PEKANBARU - Muncul dugaan pasca ditemukannya kerangka manusia yang sudah tidak utuh lagi di daerah Kandis, Kabupaten Siak, di mana disebut-sebut sebagai jasad Ardhie Nuraswan, supir GoCar Pekanbaru yang hilang pada 22 Oktober 2017 lalu.
Sebagian meyakini jika itu adalah Ardhie, termasuk keluarga. Sebagian lainnya tak percaya, karena jika dirunut lagi dengan hari ia menghilang, mustahil rasanya sudah menjadi tulang belulang. Apapun dugaan-dugaan itu, polisi masih menunggu kepastian melalui tes DNA.
Namun jika bicara soal medis, bukan tidak mungkin proses penulangan (Jasad menjadi tulang belulang, red) bisa terjadi dalam waktu singkat, yang dapat dipicu oleh beberapa faktor. Hal ini dijelaskan oleh Kasubbid Dokpol Biddokes Polda Riau, Kompol Supriyanto.
Supriyanto yang berbincang dengan GoRiau menjelaskan, proses itu sangat mungkin terjadi. Ada beberapa faktor penyebab sehingga pembusukan lebih cepat, dimulai dari faktor udara, air dan tanah. Satu lagi, adanya binatang pemakan daging/bangkai.
"Saat dibawa ke sini (RS Bhayangkara), kita dapatkan tulang belulang tidak utuh, besar kemungkinannya sudah dimakan binatang. Ini bisa jadi salah satu faktornya," sebut Kompol Supriyanto.
Yang jelas, itu bisa saja terjadi pada jasad dengan tenggat dua sampai tiga minggu. "Apalagi belakangan musim hujan dan panas silih berganti. Ini bisa juga menjadi faktor yang mempercepat proses penulangan. Kondisi disekitar juga bisa jadi pemicu," terang dia.
Selain itu, jika jasad memiliki bekas luka terbuka, juga dapat membuat bakteri melekat dan mempercepat jaringan lunak (daging dan kulit red) hancur hingga menyisakan tulang belulang. Jadi ada banyak faktor yang memungkinkan itu terjadi dalam waktu singkat.
"Prediksinya, prosesnya mulai di atas satu minggu. tujuh sampai 14 hari itu mulai proses daging menjadi tulang (Penulangan). Jadi disimpulkan, kondisi lingkungan, keberadaan hewan di sekitar dan kondisi jasad juga menentukan proses itu semua," singkat dia.
Agar lebih akurat, sebab itu kepolisian mengambil langkah dengan melakukan uji kecocokan, dengan DNA keluarga dan tulang belulang yang ditemukan itu. Hasilnya baru dapat diketahui beberapa waktu ke depan. Disamping itu, proses penyelidikan juga terus dilakukan. (nol)