Dayuang Serempak, Kayuah Merunduk, Dua Filosofi Penjaga Karakter Kuantan Singingi


Selasa, 22 Juli 2025 - 22:00:50 WIB
Dayuang Serempak, Kayuah Merunduk, Dua Filosofi Penjaga Karakter Kuantan Singingi

Foto: Hendrianto

Ditulis: Hendrianto

KUANTAN Singingi tak hanya tersohor dengan festival Pacu Jalur yang mendunia, tetapi juga kaya akan kearifan lokal. Dari warisan budaya ini lahirlah berbagai filosofi hidup yang melekat erat di hati masyarakat.

Dua di antaranya yang begitu populer adalah "Dayung serempak untung serentak" dan "Kayuah merunduk menang seangguk." Ini bukan sekadar pepatah; keduanya adalah cerminan nilai-nilai luhur yang telah mengakar kuat, bahkan menjadi napas kehidupan adat masyarakat Kuantan Singingi.

Bayangkan sebuah perahu jalur yang begitu panjang melesat di sungai. Kemenangan mutlak hanya bisa diraih jika semua pendayung mengayuh serentak, dengan irama yang sama, kekuatan seimbang, dan satu tujuan.

Jika ada yang melenceng sedikit saja, jalur bisa oleng dan tertinggal. Filosofi "Dayung serempak untung serentak" inilah yang menjadi inti dari semangat kebersamaan dan gotong royong masyarakat Kuantan Singingi.

Proses pembuatan jalur adalah bukti nyata kebersamaan ini. Sebuah pohon besar harus ditebang, ditarik (maelo), diukir, dan dibentuk. Ini butuh puluhan, bahkan ratusan tangan yang bekerja bersama-sama, sukarela, dan tanpa pamrih.

Tanpa sinergi ini, mustahil jalur bisa tercipta. Begitu pula saat merawatnya, partisipasi bersama adalah kunci utama.

Dalam setiap pengambilan keputusan penting—mulai dari menentukan jadwal acara adat, lokasi, hingga menyelesaikan sengketa—masyarakat selalu mengedepankan musyawarah untuk mencapai mufakat.

Setiap suara didengarkan, dan keputusan adalah hasil kesepakatan bersama, bukan paksaan dari satu pihak. Ini persis seperti "dayung serempak" yang menuntut keselarasan.

Setiap kenduri atau perayaan adat selalu melibatkan seluruh elemen masyarakat. Dari persiapan hingga pelaksanaan, semuanya dilakukan secara bahu-membahu. Para pria membantu pekerjaan berat, sementara ibu-ibu sibuk menyiapkan hidangan.

Keterlibatan ini tak hanya memastikan kesuksesan acara, tetapi juga mempererat tali silaturahmi, menciptakan "untung serentak" berupa kebahagiaan dan kehangatan bersama.

Prinsip ini turut membentuk solidaritas sosial yang begitu kokoh. Masyarakat merasa memiliki tanggung jawab bersama terhadap kesejahteraan desa. 

Jika ada yang tertimpa musibah, tetangga dan sanak saudara akan sigap datang membantu, menunjukkan bahwa mereka bergerak "serempak" dalam suka maupun duka.

Selain kerja sama, masyarakat Kuantan Singingi juga menjunjung tinggi kerendahan hati. Filosofi "Kayuah merunduk menang seangguk" mengajarkan tentang kesahajaan, kebijaksanaan, dan sportivitas.

"Merunduk" bisa diartikan sebagai sikap tidak sombong, fokus pada upaya diri sendiri, dan tidak meremehkan lawan. Sementara "menang seangguk" melambangkan kemenangan yang diraih dengan tenang, tanpa euforia berlebihan, serta dengan tetap menghargai proses dan lawan. Nilai ini terintegrasi dalam praktik adat sehari-hari.

Pacu Jalur memang ajang kompetisi, namun filosofi ini mendorong persaingan yang sehat dan sportif. Kemenangan dirayakan dengan rasa syukur dan rendah hati, tanpa kesombongan yang bisa memicu permusuhan.

Kekalahan pun diterima dengan lapang dada dan pengakuan terhadap keunggulan lawan. Nilai ini juga diterapkan dalam interaksi antar-desa, menjaga persaingan tidak merusak hubungan baik.

"Merunduk" juga berarti fokus pada upaya dan proses yang telah dilalui, bukan semata-mata pada hasil akhir. Dalam adat, nilai ini mengajarkan bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh dedikasi, terlepas dari hasil akhirnya. Yang terpenting adalah niat baik dan usaha maksimal.

Sikap "merunduk" dalam kehidupan sehari-hari juga tercermin dalam penghormatan mendalam terhadap orang tua, tetua adat, dan pemimpin masyarakat. Mereka adalah panutan yang dihormati kebijaksanaannya, dan nasihat mereka selalu didengarkan dengan penuh kerendahan hati.

Dengan menjunjung tinggi kerendahan hati dan menghindari kesombongan, masyarakat dapat meminimalkan konflik dan menjaga keharmonisan sosial. Filosofi ini mengajarkan bahwa setiap orang, seberapa pun hebatnya, harus tetap rendah hati demi menjaga keutuhan dan kedamaian dalam komunitas bermasyarakat.

Singkatnya, filosofi-filosofi yang lahir dari tradisi Pacu Jalur telah menjadi jiwa dan darah daging dalam kehidupan adat masyarakat Kuantan Singingi. Nilai-nilai ini tak hanya menjaga kelestarian tradisi, tetapi juga membentuk karakter, etika, dan cara pandang masyarakat dalam berinteraksi satu sama lain dan dengan alam.

Ini adalah bukti nyata betapa kearifan lokal mampu terus relevan dan membimbing sebuah masyarakat di tengah dinamika zaman.

Di tengah gempuran modernisasi dan perubahan zaman, harapan penulis adalah agar semangat "Dayung serempak untung serentak" dan "Kayuah merunduk menang seangguk" tak lekang oleh waktu.

Semoga filosofi luhur ini terus mengakar kuat, menjadi pedoman moral, dan memandu generasi penerus Kuantan Singingi, sehingga nilai-nilai luhur ini tetap hidup dan relevan, tak peduli seberapa cepat roda zaman berputar. Biar pun zaman sudah berubah nan asal jangan sampai hilang.(***)