Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani
RIAUIN.COM - 25 Januari 1937 majalah legendaris, Life yang diterbitkan di Amerika Serikat, memajang foto seorang putri bangsawan dari Hindia Belanda. Dia adalah putri dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VII dan Gusti Kanjeng Ratu Timur.
Nama lengkap sang putri adalah Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani. Di majalah itu, foto sang putri tampak tengah menari dengan gemulai.
Gusti Nurul saat itu masih berusia 15 tahun, dia tengah menari disaksikan oleh Ratu Belanda Wilhelmina berserta para raja dan ratu dari berbagai negara.
Gusti Nurul ikut pementasan tari di Belanda sebagai kado untuk pernikahan Putri Juliana dengan Pangeran Benhard. Gusti Nurul dan Ayahnya memang diundang khusus ke Belanda oleh Ratu Wilhelmina untuk acara kenegaraan itu.
Sebagai kado dari Mangkunegara untuk Putri Juliana dan suami, Gusti Nurul menari dengan diiringi musik gamelan yang dimainkan langsung dari Istana Mangkunegaran. Musik gamelan tersebut disiarkan langsung melalui radio Solosce Radio Verenigin.
Di istana mangkunegaran adik Gusti Nurul ikut menari sebagi pedoman bagi para pemain gamelan agar seiriama dengan gerakan Gusti Nurul yang sedang menari nun jauh di Belanda sana.
Pementasan tari yang dibawakan Gusti Nurul itu kemudian ramai diwartakan suratkabar Belanda. Bagaimana sebuah seni tari dari Timur Jauh dibawakan dengan sangat elok oleh seorang putri raja telah memukau semua mata orang-orang Eropa.
Nama Gusti Nurul kemudian melejit dan dikenal luas seantero Hindia-Belanda. Kepandaiannya dalam lenggok tari, didukung juga dengan parasnya yang cantik, membuat banyak pria kesengsem dengannya.
Tak hanya pandai menari, gadis cantik ini juga punya kegemaran berkuda. Setiap sore saat sang putri sedang latihan berkuda, sontak membuat para lelaki berkerumun. Mata para lelaki itu tak berkedip melihat Gusti Nurul sedang berkuda.
Gusti Nurul memang multi talenta, selain pintar menari dan jago berkuda, dia juga menonjol dalam kemampuan sastra. Tak hanya itu, sang putri juga sangat mendalami ilmu jamu-jamuan dan kosmetik Tradisional, itu membuat kecantikannya selalu terjaga secara alami.
Martha Tilaar dalam bukunya, Kecantikan Perempuan Timur, menjelaskan bahwa Gusti Nurul sedari muda memang sudah mempelajari soal jamu dan kecantikan. Martha Tilaar sendiri, yang terkenal sebagai pakar kecantikan Indonesia pun belajar dari seorang Gusti Nurul.
Kecantikan dan berbagai talenta yang dimiliki sang Putri raja itu ternyata tidak hanya membuat lelaki-lelaki kebanyakaan terpesona. Ternyata banyak nama-nama besar pemimpin negeri ini yang jatuh hati padanya. Mulai dari Panglima Tentara, Sultan, Perdana Menteri dan bahkan Presiden jatuh hati padanya.
Beberapa pangeran dari Keraton Surakarta juga menaruh hati padanya. Salah satunya Kolonel Gusti Pangeran Haryo Djatikusumo—Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pertama. Sang Kolonel mencoba meminangnya. Tapi, Gusti Nurul memiliki prinsip anti poligami. Djatikusumo yang telah beristri, ditolaknya. Meski hidup di lingkungan keraton yang kental dengan tradisi selir, tapi Gusti Nurul memilih jalan hidup dengan pemikiran yang melampaui zamannya. Dia menolak dipoligami.
Tak hanya panglima tentara, tercatat sejumlah nama besar pernah jatuh hati padanya. Ada nama Sultan Hamengkubuwono IX yang sudah memiliki beberapa istri, berniat untuk meminangnya. Gusti Nurul tak bergeming, ia tak mau dipersunting. Ayahnya yang menceritakan kepada Gusti Nurul, bahwa Hamengkubuwono IX berniat untuk meminangnya, namun pinangan itu ia tolak.
"Alasannya sederhana, karena beliau telah memiliki istri, bahkan selir" kata Gusti Nurul dalam buku biografinya yang berjudul Goesti Noeroel: Straven naar Geluk (Mengejar Kebahagiaan), terbitan Kompas tahun 2014. Gusti Nurul tentu tahu jika Sultan HB IX sudah punya istri. Pantang baginya, seorang perempuan berpendidikan tinggi di zaman kolonial, dimadu seperti yang dialami Kartini.
Ada seorang pemuja Gusti Nurul yang cukup unik. Dia juga pembesar negeri ini. Dia adalah Sutan Sjahrir, Sang Perdana Menteri Republik Indonesia Pertama. Setiap rapat kabinet digelar di Yogyakarta, ia selalu mengutus sekretaris pertamanya, Siti Zoebaidah Oesman, ke Pura Mangkunegaran untuk khusus mengantar hadiah yang dibelinya di Jakarta. Hadiah dari Sjahrir itu biasanya berupa kain sutra, tas, atau jam tangan. Dan selalu terlampir sebuah surat didalamnya. Gusti Nurul juga rajin membalas surat dari Sjahrir.
Meski tampak jatuh hati, Sutan Sjahrir yang dikenal sebagai pentolan Partai Sosialis Indonesia (PSI) itu tak pernah menyambangi Gusti Nurul ke Pura Mangkunegaran. Tapi setelah Gusti Nurul menikah Sjahrir pernah datang ke rumah. Gusti Nurul mengaku bahwa ketika sesi foto bersama, Sjahrir selalu mengambil posisi ada di dekatnya, namun suaminya tidak cemburu. Suaminya tau siapa saja lelaki yang menaksir dirinya.
Gusti Nurul pernah diundang ke Istana Cipanas oleh Sukarno. Dia kemudian datang bersama ibunya, Gusti Kanjeng Ratu Timoer. Di istana Cipanas itu, pelukis Basuki Abdullah diminta oleh Sukarno untuk melukis Gusti Nurul. Kemudian lukisan Sang Putri raja itu dipajang Sukarno di ruang kerjanya.
“Menurut kabar beberapa orang, Bung Karno pun menaruh simpati padaku. Namun aku sendiri tak pernah mendengar pernyataan ungkapan isi hati Bung Karno. Tapi, aku mendengar itu dari Bu Hartini, istrinya. Menurutku, Bung Karno hanya sebatas mengagumi saja,” jelas Gusti Nurul.
Setelah Gusti Nurul menikah, Bung Karno sering berkelakar bahwa dia kalah cepat dari suami Gusti Nurul. Lalu siapa lelaki yang sangat beruntung mempersunting sang putri?
Dia adalah Raden Mas Suyarso Suryo surarso. Dia bukan pejabat tinggi negara macam Sukarno atau Sjahrir, juga bukan raja seperti sultan Hamengkubuwono IX. Dia adalah kepala Inspektorat Kavaleri Angkatan Darat pertama. Pangkatnya letnan kolonel. Meski bukan pejabat tinggi, dia bukan perwira militer sembarangan.
Suryo adalah lulusan Akademi Militer Kerajaan Belanda di Breda, dan pernah beberapa tahun berdinas di tentara kerajaan Belanda. Dia pernah ditempatkan di Proef Batalion Vechtwagens di Bandung dan selanjutnya pindah lagi ke Batalion Infanteri di Bogor.
Tanggal 24 Maret 1954, adalah hari patah hati nasional bagi para pemuja gusti Nurul. Di tanggal itu dia resmi menjadi istri Letkol Suryo. Setelah menikah dengan Suryo, Gusti Nurul meninggalkan kehidupan keraton.
Gusti Nurul meninggalkan kompleks Istana Mangkunegaran, meninggalkan abdi dalem yang begitu setia, meninggalkan suasana keraton yang begitu mewah untuk mengikuti tugas suami dan tinggal di rumah dinas. Dia begitu menikmati kehidupan barunya, Gusti Nurul diperlakukan sama dengan istri prajurit yang lain. Tidak ada lagi yang memanggilnya Gusti, yang ada hanya ibu, jeng atau mbakyu.
Gusti Nurul setia mengikuti suaminya yang sering berpindah-pindah dinas. Mereka sempat pindah Amerika Serikat, saat sang suami menjadi Atase Militer di Washington DC. Kemudian Gusti Nurul memilih tinggal bersama suaminya di Bandung.
Gusti Nurul meninggal dunia pada 10 November 2015 di Bandung. Dia tutup usia di umur 94 tahun dengan meninggalkan 7 orang anak, 14 cucu dan 1 cicit. (ejk)