RIAUIN.COM- Laporan World Meteorological Organization (WMO) menyebutkan, sepanjang 1970–2021 terjadi hampir 12 ribu bencana terkait cuaca, iklim, dan air di seluruh dunia. Badai, banjir, hingga gelombang panas menjadi ancaman utama yang menimbulkan dampak besar terhadap kehidupan sosial dan ekonomi global. Ironisnya, jumlah penduduk yang tinggal di kawasan rawan bencana justru terus meningkat. Bank Dunia mencatat sekitar 1,81 miliar orang, atau 23% populasi dunia, hidup di wilayah berisiko tinggi banjir, sementara jutaan lainnya terpapar ancaman kekeringan, badai tropis, hingga kenaikan permukaan laut.
Situasi tersebut menegaskan bahwa persoalan ketahanan bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga kapasitas sosial dan perilaku masyarakat dalam beradaptasi terhadap perubahan. Atas dasar itu, Universitas Pertamina (UPER) menyelenggarakan The 4th International Conference on Contemporary Risk Studies (ICONIC-RS) 2025 bertema “Navigating Global Risk: Advancing Economic Resilience, Environmental Sustainability, and Energy Security.” Konferensi ini menjadi wadah kolaborasi lintas disiplin untuk merumuskan strategi adaptif menghadapi risiko global sekaligus memperkuat ketahanan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Dalam sesi panel, Prof Yuri Mansury dari Illinois Institute of Technology, Amerika Serikat, menegaskan bahwa ketahanan risiko bertumpu pada kemampuan masyarakat beradaptasi.
“Ketahanan risiko berawal dari kemampuan beradaptasi dengan kondisi dinamis. Ini dapat diwujudkan melalui diversifikasi mata pencaharian, penerapan metode ramah lingkungan, dan pencegahan pembakaran lahan demi keberlanjutan dan keamanan energi,” jelasnya.

Senada, Prof Kenta Kishi dari Akita University, Jepang, menyoroti pentingnya perencanaan tata ruang dan arsitektur tangguh bencana.
“Asia, termasuk Jepang dan Indonesia, memiliki kerentanan tinggi terhadap gempa dan erupsi. Kekuatan bangunan bukan hanya memberi rasa aman, tetapi juga bagian penting mitigasi risiko. Material ramah lingkungan dan teknologi responsif bencana adalah fondasi arsitektur berkelanjutan,” tuturnya.
Dari perspektif ekonomi, Muhammad Rifq, Spesialis Riset Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), menekankan pentingnya sistem keuangan yang resilien.
“Krisis di satu kawasan dapat mengguncang sistem keuangan global. Karena itu, penguatan sektor keuangan dan manajemen risiko menjadi fondasi menjaga ketahanan ekonomi nasional,” ujarnya.
Sementara itu, Gigih Udi Atmo, Ph D Direktur Panas Bumi Kementerian ESDM, menyampaikan bahwa transisi energi adalah kunci menekan risiko iklim sekaligus memperkuat fondasi ekonomi jangka panjang.
“Kolaborasi lintas sektor dalam transisi energi akan mendorong investasi hijau, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kapasitas EBT hingga 3.600 GW guna mendukung target net zero emissions 2060,” tegasnya.
Rangkaian pandangan para pakar tersebut menggarisbawahi satu pesan penting: ketahanan global hanya dapat dicapai melalui pendekatan multidisipliner. Adaptasi sosial, inovasi infrastruktur, stabilitas sistem keuangan, hingga transformasi energi perlu berjalan serempak sebagai satu ekosistem.
Melalui ICONIC-RS 2025, UPER meneguhkan komitmen sebagai jembatan antara riset akademik, perumusan kebijakan, dan implementasi strategi nyata dalam menghadapi risiko global masa depan. -inf