Perahu Warga Ganggu Indahnya Festival Bidar di Sungai Musi


Kamis, 21 Agustus 2025 - 15:19:37 WIB
Perahu Warga Ganggu Indahnya Festival Bidar di Sungai Musi

 

RIAUIN.COM — Puluhan perahu warga tampak memadati dari arus lalu lintas angkutan sungai saat Festival Perahu Bidar berlangsung, 15-17 Agustus 2025. 
Kondisi ini dapat memecah konsentrasi pedayung yang berpotensi membahayakan keselamatan peserta.

Tidak hanya perahu warga yang ikut merapat ke jalur lomba, tetapi juga perahu wisata yang mengangkut masyarakat untuk menonton langsung dari sungai. Belum lagi enceng gondok yang bertautan ikut menghiasi aliran Sungai Musi.

Menurut Walikota Palembang Ratu Dewa, penyelenggara sudah menegaskan area lomba harus steril dari lalu lintas kapal selama acara. Koordinasi dilakukan dengan KSOP, Dishub, Satpol PP, dan kepolisian.

Namun, di lapangan masih terlihat perahu-perahu penonton dan wisata berbaur dengan lintasan lomba demi mendapatkan pandangan lebih dekat.

“Untuk menyukseskan Festival Perahu Bidar ini, Pemko Palembang telah mengeluarkan kebijakan, ketika perahu berlomba, tidak ada perahu atau transportasi air yang tidak berkepentingan dibenarkan berada di jalur,” tegas Ratu Dewa.

Kekhawatiran soal keselamatan bukan tanpa alasan. Pada pelaksanaan Festival Perahu Bidar tahun lalu, sempat terjadi insiden ketika perahu penonton bersenggolan dengan salah satu tim Bidar di lintasan. Situasi itu memicu kepanikan dan memperlambat jalannya lomba.

Berbekal dari pengalaman peristiwa tersebut, kemudian menjadi dasar bagi Pemko Palembang untuk memperketat aturan sterilisasi jalur.

Walikota menginstruksikan untuk melibatkan semua pihak terkait guna menjaga ketertiban dan keamanan selama festival berlangsung.

Kepala KSOP Palembang jauh sebelum perlombaan berlangsung sudah mengumumkan penutupan alur Sungai Musi pada puncak perhelatan 17 Agustus. Kebijakan tersebut diambil demi keselamatan dan kelancaran jalannya lomba.

Satpol PP juga menurunkan 90 personel di kawasan Benteng Kuto Besak (BKB) dan Jembatan Ampera guna menjaga situasi tetap kondusif.

"Tahun ini, sebanyak 12 tim ikut serta dalam lomba bidar tradisional. Namun, sebaik apa pun persiapan teknis, keselamatan tetap bergantung pada disiplin bersama, terutama kepatuhan perahu penonton maupun wisata agar tidak memotong jalur dan menjaga jarak aman dari lintasan balap," ujar Ratu Dewa.

Keseruan menonton Festival Perahu Bidar dari atas perahu wisata ini juga dirasakan langsung seorang pengunjung dari Jawa Tengah, Fadli. Dia mengaku sengaja ikut perahu wisata untuk melihat lebih dekat jalannya perlombaan, meski sadar risikonya tinggi.

“Nonton dari sungai itu lebih seru, bisa lihat Bidar persis di depan mata. Tapi memang agak bahaya juga karena perahunya berdesakan,” ungkap Fadli.

Fadli mengaku tidak takut meski perahu wisata yang ditumpanginya harus terombang ambing, karena hempasan ombak sungai yang dalam dan deras.

Pemilik Ketek (perahu kecil, red) wisata, Kak Yan mengatakan setiap tahun saat Festival Perahu Bidar berlangsung, dia dapat menghasilkan cuan lebih banyak. Hanya dalam waktu setengah hari, dia sudah menghasilkan uang yang lumayan.

Ketika ditanya mengenai imbauan Walikota dan skema KSOP untuk menertibkan lalu lintas sungai dan pengamanan selama Festival, Kak Yan mengaku tak dapat informasi mengenai hal tersebut.

"Tidak ada, memang sudah ada yang jaga petugas di sana dari garis star sampai ke finish. Mereka cuma kasih keguran waktu lewat areal sekitar jalur lintasan," tuturnya. -vie