Harimau Sumatera Mangsa Ternak di Pelalawan, BBKSDA Riau Lakukan Penanganan


Kamis, 03 Juli 2025 - 17:44:52 WIB
Harimau Sumatera Mangsa Ternak di Pelalawan, BBKSDA Riau Lakukan Penanganan

RIAUIN.COM – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau turun tangan merespons konflik antara harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan warga di Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan. Kasus ini mencuat setelah laporan mengenai serangan harimau terhadap hewan ternak milik warga diterima pada Senin (30/6/2025).

Kepala BBKSDA Riau, Supartono, menjelaskan bahwa laporan berasal dari staf konservasi PT Arara Abadi Distrik Merawang, yang menemukan bangkai sapi dewasa di wilayah perkebunan masyarakat. “Dari kondisi temuan, kuat dugaan sapi tersebut menjadi korban serangan harimau,” ujarnya, Kamis (3/7/2025).

Menindaklanjuti laporan tersebut, tim dari Seksi Konservasi Wilayah I Pelalawan segera dikerahkan. Koordinasi dilakukan dengan Kepala Bidang KSDA Wilayah I, dan petugas dari Resor Kerumutan Utara diturunkan ke lokasi kejadian.

Empat orang personel yang dilibatkan di lapangan yakni Ahmad Fitriansyah, Siswiyono, Ali Sonang Harahap, dan Bangkit Ahmad. Mereka bekerja sama dengan pihak perusahaan serta masyarakat setempat untuk mengamankan area dan melakukan investigasi awal.

Tim tiba di lokasi pada Selasa (1/7) dan langsung memasang camera trap serta box trap di sekitar area ditemukannya bangkai. Sebagai umpan, mereka menggunakan bagian kaki belakang sapi yang telah dimangsa.

“Potongan kaki sapi itu digunakan untuk menarik perhatian harimau agar mendekat ke perangkap,” jelas Supartono.

Sisa bangkai lainnya langsung dikuburkan karena sudah dalam kondisi membusuk. Hasil dari pemasangan camera trap menunjukkan bahwa pada Rabu (2/7), seekor harimau Sumatera jantan dewasa tampak mondar-mandir di sekitar lokasi, namun belum masuk ke perangkap.

“Harimau tersebut kami kenali sebagai individu yang sebelumnya sudah terekam kamera di bentang alam Kerumutan. Namanya ‘Sampali’,” ujar Supartono.

Ia menambahkan, kemungkinan harimau itu tidak masuk perangkap karena ukuran box trap terlalu kecil untuk tubuh Sampali yang besar. Lokasi kejadian juga masih berada dalam wilayah jelajah alami satwa tersebut dan dekat dengan permukiman warga.

“Sapi milik warga yang dibiarkan lepas tanpa pengawasan menjadi sasaran empuk. Ini menjadi pelajaran bagi semua pihak agar lebih berhati-hati,” kata Supartono.

Sebagai langkah pencegahan, BBKSDA Riau meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta untuk beraktivitas secara berkelompok, tidak bepergian saat sore hingga malam hari, serta menjaga ternak di kandang yang aman dan tertutup.

Supartono menyampaikan bahwa Sampali telah lama menjadi penghuni wilayah Kerumutan, dan pemantauan terhadap pergerakannya masih terus dilakukan. Evaluasi terhadap efektivitas perangkap juga akan menjadi perhatian ke depan. (Nab)