Ratik Onjai: Dzikir Malam yang Hilang, Warisan Spiritual Kuansing yang Merindukan Cahaya


Sabtu, 01 Maret 2025 - 13:14:40 WIB
Ratik Onjai: Dzikir Malam yang Hilang, Warisan Spiritual Kuansing yang Merindukan Cahaya

Foto: Mesjid Jam'i IV Koto Lubuk Ambacang

Ditulis: Hendrianto

DI sudut-sudut desa di Kuantan Singingi, dahulu kala, gemuruh dzikir menggema di surau-surau. Sebuah tradisi spiritual unik bernama Ratik Onjai, sebuah ritual dzikir malam yang berlangsung dalam durasi panjang, menjadi penanda kekayaan budaya dan religiusitas masyarakat setempat. Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi luhur ini kian meredup, nyaris hilang ditelan zaman.

Ratik Onjai, secara harfiah, dapat diartikan sebagai "dzikir malam yang berulang-ulang". Ritual ini biasanya dilakukan setelah shalat Isya, berlangsung hingga larut malam, bahkan menjelang fajar. Para peserta, yang terdiri dari laki-laki dewasa, duduk bersila dalam lingkaran, dipimpin oleh seorang tokoh agama atau tetua adat. Mereka melantunkan kalimat-kalimat thayyibah, seperti "Laa ilaaha illallah", "Subhanallah", dan "Allahu Akbar", dengan suara yang syahdu dan berirama.

Dzikir dalam Ratik Onjai tidak hanya sekadar ucapan lisan, tetapi juga melibatkan penghayatan mendalam. Setiap kalimat diresapi maknanya, diulang-ulang hingga merasuk ke dalam hati. Suasana khusyuk dan hening menyelimuti surau, menciptakan koneksi spiritual yang kuat antara peserta dengan Sang Pencipta.

Lebih dari sekadar ritual keagamaan, Ratik Onjai juga memiliki fungsi sosial yang penting. Tradisi ini menjadi wadah untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga desa. Melalui kebersamaan dalam dzikir, mereka saling menguatkan, berbagi pengalaman, dan mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi. 

Selain itu, Ratik Onjai juga menjadi sarana pendidikan informal bagi generasi muda. Mereka belajar tentang nilai-nilai agama, etika, dan tradisi luhur dari para tetua adat.

Namun, ironisnya, tradisi yang kaya makna ini kini terancam punah. Perubahan gaya hidup, modernisasi, dan kurangnya minat generasi muda menjadi faktor utama penyebabnya. Surau-surau yang dulu ramai dengan lantunan dzikir kini sunyi senyap. Para tetua adat yang menjadi penjaga tradisi pun semakin sedikit.

Hilangnya Ratik Onjai bukan hanya kehilangan sebuah tradisi, tetapi juga kehilangan warisan spiritual yang berharga. Dzikir malam yang panjang ini memiliki potensi untuk menenangkan jiwa, membersihkan hati, dan memperkuat iman. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang penuh tekanan, Ratik Onjai dapat menjadi oase spiritual yang menyejukkan.

Oleh karena itu, upaya pelestarian Ratik Onjai perlu segera dilakukan. Pemerintah daerah, tokoh agama, dan masyarakat Kuansing perlu bekerja sama untuk menghidupkan kembali tradisi ini.

Ratik Onjai adalah bagian dari identitas budaya Kuansing yang unik dan berharga. Jangan biarkan tradisi ini hilang begitu saja. Mari kita jaga dan lestarikan warisan leluhur ini agar tetap bersinar di tengah zaman yang terus berubah. (***)