Majelis Gajah Pekanbaru Tegaskan Pentingnya Konservasi Gajah sebagai Simbol Identitas Sumatera


Kamis, 14 Agustus 2025 - 09:56:27 WIB
Majelis Gajah Pekanbaru Tegaskan Pentingnya Konservasi Gajah sebagai Simbol Identitas Sumatera

RIAUIN.COM – Dalam rangka memperingati Hari Gajah Sedunia 2025 yang diperingati setiap tanggal 12 Agustus, Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) bersama sejumlah organisasi lingkungan seperti Nonblok Ekosistem, Sikukeluang, Heal Indonesia, Akar Ilalang, Arasati Hakiki, dan Semacam Lab, mengadakan “Majelis Gajah”. Kegiatan ini berupa forum diskusi terbuka lintas sektor yang mengangkat tema nasional “Gajah Harga Diri Sumatera”, dan berlangsung di Rumah Nonblok Ekosistem, Pekanbaru, pada Selasa malam (12/8).

Acara diawali dengan pemutaran film dokumenter berjudul PULANG, produksi FKGI. Film ini mengangkat persoalan konflik antara manusia dan gajah, menggambarkan bagaimana alih fungsi hutan telah memaksa gajah kehilangan habitat alaminya dan tersesat dari jalur jelajahnya.

Suasana semakin hangat dengan penampilan puisi dari Riang Gembira, seorang anak berusia enam tahun, yang membacakan puisi berjudul Pusat Perhatian Gajah. Puisinya berkisah tentang anak gajah bernama Togar, yang mengalami luka parah karena jerat pemburu. Setelah ditinggalkan oleh keluarganya, Togar akhirnya diselamatkan dan dirawat di Pusat Latihan Gajah Minas hingga pulih dan kembali sehat.

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari Yuliantoni, perwakilan FKGI, yang menjelaskan posisi penting gajah sebagai indikator kesehatan ekosistem. Ia menyoroti situasi di kantong habitat Tesso Nilo yang saat ini mengalami tekanan tinggi akibat perambahan hutan dan meningkatnya konflik dengan manusia.

Sementara itu, AKBP Nasruddin dari Polda Riau menambahkan bahwa pembukaan lahan ilegal menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup gajah.

“Sepanjang 2025, tercatat 48 kasus pembukaan kawasan hutan di Riau. Ini berkontribusi langsung pada hilangnya habitat satwa liar, termasuk gajah. Sinergi antarlembaga dan masyarakat menjadi kunci agar manusia dan gajah bisa hidup berdampingan tanpa konflik,” ujarnya.

Ujang Holisudin dari Balai Besar KSDA Riau juga menekankan pentingnya membangun citra positif tentang gajah kepada masyarakat.

“Gajah sering kali disalahpahami sebagai hama. Padahal, peran mereka dalam menjaga keseimbangan alam sangat vital. Tantangan konservasi juga datang dari minimnya pemahaman publik,” jelasnya.

Dari sisi seni dan budaya, seniman Nonblok Ekosistem, Adhari Donora, menyampaikan bahwa gajah merupakan simbol kekuatan dan keteguhan. Ia percaya bahwa seni dapat menjadi alat ampuh untuk menanamkan kesadaran ekologis.

“Seni bukan hanya sarana ekspresi, tapi juga alat perlawanan. Gajah dalam karya seni menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kehidupan,” tuturnya.

Menjelang akhir acara, musisi Ibnu Shem membawakan lagu bertema tragis tentang seekor gajah yang mati karena diracun. Liriknya menyentil: “Membunuhku memperburuk lingkunganmu, meracuniku tak memperindah kebunmu.”

Tema Nasional: Gajah Harga Diri Sumatera

Tema tahun ini, “Gajah Harga Diri Sumatera”, membawa pesan kuat bahwa keberadaan gajah mencerminkan martabat ekologis Pulau Sumatera. Hilangnya gajah berarti hilangnya salah satu identitas penting kawasan ini.

Ketua FKGI, Donny Gunaryadi, mengungkapkan bahwa populasi gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) di alam liar kini diperkirakan tak lebih dari 1.000 ekor. Statusnya pun telah masuk kategori Kritis (Critically Endangered). Dalam rentang satu generasi gajah (sekitar 50–75 tahun), sebanyak 70 persen habitatnya telah hilang akibat konversi hutan, pembangunan, dan aktivitas perburuan.

Donny menyambut baik langkah-langkah pemulihan habitat seperti pengembalian 81.000 hektare kawasan hutan di Taman Nasional Tesso Nilo dan Bukit Tigapuluh. Namun ia menegaskan bahwa konservasi adalah proses jangka panjang yang membutuhkan keterlibatan seluruh pihak—mulai dari pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, media, hingga generasi muda.

Melalui Majelis Gajah, para penggagas berharap peringatan Hari Gajah Sedunia dapat menjadi ruang refleksi dan kolaborasi, memperkuat narasi bahwa menyelamatkan gajah berarti merawat masa depan kehidupan manusia. (Rilis)