Upaya Penyelamatan Tak Berhasil, Bayi Gajah Yuni Tutup Usia di PLG Sebanga


Selasa, 12 Agustus 2025 - 18:55:34 WIB
Upaya Penyelamatan Tak Berhasil, Bayi Gajah Yuni Tutup Usia di PLG Sebanga

RIAUIN.COM – Di tengah peringatan Hari Gajah Sedunia, Selasa (12/8/2025), kabar memilukan datang dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Sebanga, Bengkalis, Riau. Seekor bayi gajah Sumatera bernama Yuni menghembuskan napas terakhir di usia yang masih sangat belia—baru 4 bulan.

Kisah hidup Yuni dimulai pada 10 Maret 2025 lalu. Ia ditemukan dalam kondisi terpisah dari induknya di kawasan permukiman Desa Gunung Sari, Kecamatan Gunung Sahilan, Kampar, Riau. Penemuan ini sontak menarik perhatian warga, bahkan videonya sempat viral di media sosial karena menunjukkan betapa kecil dan rentannya Yuni saat dikerumuni warga di area kebun sawit.

Menurut Kepala BBKSDA Riau, Supartono, Yuni diduga tertinggal dari kelompok gajah liar. Petugas Wildlife Rescue Unit (WRU) sempat mencoba mengembalikannya ke induknya, namun upaya tersebut tidak berhasil.

Setelah itu, Yuni dibawa ke PLG Minas untuk dirawat. Namun, selama tiga hari pertama, Yuni menolak susu formula yang diberikan tim medis. Upaya memperkenalkannya ke induk gajah lain juga tidak membuahkan hasil.

Yuni kemudian dipindahkan ke PLG Sebanga dengan harapan bisa diadopsi oleh gajah betina lain yang baru melahirkan. Sayangnya, harapan itu pupus karena ia kembali ditolak.

Meski begitu, tim medis dan mahout tak menyerah. Yuni dirawat di kandang khusus dan diawasi secara intensif oleh dokter hewan dan tiga pawang. Ia dikenal sebagai bayi gajah yang aktif, namun kondisinya mulai memburuk pada 8 April.

Petugas langsung mengambil tindakan darurat, termasuk pemberian cairan elektrolit dan infus. Sempat ada perbaikan kondisi, namun pada 10 April sore hari, kesehatannya menurun drastis. Yuni akhirnya wafat pada 11 April 2025 pukul 05.00 WIB.

Tim medis melakukan nekropsi untuk mengetahui penyebab kematian. Dugaan awal sempat mengarah pada infeksi EEHV, namun hasil laboratorium menunjukkan negatif. Pemeriksaan lebih lanjut oleh IPB mengungkap tiga faktor utama yang menyebabkan kematiannya.

Supartono menjelaskan, Yuni menderita pneumonia serta perdarahan paru-paru, gastroenteritis berat, dan stres akibat keterpisahan dari induk yang berdampak buruk terhadap sistem imunnya.

Tragedi ini menjadi alarm bagi seluruh pihak tentang pentingnya penanganan dan penyelamatan gajah liar, terutama anak-anak gajah yang kehilangan induk.

BBKSDA Riau menyatakan komitmennya untuk terus memperbaiki sistem perawatan dan pencegahan kematian satwa dilindungi seperti gajah Sumatera.

“Kami akan lebih memperkuat protokol kesehatan, nutrisi, serta pemulihan trauma untuk setiap anak gajah yang diselamatkan,” kata Supartono. (Nab)