Gubri Abdul Wahid
RIAUIN.COM – Provinsi Riau diprediksi akan memasuki musim kemarau panjang mulai Mei mendatang, yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di berbagai wilayah.
Menanggapi potensi tersebut, Gubernur Riau Abdul Wahid menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Riau telah menetapkan status siaga darurat Karhutla. Namun, jika situasi menunjukkan peningkatan kebakaran yang signifikan, status tersebut bisa dinaikkan menjadi tanggap darurat.
Langkah ini diambil setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan bahwa musim kering di Riau akan berlangsung mulai Mei dan mencapai puncaknya pada bulan Juni.
Gubernur Riau mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk instansi pemerintahan dan lembaga vertikal, untuk memperkuat koordinasi dan sinergi dalam menghadapi ancaman Karhutla di tahun 2025.
“Penanganan Karhutla tidak bisa dilakukan secara parsial. Semua pihak harus terlibat dan bekerja sama. Tugas kita adalah memastikan penanganan ini berjalan efektif dan terkoordinasi,” tegasnya pada Sabtu (19/4/2025).
Ia juga menekankan bahwa Pemprov Riau berkomitmen penuh dalam mengantisipasi Karhutla demi menghindari bencana besar seperti yang pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya.
“Kita harus siap menghadapi kemungkinan terburuk. Jika Karhutla terjadi, kita harus tanggap dan bertindak cepat. Kami berharap semua pihak melaksanakan peran masing-masing dengan maksimal,” lanjutnya.
Gubernur juga mengingatkan pentingnya kerja kolektif dan tidak saling menyalahkan dalam menghadapi situasi darurat.
“Semua perangkat daerah harus ambil bagian dalam persiapan ini. Tidak boleh ada yang lepas tangan. Dengan semangat kebersamaan dan koordinasi yang kuat, kita optimis bisa menangani Karhutla dengan lebih baik,” ungkapnya.
Sejak awal tahun, berbagai upaya pencegahan telah dijalankan, mulai dari pemantauan hotspot, patroli, hingga pemadaman titik api. Penetapan status siaga darurat juga telah melalui sejumlah rapat koordinasi sejak Maret lalu.
Beragam kegiatan besar akan digelar sepanjang Mei, seperti Apel Siaga Karhutla, Fun Run Karhutla, hingga Jambore Karhutla. Selain itu, pembentukan Satgas Karhutla tingkat nasional dan pengaktifan Posko Utama terus dipersiapkan.
Dalam menghadapi musim kemarau hingga Oktober nanti, strategi pemadaman baik melalui darat maupun udara akan diperkuat. Penegakan hukum, patroli, edukasi masyarakat, dan layanan kesehatan juga akan ditingkatkan.
Operasi Modifikasi Cuaca tahap kedua dijadwalkan berlangsung Oktober, sementara evaluasi terhadap status siaga darurat akan dilakukan pada November.
Dengan langkah terukur ini, Pemprov Riau menargetkan penurunan signifikan dalam kejadian Karhutla dan peningkatan keterlibatan masyarakat dalam penanggulangan bencana.
“Kami ingin seluruh pihak terus memperbarui informasi dan meningkatkan kewaspadaan agar mitigasi Karhutla dapat dilakukan secara maksimal,” tutup Gubernur. (*)