Seksploitasi Era 90an

Era Keemasan Film Panas Indonesia


Rabu, 14 Mei 2025 - 18:11:40 WIB
Era Keemasan Film Panas Indonesia

RIAUIN.COM - Era akhir tahun 80an hingga medio tahun 90an adalah masa-masa terkelam industri film Indonesia. Tapi, era ini juga jadi masa-masa keemasan film-film panas Indonesia. Sebagian besar film yang beredar dan diproduksi adalah film-film yang bernuansa vulgar dan erotis. 

Apapun genre filmnya, entah itu film action, horror, komedi atau pun drama pastilah tidak lepas dari unsur seksploitasi, meski sebagian besar meramunya dalam genre drama. Dalam sejarah peradaban manusia semua yang berbau sensual tentu saja amat sangat menarik minat penonton. 

Promosi melalui poster-poster yang bernuansa vulgar yang menggugah birahi pun mudah saja ditemui dimana-mana pada waktu itu.  Poster-poster itu menampilkan pose sensual para aktris dengan kostum yang minim. 

Poster-poster itu terpampang terang-terangan di gedung-gedung bioskop kelas bawah dan bisa diakses oleh siapa saja, termasuk anak-anak. 

Sulit dibayangkan jika dimasa kini hal itu terjadi. Tentu saja akan menjadi heboh, kontroversi dan membuat tuduhan-tuduhan miring terhadap pemerintah dan negara karena melakukan pembiaran krisis moral.

Judul-judul filmya pun super klik bait, ambigu dan yang pasti erotis sehingga membuat orang penasaran dan berbondong ke bioskop.  Sebut saja beberapa judul yang memancing orang untuk melirik film-film itu, seperti Gadis Metropolis, Pergaulan Bebas, Gairah Nakal, Kenikmatan Tabu, Setitik Noda Manis, dan masih banyak lagi. 

Dari film-film tersebut, melambunglah nama-nama tenar bintang-bintangnya seperti Inneke Koesherawati, Kiki Fatmala, Sally Marcelina, Febby Lawrence, Windy Chindyana, Malfin Shayna dan Yurike Prastika. Pada masa itu mereka adalah bintangnya, nama mereka juga menjadi klik bait dan nilai jual tersendiri bagi para penggemar film panas 90an.

Lalu mengapa ekploitasi atas seks atau bisa disebut sebagai seksploitasi menjadi ramuan utama di sebagian besar film Indonesia pada waktu itu? Ternyata hal ini terjadi berkaitan erat dengan krisis multidimensi dalam industri film Indonesia kala itu.

Berbeda dari kondisi perfilman Indonesia era 70an, film era 90-an bisa disebut era krisis terparah perfilman Indonesia. Di era tahun 90an, banyak gedung-gedung bioskop legendaris yang mulai tidak laku, sepi peminat dan bahkan hampir bangkrut.

Ada dua faktor utama dan beberapa faktor lain yang membuat karut-marut perfilman kala itu. Pertama, dari sisi produksi. Kedua, dari sisi peredaran film ke bioskop di seluruh Indonesia yang tak merata. 

Bioskop-bioskop kelas satu mengutamakan film-film block buster  dari Hollywood untuk meraup untung.  Sementara bioskop kelas dua yang keterjangkauannya lebih luas, tidak berani menayangkan film-film itu karena mahal dan takut tidak balik modal.

Bagi produsen film Indonesia sendiri sulit untuk bersaing untuk membuat film-film berkualitas seperti film-film barat itu. Lalu pemikiran paling pragmatis tentu saja membuat film berbiaya murah dengan pasar kelas bawah. 

Solusinya adalah film yang mengandalkan nuansa-nuansa seksualitas yang gampang dijual daripada harus bertaruh dengan ketidakpastian. 

Produsen tidak ingin membuat film dengan produksi yang balik modalnya tidak jelas, sehingga memilih formula yang pasti-pasti saja, yaitu film yang kental “seksploitasi”. 

Film erotis berbujet rendah adalah cara mereka untuk menghasilkan keuntungan dengan cepat sekaligus menjaga industri perfilman tetap bertahan. 

Film-film seperti ini memiliki ciri khas tersendiri, diantaranya adalah adegan humor kasar bercampur vulgar dan karakter perempuan-perempuan seksi yang menonjol. 

Sebenarnya era film-film yang menampilkan perempuan-perempuan seksi dengan alur cerita untuk 17 tahun ke atas sudah ada jauh sebelum boomingnya film-film panas era 90an. 

Era tahun 70an, film dewasa Indonesia pertama berjudul Bernafas dalam Lumpur produksi tahun 1970 dibintangi oleh Suzanna dan disutradarai oleh Rahmat Kartolo. Film ini berkisah tentang Supinah, seorang wanita desa yang mencari suaminya ke Jakarta.

Sesampainya di Jakarta, dia diperkosa, ditipu, dan pada akhirnya dijerumuskan ke dalam prostitusi. Film ini memperlihatkan adegan-adegan plus-plus dengan cara yang cukup vulgar.

Kesuksesan Bernafas dalam Lumpur kemudian diikuti sama berbagai film-film yang tak kalah panas. Tiga tahun setelah kesuksesan Bernafas dalam Lumpur, dirilis film berjudul Bumi Makin Panas, karya Ali Shahab.

Jauh dari kisah tentang pemanasan global, Bumi Makin Panas lagi-lagi pakai formula yang kurang lebih sama dengan film Bernafas dalam Lumpur, yakni seorang cewek dengan masa lalu pahit, menjadi pelacur, dan harus berhadapan dengan hidup yang merana. 

Film produksi tahun 1973 ini bercerita tentang tokoh Maria, perempuan yang menjadi narapidana karena membunuh ayahnya, kemudian memutuskan untuk masuk ke dunia hitam dan menjajal profesi sebagai PSK setelah keluar dari penjara.

Tahun 1976 juga ada Inem Pelayan Seksi hasil karya sutradara Nya' Abbas Akup dengan pemerannya antara lain Doris Callebaute.

Pada era 80an, nama Eva Arnaz yang melejit. Dia membintangi film berjudul Midah Perawan Buronan dan Bumi Bulat Bundar. Jangan ditanya adegan seks di dalam kedua film tersebut. Ada adegan seks di dalam sungai, ada pula adegan yang cukup bikin 'panas dingin' banyak orang.

Kemudian di akhir tahun 80an, tepatnya 1988, muncul film Pembalasan Ratu Pantai Selatan. Film ini berkisah tenang Nyi Roro Kidul yang memanipulasi jasad wanita bernama Wanda diperankan oleh Yurike Prastika yang membuatnya hidup kembali. Lelaki mana pun yang bersetubuh dengan Wanda akan mati karena di dalam kemaluan sang cewek terdapat keris pusaka.

Pada saat berperan sebagai Wanda, Yurike pun tampil dengan pakaian berbahan tipis sehingga memperlihatkan bagian intimnya. Bahkan, ada juga sebuah adegan yang menampilkan bagian dada sang aktris secara terang-terangan tanpa sensor apapun. Hal ini kemudian mengundang protes dari sejumlah kalangan masyarakat, dan sempat dicekal.

Film ini di-remake dengan menggunakan beberapa aktor luar negeri dan dirilis kembali dengan judul Lady Terminator. Hasilnya, meski dicekal di Indonesia, film ini digemari sebagai film cult di luar negeri, seperti Amerika Serikat, Perancis, Italia, Jepang, dan Thailand.

Sejak itu, memasuki tahun 90an, film-film panas berbujet murah ini semakin marak di tanah air. Pemerintah Orde Baru pun sepertinya merasa dilema dengan hal semacam ini. Karena bagaimanapun harus diakui harus diakui bahwa film-film dengan adegan-adegan vulgar laku di pasaran dan jelas membantu industri perfilman yang sedang mati suri. Tentu saja ini juga berdampak pada meningkatnya geliat perekonomian. 

Lagipula, daripada sineas dan para pekerja kreatif memberikan kritik politik dan sindiran-sindiran satir pada pemerintahan Soeharto dalam film, tentu lebih baik membiarkan anak muda menikmati hal-hal lain seperti tontonan yang menggugah birahi itu. (ejk)