Ilustrasi
Ditulis oleh: Hendrianto (wartawan riauin)
CERAMAH Ramadan Gubernur Jawa Barat Dedy Mulyadi tentang "germo politik" telah menyulut diskusi panas, khususnya terkait praktik korupsi dan penyalahgunaan anggaran yang merajalela.
Analogi yang digunakannya, yaitu membandingkan politik dengan prostitusi, memang terasa pedas dan kontroversial, tetapi juga sangat relevan dengan realitas yang terjadi di Indonesia, termasuk di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing).
Dalam ceramahnya, Dedy Mulyadi mengkritik para "germo politik" yang memperdagangkan proyek, jabatan, dan kebijakan demi kepentingan pribadi atau kelompok, bukan demi kesejahteraan rakyat.
Hal ini mengakibatkan APBD dan APBN yang seharusnya digunakan untuk membangun daerah justru menjadi lahan basah bagi para koruptor. Konsep anggaran berbasis syariah yang diusulkannya, dengan mengacu pada prinsip zakat, menawarkan solusi alternatif yang lebih adil dan transparan.
Kondisi di Kuansing saat ini pun tidak jauh berbeda. Beberapa kasus korupsi yang melibatkan pejabat daerah telah mencoreng citra pemerintahan dan merugikan masyarakat.
Proyek-proyek pembangunan yang seharusnya memberikan manfaat bagi rakyat justru menjadi ajang korupsi dan penyalahgunaan anggaran. Akibatnya, banyak infrastruktur yang terbengkalai, pelayanan publik yang buruk, dan ketimpangan sosial yang semakin lebar.
Oleh karena itu, ceramah Dedy Mulyadi ini menjadi tamparan keras bagi para pejabat di Kuansing untuk segera berbenah dan menghentikan praktik "germo politik".
Konsep anggaran berbasis syariah yang diusulkannya dapat menjadi inspirasi untuk menciptakan sistem pengelolaan keuangan daerah yang lebih transparan, akuntabel, dan berpihak pada rakyat.
Selain itu, perlu adanya pengawasan yang ketat dari masyarakat dan aparat penegak hukum untuk mencegah terjadinya korupsi dan penyalahgunaan anggaran.
Penting bagi seluruh elemen masyarakat Kuansing untuk bersatu padu melawan praktik "germo politik" dan mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berintegritas.
Hanya dengan cara inilah Kuansing dapat keluar dari lingkaran setan korupsi dan mencapai kemajuan yang berkelanjutan. (***)