Ketika IMF Mendorong Soeharto Ke Jurang Kehancuran

Langkah Culas IMF Gulingkan Soeharto


Jumat, 02 Mei 2025 - 13:36:21 WIB
Langkah Culas IMF Gulingkan Soeharto

RIAUIN.COM- Kamis, 15 Januari 1998 di Jl.Cendana, Direktur IMF Michel Camdessus datang membawa sebuah dokumen untuk ditandatangani Soeharto. Di hadapan awak media, Soeharto terlihat menunduk sembari membubuhkan tanda tangan di dokumen itu.

Sementara Camdessus, berdiri menatap tajam Soeharto sambil menyilangkan tangan di dada. Gestur sang bos IMF ini mengesankan keangkuhan yang seakan memberi makna kalau Indonesia sudah tak berdaya dan telah jatuh ke tangan IMF. Dan adegan itu terabadikan dalam foto-foto itu yang sampai saat ini masih diperbincangkan publik.

Usai membubuhkan tanda tangan, Soeharto kemudian memberikan pidato singkat bahwa ekonomi negara akan pulih dalam waktu cepat. Dana segar senilai US$ 43 miliar akan datang. Camdessus juga memberikan pidato formalnya. Keduanya lantas berjabat tangan sambil melempar senyum. 

Peristiwa bersejarah ini dianggap sebagai "takluknya" rezim Orde Baru terhadap gejolak ekonomi yang berat. Soeharto akhirnya menyerah dan minta bantuan IMF,  setelah perekonomian Indonesia dihajar krisis parah yang membuat keuangan negara berdarah-darah.

76 hari sebelum kejadian yang dianggap bersejarah itu, Soeharto lewat “tangan” Menteri Keuangan Mar'ie Muhammad dan Gubernur Bank Indonesia Soedradjad Djiwandono sebenarnya sudah mengambil langkah pendahuluan untuk mengajukan diri sebagai "pasien" IMF.

Direktur IMF Michel Camdessus & Soeharto saat penandatanganan LOI bantuan IMF

Kedua orang itu diberi tugas oleh Soeharto memohon bantuan dalam sebuah surat proposal program paket penyelamatan dari krisis, pada 31 Oktober 1997. IMF setuju memberikan paket bantuan keuangan multilateral secara bertahap dalam jangka waktu 3 tahun senilai 43 miliar dolar AS. 

Ibarat sebagai "dokter", IMF saat itu mendiagnosis penyakit Indonesia mengalami guncangan moneter "skala sedang" akibat goyahnya kepercayaan pelaku pasar terhadap ekonomi Indonesia sebagai imbas dari krisis Thailand.

Tapi setelah terjadi kesepakatan, paket kebijakan IMF bukan menyelamatkan perekonomian Indonesia tetapi malah mendorong ke arah kehancuran. Resep IMF ini mengakibatkan banyak negara-negara yang menjadi pasien mereka ekonominya malah semakin parah.

Paket pemulihan ekonomi ala IMF secara garis besar meliputi tiga kebijakan: 1) pengetatan sektor moneter, 2) pembenahan bank, 3) pengetatan fiskal. Namun, kenyataannya semua itu gagal total. Resep dan paket pemulihan ekonomi ala IMF itu pada kenyataannya tidak cocok diterapkan untuk Indonesia. 

Sang dokter (IMF) faktanya salah memberikan diagnosis dan obat terhadap pasiennya. Skema yang disepakati IMF dinilai membawa Indonesia makin liberal dan tak ada tanda-tanda perbaikan.

IMF melihat masalah Indonesia dari kacamata Barat yang sama sekali keliru. Seperti permasalahan subsidi BBM, paket ekonomi IMF mengharuskan Indonesia mencabut subdisi. Indonesia setuju tapi bukan perbaikan yang terjadi. 

Pengurangan subsidi BBM justru menyebabkan jurang resesi makin dalam karena rakyat jadi semakin susah. Yang terjadi kemudian malah menyulut kerusuhan sosial dan politik. Dan Soeharto jatuh.

Camdessus sendiri dalam sebuah kesempatan pernah mengatakan bahwa IMF punya andil dalam menciptakan kondisi Soeharto lengser dari jabatannya. Tapi belakangan sang bos IMF meralat dan meluruskan ucapannya sendiri, bahwa IMF tak bermaksud demikian.

Sebelum jatuh ke tangan IMF, Presiden Soeharto sebenarnya sudah melakukan langkah-langkah yang dianggap strategis untuk mengatasi krisis. Dia mengeluarkan kebijakan penghematan devisa dan mengurangi pembelian dolar AS oleh BI. 

Dia juga menunda pembangunan proyek-proyek besar yang menggunkan dollar senilai Rp39 triliun. Selain itu, pemerintah orde baru juga menaikkan suku bunga BI untuk merangsang orang melepas dolar dan membeli SBI. Tapi kebijakan ini membuat biaya modal jadi makin mahal.

Meski banyak negara 'tunduk' pada IMF, satu-satunya negara Asia yang menolak bantuan IMF adalah Malaysia. PM Malaysia Mahathir Mohammad menolak kehadiran IMF dan melakukan kebijakan fiskal dan moneternya sendiri. Cara ini terbukti ampuh. Tidak seperti Indonesia, krisis di Malaysia tidak berlarut dan membuatnya menjadi negara pertama yang bangkit dari krisis.

Sedangkan Indonesia karena manut pada IMF situasi di Indonesia makin tidak karuan. Di sisi lain, Soeharto masih tetap memaksakan diri untuk mencalonkan kembali sebagai Presiden RI untuk yang ke-7 kalinya. Bahkan dia memilih kroni-kroninya di posisi penting.

Salah satunya mengangkat anaknya, Siti Hardiyanti Rukmana sebagai Menteri Sosial dan Bob Hasan sebagai Menteri Perindustrian. Di bidang militer, dia mengangkat mantan ajudannya, Jenderal Wiranto, sebagai Panglima ABRI. Lalu, menantunya, Letjen Prabowo Subianto, diserahi jabatan strategis sebagai Panglima Kostrad.

Langkah Soeharto ini malah membuat masyarakat semakin muak dan faktanya justru semakin menurunkan kepercayaan publik. Masyarakat ingin suksesi kepemimpinan nasional. Semua ini mencapai puncak pada 21 Mei 1998 ketika kekuasaan Soeharto tumbang.

Sebelum Indonesia menyepakati bantuan baru IMF pada 15 Januari 1998 itu, sebenarnya ada jalan lain bagi Presiden Soeharto untuk mengatasi krisis moneter ketika itu. Seorang Ekonom dan Guru Besar Johns Hopkins University AS bernama Steve Hanke mengusulkan sebuah sistem yang disebut sebagai Currency Board System (CBS). 

CBS adalah sistem yang dilaksanakan di negara dengan kurs mata uang yang lemah, dan sistem ini bekerja dengan mematok nilai tukar secara tetap antara mata uang lokal dengan mata uang lain, seperti rupiah terhadap dollar.

Sejak awal tahun 1998, Hanke diangkat menjadi penasihat ekonomi Presiden Soeharto. Karena inilah dia punya keistimewaan berlebih: menjadi satu-satunya orang yang bebas bicara kepada Soeharto yang dikenal otoriter dan mampu mengintervensi kebijakan ekonomi Indonesia. Menariknya lagi, Soeharto pun 'manut' kepada Hanke.

Hanke menyebut bahwa sistem CBS adalah jalan terbaik untuk Indonesia saat itu dan diprediksi bakal berhasil. Sebab, tidak ada satupun negara yang gagal saat menerapkan CBS ini.

Kepada Soeharto, Hanke bercerita bahwa kebijakan ini sudah sukses dilakukan di sejumlah negara berkembang, seperti Bulgaria, Bosnia, Lithuania, dan Argentina. Bahkan, di negara terakhir posisi Hanke juga diangkat sebagai penasehat keuangan pemerintah. Jadi, bukan tanpa alasan dan keraguan apabila Soeharto memilih skema CBS.

Soeharto pun sangat setuju dengan sistem CBS dan langsung mengumumkannya secara resmi di pidato kenegaraan. Pengumuman itu membuat kurs rupiah terhadap dollar menguat 28% dan ekonomi berhasil bergairah.

Sesaat setelah pengumuman, IMF dan pemerintah AS marah. Mereka merasa ditikung atas sikap Soeharto. Tak lama kemudian, Presiden AS Bill Clinton menelepon Soeharto pada 9 Januari 1998. Clinton mendesak Soeharto segera bekerjasama dengan IMF. 

Soeharto terlanjur bingung dan tertekan. Dia ingin menyetujui kebijakan CBS, tetapi dia juga ditekan oleh AS. Hingga akhirnya presiden manut dan menyepakati bantuan dana US$43 miliar dari IMF. Dan inilah awal mula Indonesia 'masuk neraka'.

Steve Hanke pun terang-terangan menyebut bahwa IMF dan pemerintah AS sengaja ingin menjatuhkan Soeharto, yang kemudian benar terbukti ada 'tangan dingin' Paman Sam dalam keruntuhan Orde Baru. Hanke juga menyebut bahwa IMF cuci tangan atas 'dosa-dosanya' di krisis moneter 1998, mereka menulis ulang makalah sejarah krisis 1998 yang mereka publikasikan sendiri. 

Di saat posisi Soeharto sedang kritis berada di tepi jurang, IMF bukan menolong tapi malah mendorong Soeharto masuk ke dalam jurang. Kebijakan IMF berdampak fatal terhadap Indonesia, pencabutan subsidi semikin menghancurkan lini sektor ekonomi dan harga yang harus dibayar Soeharto sangat mahal. 

Harga bahan pokok naik, PHK dimana-mana, mata uang rupiah hancur lebur dan rakyat yang mulai bosan terhadap pemerintahan Soeharto menjadi alasan yang tepat bagi rakyat untuk turun ke jalan. 

Namun, tidak ada yang menyangka juga kalau aksi demonstrasi rakyat itu berujung pada kerusuhan terbesar di abad ke-20. Sehari setelah penembakan empat mahasiswa Trisakti yang tidak bersalah, emosi rakyat akhirnya meledak.

Kerusuhan hebat melanda Jakarta dan sekitarnya. Rakyat diprovokasi untuk merusak, menjarah serta membakar bangunan dan kendaraan. Polisi dan militer kewalahan mengatasinya. 

Kerusuhan bermula di Grogol, sekitar Trisakti dan Mall Ciputra. Rakyat yang terprovokasi melempari aparat dengan batu dan merusak semua yang dilihatnya. Mobil yang terparkir di Mall Ciputra hangus terbakar.

Tidak terhitung berapa kerugian materiil dan korban jiwa di hari itu. Yang pasti hari-hari setelahnya situasi semakin tidak karuan. Penjarahan dan kebakaran ada dimana-mana. 

Penasehat militer presiden Soeharto Letjen TNI Sintong Panjaitan mencatat sebanyak 4.939 bangunan rusak dibakar yang kerugiannya mencapai Rp 2,5 triliun. Ini belum termasuk ribuan mobil dan motor yang dirusak dan dibakar, serta korban jiwa, baik itu yang terluka, dan meninggal. Tak hanya itu, etnis minoritas juga mengalami intimidasi dan bahkan dirudapaksa.

Kerusuhan yang terjadi kala itu memiliki pola serupa: menyasar pusat perdagangan yang dimiliki etnis Tionghoa. Ini terjadi di beberapa kawasan yang kental dengan etnis Tionghoa, seperti Glodok, Roxy, Pluit, Senen, dan Mangga Besar.

Lalu, mengapa Tionghoa menjadi target amukan massa dan kerusuhan berubah jadi sentimen rasial? Saat itu memang terjadi stereotip terhadap orang Tionghoa karena mereka kaya raya, dan dekat dengan penguasa sehingga patut untuk dibenci . 

Stereotip kaya ini terjadi karena etnis Tionghua memang banyak berurusan di sektor bisnis, semisal berdagang dan berwirausaha, sehingga mereka lebih kaya dari pada para pekerja biasa. Sedangkan stereotip kedekatan dengan penguasa disebabkan karena saat itu Soeharto memang sangat dekat dengan taipan Liem Sioe Liong. 

Kedua aspek ini kemudian membentuk pandangan masyarakat bahwa etnis Tionghoa sudah pasti kaya raya dan dekat dengan penguasa. Maka, masyarakat pun menjadikan seluruh etnis Tionghoa sebagai sasaran. 

Liem Sioe Liong saat itu adalah orang terkaya di Indonesia. Kedekatannya dengan presiden membuat bisnisnya lancar, sehingga menimbulkan kebencian. Rumahnya di kawasan Pluit dan Roxy dibakar massa. 

Sayang, banyak yang salah sasaran. Etnis Tionghua yang tidak tau apa-apa terkena imbasnya. Banyak yang rumahnya dihancurkan oleh massa hanya karena dia keturunan Tionghoa.

Agar aman bahkan mereka harus menuliskan tulisan "Saya Pribumi" di depan toko atau rumahnya supaya tidak dirusak. Peristiwa ini kemudian menjadi pukulan telak bagi pemerintahan Soeharto. Hingga akhirnya dia pun lengser pada 21 Mei 1998. ***