kabupaten dan kota, 172 titik pada jalan provinsi, serta 62 titik pada jalan nasional.
“Situasi ini membuat penanganan darurat berjalan lambat. Saat ini sebanyak 25 alat berat kami kerahkan untuk mempercepat perbaikan terutama pada ruas jalan nasional di Solok, Agam, dan Tanah Datar,” ujar Abdul Muhari.
Ia menambahkan bahwa Balai Pelaksana Jalan Nasional bersama Dinas Bina Marga Sumbar tengah bekerja memulihkan konektivitas. Selain perbaikan fisik jalan, pemasangan jembatan darurat atau bailey juga diperlukan di sejumlah lokasi.
“Total kebutuhan jembatan darurat mencapai 22 unit yang tersebar di delapan kabupaten dan kota, termasuk Agam, Pasaman, Padang Pariaman, serta Kota Padang,” tutur Abdul Muhari.
Di lapangan, pembersihan material longsor juga terus dilakukan. Petugas gabungan bekerja menyingkirkan lumpur, batu, dan kayu terutama di kawasan Jorong Tantaman, Nagari Tigo Koto Silungkang, Kecamatan Palembayan, Agam. Normalisasi alur sungai di Pesisir Selatan pun berlangsung paralel.
Melihat masih adanya wilayah yang terputus, terutama di Kota Padang, Padang Pariaman, dan Agam, distribusi bantuan dipercepat melalui jalur udara.
Menurut Abdul Muhari, hingga Rabu 3 Desember 2025 pukul 18.00 WIB, pengiriman bantuan lewat udara mencapai sekitar 6,5 ton. Kabupaten Agam menjadi wilayah dengan penerimaan terbesar yakni 4,1 ton, disusul Padang Pariaman sebanyak 843 kilogram dan Solok 808 kilogram.
“Bantuan terdiri dari kebutuhan dasar, makanan bayi, obat-obatan, hingga perlengkapan tidur,” jelasnya.
Secara keseluruhan, sejak 28 November hingga 3 Desember 2025, total bantuan logistik yang dikirim melalui udara oleh BNPB, Basarnas, dan TNI sudah mencapai 18 ton. Pengiriman akan terus dilakukan sampai seluruh warga di wilayah terisolasi mendapatkan bantuan yang memadai. (Bil)