RIAUIN.COM - Ada tiga nama laki-laki yang pernah singgah di hati Presiden Ke 5 RI, Megawati Sukarnoputri. Yang pertama adalah seorang perwiran angkatan udara Lettu Udara Surindro Supijarso dan yang terakhir adalah seorang aktivis pemuda bernama Taufiq Kiemas.
Sedangkan di antara keduanya ada sosok bernama Hassan Gamal Ahmed Hassan, seorang mantan diplomat Mesir. Meski sangat singkat, hanya 3 bulan saja, tapi hubungan Megawati dengan mantan diplomat Mesir ini menyedot perhatian publik dan sangat menghebohkan di tahun 1972.
Majalah Tempo edisi 20, Juli 1972 menulis laporan tentang berita pernikahan Mega yang menghebohkan itu. Padahal pada masa itu Megawati sangat jarang tersorot publik. Berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain.
Kakaknya, Guntur, pernah aktif ikut kampanje untuk PNI dalam Pemilihan Umum tahun 1971. Adiknya, Rachmawati, pandai berpidato seperti selama hari-hari berkabung wafatnja Bung Karno.
Sedangkan adiknya yang lain, Sukmawati, menjadi mahasiswa seni tari di Lembaga Pendidikan Kesenian Djakarta serta pernah main drama untuk Teater Populer. Sementara Megawati jarang sekali tampil di depan publik.
Namun dibulan Juli itu, Megawati yang pendiam itu menjadi bulan-bulanan berita di berbagai koran. Dia yang kala itu masih berusia 25 tahun muncul di halaman pertama koran-koran Ibukota berkaitan pernikahannya dengan bekas diplomat Mesir bernama Hassan Gamal Ahmed Hassan.
Semua bermula dari iklan kecil di sebuah suratkabar Ibukota yang menampilkan pengumuman bahwa TELAH MENIKAH Hassan Gamal A.H. dengan Nj. Megawati Sukarnoputri pada tanggal 27 Juni 1972 di Kota Sukabumi.
Keesokan harinya kontan keluar bantahan dari ibunda Megawati, Ibu Fatmawati, bahwa tidak betul pernikahan itu. Fatmawati menolak mengakui pernikahan tersebut.
Demikian pula keluarga besar Bung Karno. Pada pagar rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya dipasang papan larangan masuk untuk Hassan. “Larangan itu hanya ditujukan untuk si Hassan, bukan orang lain,” kata adik Megawati, Rachmawati, tulis majalah Tempo.

Lalu Guntur Sukarnoputra menggugat keabsahan pernikahan itu ke Pengadilan Agama Jakarta dengan didampingi oleh Drs. Sumadji sebagai pengacaranja. Dasar gugatan adalah, suami Megawati yaang pertama, Letnansatu Udara Surendra Supijarso, belum pasti meninggal walaupun diberitakan hilang sejak 22 Djanuari 1970.
Wajar jika keluarga besar Fatmawati sewot kepada Hassan. Laki-laki Mesir yang tinggal tak jauh dari rumah Fatmawati itu memang bukan orang asing bagi keluarga Bung Karno. Hassan pertama kali datang sebagai wakil Kedutaan Mesir menyampaikan dukacita atas wafatnya Bung Karno.
Keluarga Bung Karno tidak curiga karena dia datang menyampaikan dukacita dan bahkan mewakili Kedutaan Mesir. Setelah kedatangan pertama, Hassan makin sering bertamu. “Kira-kira dia sudah berkunjung 50 kali selama kami kenal,” begitu kata Guntur.
Rupanya kedatangan Hassan punya maksud lain, yakni mendekati Megawati. Saat itu Megawati tengah berduka. Sudah berbulan-bulan tak ada kabar berita soal sang suami pertama yang hilang di perairan Biak. “Mulutnya selalu manis, apalagi ditambah muka yang tampan…. Rupanya itulah yang dia jual,” kata Fatmawati.

Keluarga Fatmawati tak setuju lantaran nasib Surindro belum jelas kabarnya, sementara Hassan Gamal merasa tak ada yang salah dengan pernikahan itu. Dia hanya mau membatalkan pernikahan jika Megawati sendiri yang menghendaki. Perbedaan pendapat inilah yang berujung sidang di Pengadilan Agama Jakarta. Pengadilan kemudian membatalkan pernikahan itu. Usia pernikahan Megawati-Hassan hanya berumur kurang dari tiga bulan.
Suami pertama Megawati, Letnan Satu Udara Surindro adalah pilot TNI AURI. Surindro, yang tinggi jangkung dan berwajah ganteng di kalangan rekan-rekannya kerap disapa dengan panggilan Pacul. Surindro adalah sahabat karib Guntur Soekarnoputra, kakak Megawati. Konon, Gunturlah yang menjodohkan Mega dengan Surindro.
Pada 1 Juni 1968, Surindro menikah dengan Megawati. Dari pernikahannya, dikarunia dua orang anak yang bernama Moh. Rizki Pratama dan Moh. Prananda Prabowo. Setelah menikah dengan Surindro, Megawati tinggal jauh dari Jakarta. Pasangan ini tinggal di kompleks Angkatan Udara, di Madiun, Jawa Timur.
Saat Megawati tengah mengandung Prananda, datang kabar duka. Pesawat Skyvan yang dipiloti Surindro dan mengangkut tujuh awak hilang di perairan Biak, Irian Jaya (kini Papua), pada 22 Januari 1970, persis sehari sebelum ulang tahun Megawati yang ke-24.

Saat itu suami Megawati itu tengah mempiloti pesawat Skyvan T Seven Zero One. Pesawat angkut militer dengan twin engine yang memiliki kemampuan untuk menurunkan pasokan, transportasi pasukan, dan menerjunkan pasukan trooper ini mampu terbang dan mendarat dengan lintasan pacu pendek.
Hilangnya suami pertama Megawati itu sempat menebarkan berbagai gosip di masyarakat, khususnya di kalangan pendukung Soekarno, bahwa Surindro sengaja dihilangkan oleh penguasa pada waktu itu. Maklum, kecelakaan itu hanya terpaut 4 tahun setelah jatuhnya Soekarno pada 1966.
Apalagi pada saat itu, rezim Orde Baru sedang getol-getolnya menghukum pendukung Soekarno. Bahkan keluarga Soekarno pun termasuk yang diisolir. Tapi gosip itu hanyalah gosip yang tidak bisa dibuktikan.
Akhirnya setelah berbulan-bulan pencarian terhadap Surindro, dan tujuh orang awak pesawatnya tak membuahkan hasil. akhirnya Surindro pun dinyatakan hilang. Lalu pada 9 Desember 1972, Kasau mengeluarkan surat keputusan yang menyatakan bahwa terhitung sejak tanggal 1 November 1972, Lettu Pnb Surindro Supjarso dinyatakan gugur dalam tugas dan dinaikan pangkatnya satu tingkat lebih tinggi menjadi Kapten Pnb Anumerta.
Pasca pembatalan pernikahan kedua Megawati. Akhirnya Mega menemukan cinta sejatinya. Lelaki itu adalah Mohammad Taufiq Kiemas, seorang aktifis di GMNI. Megawati dan Taufiq Kiemas menikah di akhir Maret 1973. Dari pernikahannya ini lahirlah Puan Maharani.
Konon, Taufik Kiemas sendiri jauh sebelum perkenalannya dengan Megawati sudah meyakini bahwa dirinya akan mempersunting putri sang proklamator itu. Suatu ketika di tahun 1966, ketika itu Taufik dipenjara oleh rezim orde baru. Di sel tahanan Kodam Sriwijaya di Palembang, dia dengan percaya diri menyampaikan ke sahabatnya bahwa suatu hari nanti dia akan mempersunting Megawati.
Taufiq menyodorkan foto Megawati yang ada di sebuah majalah dan menatakan bahwa perempuan itu adalah calon istrinya. Sahabatnya itu tentu saja hanya menganggap Taufiq berkelakar. Sahabatnya hanya menanggapi Taufik agar jangan bermimpi.
“Kita ini hanya rakyat biasa. Dia itu anak presiden,” begitu kata karibnya itu. Tapi Taufiq tak peduli. “Kalau kau tak percaya, lihat saja nanti,” kata Taufiq seperti dikutip dalam bukunya, Gelora Kebangsaan Tak Kunjung Padam.
Keluar dari sel tahanan Kodam Sriwijaya, Taufiq diminta angkat kaki dari Palembang. Di Jakarta, Taufiq, yang menjadi Ketua GMNI Palembang, makin erat menjalin hubungan dengan sesama aktivis nasionalis, seperti kakak Megawati, Guntur Soekarnoputra, dan Soerjadi.
Pada Juli 1971, Guntur mengajak Taufiq dan beberapa aktivis pemuda Jakarta, seperti Panda Nababan, berziarah ke makam Bung Karno di Blitar, Jawa Timur. Pulang dari Blitar, mereka mampir ke rumah Megawati di kompleks TNI Angkatan Udara, Madiun.
“Saat itulah pertama kalinya saya berkenalan dengan Taufiq,” kata Megawati. Kurang dari dua tahun kemudian, seperti yang disampaikan Taufik kepada sahabatnya, Megawati berhasil dipersuntingnya.
Sebenarnya, jauh sebelum pertemuan itu, bahkan sebelum Mega menikah dengan suami pertamanya, Guntur Soekarnoputra telah menceritakan sosok Taufiq Kiemas kepada Megawati. di tahun 1964, Guntur menggambarkan Taufiq sebagai teman di Perkumpulan Inti Pembina Jiwa Revolusi yang memiliki perilaku baik.
Si Bule, begitu Guntur menyebut nama panggilan Taufiq Kiemas karena yang bersangkutan berperawakan jangkung dan berkulit putih. Selain itu karena dia dinilai ganteng dan santun.

Akhir Maret 1973, Taufiq dan Megawati melangsungkan pernikahan dengan sebuah pesta sederhana di Panti Perwira, Jalan Prapatan, Jakarta Pusat.
Dalam resepsi itu, kedua mempelai dihias secara adat pengantin Palembang. Taufiq didampingi ibundanya, sedangkan Megawati didampingi Guntur Soekarnoputra dan Rachmawati Soekarnoputri. Kedua mempelai tak didampingi oleh ayah masing-masing yang memang telah tiada.
Di antara undangan yang hadir saat itu, ada tokoh-tokoh pendiri Republik Indonesia, antara lain Johannes Leimena, Soemarno, Soediro, Ali Sastromidjojo, Mh Isnaeni, Komodor (Udara) Suryadarma, dan Wilopo.
Megawati memasuki pernikahan keduanya itu dengan membawa dua putra dari Surindro, yakni Mohammad Rizki Pratama dan Mohammad Prananda. Kemudian sekitar setahun setelah menikah, yaitu pada tahun 1974, Taufiq dan Megawati dianugerahi seorang puteri, Puan Maharani. Kepada ketiga anaknya, Taufiq tak pernah membeda-bedakan kasih sayangnya. Sikap Taufiq membesarkan hati Megawati.

Rumah tangga Taufiq Kiemas dan Megawati tak bisa dilepaskan dari situasi politik yang terjadi kala itu. Pasangan suami istri itu mengarungi bahtera kehidupan yang penuh gejolak, yang tak jarang membadai karena keduanya merupakan musuh politik Orde Baru.
Status Taufiq sebagai soekarnois yang juga mantan tahanan politik dan Megawati yang merupakan putri tertua Bung Karno membuat rumah tangga mereka mendapat tekanan politik dari pemerintahan Orde Baru. Bahkan kehidupan sosial mereka dibatasi, yang berimbas pada kehidupan ekonomi mereka.
Berbagai rintangan mereka hadapi, mulai dari intimidasi dan penggembosan Mega sebagai Ketua Umum PDI yang berpuncak peristiwa 27 Juli 1996. Semua dihadapi pasangan ini dengan tegar. Ketegaran itu kemudian mengantarkan Megawati dan partainya menjadi pemenang pemilu 1999, dan kemudian di tahun 2002 putri sang Proklamator menjadi Presiden Republik Indonesia Kelima. (ejk)