Mutiara Rahmadani; Mahasiswa PPG PGSD Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai.
KABUPATEN Kampar, Riau, dikenal dengan kekayaan hasil perikanan air tawarnya, terutama ikan patin. Namun, sayangnya, potensi besar ini belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal. Mayoritas warga masih menjual ikan patin dalam bentuk segar—yang secara ekonomi, nilainya jauh lebih rendah dibandingkan jika diolah menjadi produk turunan yang bernilai tambah.
Di sinilah pentingnya peran pendidikan, terutama Pendidikan Profesi Guru (PPG), dalam membentuk calon guru yang bukan hanya pandai mengajar, tapi juga mampu memimpin perubahan di masyarakat. Salah satu contoh nyata adalah proyek kewirausahaan berbasis komunitas yang kami laksanakan melalui pendekatan service learning—belajar sambil mengabdi.
Kami memilih empek-empek sebagai produk inovatif karena makanan ini sudah akrab di lidah masyarakat, tetapi jarang diolah dari ikan patin lokal. Padahal, patin mengandung gizi tinggi dan teksturnya sangat cocok untuk dijadikan bahan utama empek-empek.
Kegiatan ini kami lakukan di Perumahan Mutiara Cadika, Kampar, selama lima bulan. Kami melakukan sosialisasi gizi, praktik langsung pembuatan empek-empek, pelatihan kewirausahaan, hingga evaluasi. Hasilnya mengejutkan: warga sangat antusias, semua kelompok berhasil membuat empek-empek sendiri, bahkan muncul inisiatif membentuk kelompok usaha kecil berbasis PKK.
Lebih dari sekadar kegiatan pelatihan, proyek ini memberi pelajaran penting bagi kami sebagai calon guru. Kami belajar bahwa edukasi yang kontekstual dan menyentuh kebutuhan nyata masyarakat jauh lebih berdampak dibandingkan sekadar teori di ruang kelas. Di sisi lain, warga pun menyadari bahwa usaha kecil berbasis sumber daya lokal bisa menjadi jalan keluar dari ketergantungan ekonomi yang itu-itu saja.
Kami percaya, dengan dukungan pemerintah dan perguruan tinggi, inisiatif-inisiatif seperti ini bisa tumbuh lebih besar. Bayangkan jika UMKM kuliner lokal yang berbasis ikan patin bisa menjangkau pasar digital, tentu ini akan membuka peluang usaha baru sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.
Maka dari itu, kami mengajak para pemangku kebijakan, akademisi, dan seluruh lapisan masyarakat untuk mulai memandang ikan patin tidak lagi sekadar sebagai lauk murah di pasar. Dengan sentuhan inovasi, pendidikan, dan semangat kewirausahaan, ikan patin bisa jadi pintu masuk menuju masa depan yang lebih berdaya dan mandiri.
Proyek ini dibimbing oleh Dr Putri Asi Lestari MPd. Adapun anggota tim penelitian yakni, Anisa Hani, Maria Enjelita Simanjuntak, Mia Mulyadi, Muhammad Fani Rauf, Muhammad Renardo, Muti'ah, Mutiara Rahmadani, Quratun Mardhatillah, Rini Indriyan, Sri Defy Rahmawati. ***
Penulis ; Mutiara Rahmadani
Mahasiswa PPG PGSD Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai