Proyek Jalan Feeder Tol Kuansing Terhenti: Kebijakan Efisiensi Pusat Jadi Sandungan Konektivitas Sumatra-Riau


Jumat, 16 Mei 2025 - 18:04:06 WIB
Proyek Jalan Feeder Tol Kuansing Terhenti: Kebijakan Efisiensi Pusat Jadi Sandungan Konektivitas Sumatra-Riau

Bupati Kuansing Dr Suhardiman Amby

RIAUIN. COM– Impian untuk mempercepat konektivitas strategis antara Sumatra Barat dan Riau bagian selatan melalui pembangunan jalan feeder tol kini menemui jalan buntu. Proyek yang diusulkan sejak tahun 2022 untuk menghubungkan Kabupaten Dharmasraya (Sumatra Barat) dengan Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) dan Indragiri Hulu (Inhu) di Riau dilaporkan belum menunjukkan perkembangan signifikan. Informasi ini terungkap dari pernyataan Bupati Kuantan Singingi, Suhardiman Amby, dalam dialog di Program Nation Hub CNBC Indonesia pada Kamis (15/05/2025).

Suhardiman Amby mengungkapkan bahwa proyek infrastruktur yang diharapkan membuka akses langsung wilayah selatan Riau ke ruas Tol Trans Sumatra tersebut saat ini dalam status penundaan. Kebijakan efisiensi yang diterapkan oleh pemerintah pusat menjadi alasan utama di balik penghentian sementara proyek strategis ini. Lebih lanjut, Bupati Kuansing menjelaskan bahwa seluruh perencanaan pembangunan jalan tol kini tengah dikaji ulang sesuai dengan arahan langsung dari Presiden.

Pernyataan ini mengindikasikan adanya perubahan prioritas atau penyesuaian anggaran di tingkat pusat yang berimbas langsung pada proyek-proyek daerah. Meskipun demikian, Suhardiman Amby menegaskan bahwa pemerintah daerah Kabupaten Kuantan Singingi memiliki komitmen yang kuat untuk mendukung percepatan pembangunan infrastruktur, terutama proyek-proyek strategis seperti jalan tol yang diyakini dapat meningkatkan perekonomian dan mobilitas masyarakat.

Namun, realisasi dari dukungan tersebut kembali lagi pada kemampuan keuangan negara dan kebijakan yang digariskan oleh pemerintah pusat. Dengan adanya penundaan dan pengkajian ulang, kepastian mengenai kelanjutan proyek jalan feeder tol ini menjadi tidak jelas. Masyarakat di wilayah terkait, yang selama ini menantikan terbukanya aksesibilitas yang lebih baik, tentu akan menaruh perhatian besar pada perkembangan selanjutnya.

Usulan pembangunan jalan feeder tol ini sendiri muncul sebagai respons terhadap belum terhubungnya secara langsung wilayah selatan Riau dengan jaringan Tol Trans Sumatra yang membentang di bagian timur pulau. Keberadaan jalan tol penghubung ini diharapkan tidak hanya memangkas waktu tempuh dan biaya transportasi, tetapi juga berpotensi besar dalam menggeliatkan sektor ekonomi di kedua provinsi, terutama di wilayah-wilayah yang selama ini relatif terisolasi.

Penundaan proyek ini menjadi catatan penting dalam dinamika pembangunan infrastruktur di Indonesia. Di satu sisi, efisiensi anggaran negara menjadi prioritas, namun di sisi lain, proyek-proyek strategis yang memiliki dampak signifikan terhadap konektivitas dan pertumbuhan ekonomi daerah juga menjadi harapan masyarakat. Pemerintah daerah kini berada dalam posisi menunggu arahan lebih lanjut dari pusat, sambil terus berharap agar proyek yang telah diusulkan ini dapat segera direalisasikan demi kemajuan wilayah. (hen